SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM – Ketika biaya liburan semakin mahal dan tekanan ekonomi masih dirasakan banyak kalangan, masyarakat ternyata tidak harus pergi jauh untuk menemukan ketenangan.
Di sudut sederhana Kelurahan Begajah, Kecamatan Sukoharjo, terdapat ruang terbuka yang menawarkan suasana syahdu dengan biaya nyaris nol rupiah.
Di bawah rindangnya pohon trembesi yang telah berdiri puluhan tahun, pengunjung dapat menikmati semilir angin, suara gemericik air Saluran Induk Colo Timur, serta secangkir kopi hangat yang menemani sore hari.
Lokasi ini perlahan menjadi alternatif wisata sederhana bagi warga yang ingin melepas penat tanpa harus menguras dompet.
Berada sekitar satu kilometer ke arah timur dari simpang empat Begajah, kawasan ini menawarkan pemandangan yang berbeda dari suasana perkotaan. Tidak ada tiket masuk, tidak ada wahana berbayar, dan tidak ada hiruk-pikuk keramaian wisata modern.
Yang tersedia justru keteduhan pepohonan besar, aliran air yang tenang, serta warung-warung sederhana yang menyediakan kopi, teh hangat, soto, hingga aneka gorengan dengan harga terjangkau.
Staf Adyatama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama Disporapar Sukoharjo, Agus Widanarko atau akrab disapa Danar, menilai lokasi tersebut memiliki potensi sebagai ruang rekreasi murah yang dekat dengan masyarakat.
"Ini merupakan spot menarik untuk dikunjungi, sekadar melepas penat setelah bekerja namun masih berada di sekitar kota," ujarnya.
Healing Tidak Harus Mahal
Di tengah tren wisata yang sering identik dengan biaya tinggi, lokasi ini justru menawarkan konsep yang berlawanan. Pengunjung dapat datang tanpa harus mengeluarkan biaya masuk.
Bahkan jika tidak membeli makanan atau minuman sekalipun, masyarakat tetap dapat menikmati suasana alam yang tersedia secara gratis.
"Ya tidak ada pungutan biaya karena ini tempat terbuka. Ada warung dengan aneka minuman dan makanan. Tidak jajan pun tidak apa-apa," kata Danar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap ruang publik yang nyaman semakin penting, terutama ketika kondisi ekonomi membuat sebagian orang harus lebih selektif dalam mengatur pengeluaran.
Alih-alih berlibur ke destinasi jauh, banyak warga kini memilih tempat sederhana yang mampu memberikan ketenangan tanpa beban biaya besar.
Waktu Terbaik Menikmati Suasana
Menurut Danar, waktu terbaik berkunjung adalah pagi dan sore hari. Pada jam-jam tersebut udara terasa lebih sejuk dan suasana jauh lebih tenang.
Ketika matahari mulai condong ke barat, cahaya keemasan yang menembus sela-sela daun trembesi menciptakan panorama yang memanjakan mata. Pantulan sinar matahari di permukaan Saluran Induk Colo Timur menambah kesan damai yang sulit ditemukan di tengah kepadatan aktivitas sehari-hari.
"Direkomendasikan kalau pagi atau sore. Suasana lebih tenang dan syahdu," ungkapnya.
Surga Kecil bagi Pemancing dan Pesepeda
Tak hanya menjadi tempat bersantai, kawasan ini juga menarik bagi para penghobi memancing. Aliran Saluran Induk Colo Timur yang cukup besar kerap dimanfaatkan warga untuk mencari ikan sambil menikmati suasana alam.
Selain itu, banyak pesepeda dan pengendara yang sengaja berhenti sejenak untuk beristirahat di bawah naungan pohon trembesi. Keberadaan jembatan dengan pagar berwarna biru di sekitar lokasi juga menjadi latar menarik bagi mereka yang ingin mengabadikan momen.
Ruang Sederhana yang Menjadi Oase
Baca Juga: Bukan Cuma Generasi Lawas, Anak Muda Solo Ikut Gandrung Berburu Barang 'Vintage' di Balekambang
Di tengah maraknya destinasi wisata yang berlomba menawarkan kemewahan dan sensasi viral, kawasan tepi Saluran Colo Timur di Begajah justru menghadirkan pengalaman yang lebih sederhana namun membumi.
Tak ada atraksi spektakuler. Hanya secangkir kopi hangat, suara air mengalir, semilir angin, dan waktu yang berjalan lebih pelan dari biasanya.
Mungkin inilah bentuk healing yang sesungguhnya. Bukan tentang seberapa jauh perjalanan yang ditempuh atau seberapa mahal biaya yang dikeluarkan, melainkan kemampuan menikmati hal-hal sederhana yang sering terlupakan dalam kesibukan sehari-hari. (kwl/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto