Dopamine Spending: Saat Emosi Mendorong Pengeluaran di Luar Kebutuhan

SOLOBALAPAN.COM - Setelah seharian kuliah atau bekerja, rasanya ingin memberi hadiah kecil untuk diri sendiri. Ada yang mampir membeli kopi, memesan makanan favorit, atau membuka marketplace sambil rebahan.
Niat awalnya hanya melihat-lihat. Namun, setelah menemukan barang yang menarik dan kebetulan sedang diskon, tangan mulai gatal untuk checkout. Padahal, barang tersebut tidak ada dalam daftar kebutuhan.
“Cuma segini,” mungkin begitu pikirnya.
Baca Juga: Dupe Kultur Kian Diminati, Produk Mirip Bukan Berarti Barang KW
Harga yang tidak terlalu mahal membuat pembelian terasa aman. Apalagi kalau disertai gratis ongkir atau potongan harga. Setelah transaksi selesai, muncul rasa puas karena berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Pola seperti ini kerap disebut sebagai dopamine spending, yakni kebiasaan mengeluarkan uang untuk mendapatkan rasa senang atau lega dalam waktu singkat. Dorongannya bisa datang dari rasa bosan, lelah, stres, atau sekadar keinginan memanjakan diri.
Beda dengan Perilaku Konsumtif
Istilah dopamine spending memang terdengar mirip dengan perilaku konsumtif. Keduanya bisa sama-sama membuat seseorang membeli sesuatu di luar kebutuhan, tetapi keduanya tidak sepenuhnya sama.
Baca Juga: Asal Usul Simpang Panggung Solo, Dari Pos Berburu Bangsawan Keraton hingga Simpang Tersibuk
Dopamine spending lebih melihat alasan seseorang melakukan pembelian. Misalnya, seseorang sedang suntuk karena pekerjaan menumpuk lalu membeli makanan favorit untuk memperbaiki suasana hati.
Sementara itu, perilaku konsumtif lebih berkaitan dengan kebiasaan menggunakan atau membeli sesuatu secara berlebihan. Seseorang bisa saja terus membeli pakaian baru meski pakaian di lemari masih banyak dan sebagian jarang dipakai.
Jadi, satu pembelian yang dilakukan karena ingin merasa lebih baik belum tentu menunjukkan perilaku konsumtif. Namun, jika kebiasaan tersebut terus berulang dan mulai menjadi pola, pengeluaran bisa ikut membesar.



