SOLOBALAPAN.COM – Kelurahan Sudiroprajan secara administratif masuk ke dalam Kecamatan Jebres, Kota Solo.
Kelurahan di sisi timur pusat Kota Solo ini memiliki luas sekitar 23 hektare, yang mencakup sembilan kampung.
Nah, salah satu yang tertua yakni Kampung Balong.
Keberadaan warga keturunan Tionghoa yang telah lama menetap secara turun-temurun, menjadikan Kampung Balong dikenal sebagai salah satu kawasan pecinan tertua dan terbesar di Kota Bengawan.
Namanya kampung tertua, pasti punya cerita sejarah yang saling terkait dengan daerah-daerah lain di sekitarnya.
Berdasarkan literatur dalam Buku Profil Kelurahan Sudiroprajan edisi 2024, Kampung Balong secara administratif berada di RW 06, RW 07, dan RW 08.
Di sini etnis Tionghoa sudah menetap sejak abad ke-18. Mayoritas pedagang yang berjualan di Pasar Gede. Termasuk pedagang yang memiliki kios atau ruko di sekitarnya.
”Sekita tahun 1745 Kampung Balong ditetapkan sebagai kampung pecinan. Itu hampir bersamaan dengan berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat," jelas pegiatn sejarah Kota Solo yang juga Ketua Solo Societeit Dani Saptoni.
Asal usul penamaan Kampung Balong hingga kini masih menjadi cerita yang berkembang di tengah masyarakat.
Setidaknya terdapat dua versi mengenai awal mula penamaan kampung tersebut.
Meskipun belum didukung bukti arsip sejarah yang pasti, kedua cerita ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari sejarah lisan masyarakat Kampung Balong.
Versi pertama menyebutkan, Kampung Balong diambil dari bahasa Jawa balung, yang artinya tulang.
Menurut cerita warga, pada masa lampau kawasan tersebut merupakan lokasi pembuangan tulang hewan yang baru disembelih di rumah jagal di Kelurahan Jagalan, Jebres.
Baca Juga: Stasiun Ketapang, Gerbang Kereta Api di Ujung Timur Pulau Jawa
”Jadi, dulu limbah dari rumah jagal tersebut atau tulang-tulangnya dibuang di Kampung Balong," imbuh Dani.
Seiring berjalannya waktu dan perubahan pelafalan dalam percakapan sehari-hari, penyebutan balung kemudian berubah menjadi balong. Hingga akhirnya digunakan sebagai nama kampung yang dikenal sampai sekarang.
”Menurut cerita eyang saya dulu, kampung ini dulunya banyak ditemukan tulang belulang hewan. Karena itu dinakan Kampung Balong," ujar tokoh masyarakat Kampung Balong Yanuar.
Sementara itu, versi kedua mengaitkan nama Kampung Balong dengan keberadaan para pedagang Tionghoa yang dulu beraktivitas di kawasan tersebut.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, para pedagang keliling menawarkan dagangannya dengan berteriak "barang..barang..".
Namun karena pengaruh dialek dan pelafalan bahasa Tionghoa, ucapan "barang" terdengar seperti "balang" atau dalam bahasa Indonesia artinya dilempar.
Dalam perkembangannya, penyebutan "balang" lambat laun berubah menjadi "balong".
Tetapi, masih ada satu prespektif lainnya mengenai asal usul Kampung Balong tersebut yang menurut Dani Saptono lebih ilmiah.
"Kampung Balong itu berasal dari dari kata ”bubu” yang artinya anyaman bambu untuk menangkap ikan di sungai. Tetapi orang jawa menyebutnya balong," ujar Dani.
Baca Juga: Marc Marquez Belum Merasa Comeback Sempurna, Jeda MotoGP Dimanfaatkan untuk Pulihkan Kondisi Fisik
Meski terdapat beberapa versi, hingga kini belum ada dokumen sejarah yang memastikan kebenarannya. Namun, berbagai cerita yang berkembang tersebut menjadi bagian dari sejarah lisan masyarakat dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi warga setempat, Kampung Balong bukan sekadar kawasan permukiman, melainkan simbol perjalanan panjang terbentuknya kawasan pecinan di tengah Kota Solo. Kampung yang masih mempertahankan nilai sejarah, budaya, dan keberagaman hingga saat ini. (sit/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto