Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Ketika Generasi Muda Menjaga Napas Tari Tradisional

tim solobalapan • Jumat, 12 Juni 2026 | 14:58 WIB
Seorang penari muda tampil dalam Pergelaran Tari Kinarya Gatra 2026 di Teater Besar ISI Surakarta. Kehadiran generasi muda dalam panggung tari menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional di tengah perkembangan era digital.(Luthfiana Sekar/solobalapan.com)
Seorang penari muda tampil dalam Pergelaran Tari Kinarya Gatra 2026 di Teater Besar ISI Surakarta. Kehadiran generasi muda dalam panggung tari menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional di tengah perkembangan era digital.(Luthfiana Sekar/solobalapan.com)

 

SOLOBALAPAN.COM -Di tengah maraknya hiburan digital dan tren media sosial yang terus berkembang, masih ada anak-anak muda yang memilih menghabiskan waktunya untuk mempelajari gerak demi gerak tari tradisional. Bagi sebagian orang, pilihan tersebut mungkin terdengar tidak biasa. 

Namun bagi mereka yang menekuninya, tari tradisional bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Hal itu terlihat dalam Pergelaran Tari Kinarya Gatra 2026 yang digelar di Teater Besar ISI Surakarta. 

Melalui berbagai karya yang ditampilkan, mahasiswa Program Studi Tari ISI Surakarta tidak hanya menunjukkan kemampuan artistik mereka, tetapi juga menjadi bagian dari generasi muda yang berupaya menjaga keberlangsungan seni tari tradisional.

Salah satu mahasiswa yang terlibat dalam penyelenggaraan Kinarya Gatra, Senda Natasa, mengaku kedekatannya dengan dunia tari sudah dimulai sejak kecil. 

Kedua orang tuanya merupakan alumni ISI Surakarta, sementara ayahnya memiliki sanggar tari yang membuatnya tumbuh di lingkungan seni pertunjukan.

"Sejak kecil saya memang sudah dekat dengan dunia tari dan seni pertunjukan," ujarnya.

Meski lahir di era digital yang menawarkan berbagai bentuk hiburan baru, Senda tetap memilih menekuni tari tradisional.

Menurutnya, keputusan tersebut bukan hanya soal minat pribadi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab generasi muda untuk melanjutkan warisan budaya yang telah ada.

Baca Juga: Daftar 5 Tuntutan Demo Mahasiswa UI 12 Juni 2026: Desak Program MBG Diberhentikan?

"Saat ini jumlah orang yang menekuni tari tradisional tidak sebanyak dulu. Saya berpikir, kalau bukan generasi sekarang yang melanjutkan, lalu siapa lagi?" katanya.

Bagi Senda, menari tidak hanya berbicara tentang gerakan tubuh. Tari menjadi ruang untuk mengekspresikan diri sekaligus sarana belajar mengenai berbagai nilai kehidupan.

"Yang membuat saya tetap mencintai tari tradisional adalah karena di dalamnya terdapat banyak pelajaran hidup. Dari tari kita bisa belajar filosofi, nilai kehidupan, kedisiplinan, hingga cara memaknai sebuah proses," ujarnya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Tiqhan Aula, salah satu penari yang tampil dalam Kinarya Gatra 2026. 

Menurutnya, tari tradisional masih memiliki relevansi yang kuat dengan kehidupan masyarakat saat ini karena sarat akan nilai dan filosofi.

"Tari tradisional, khususnya tari klasik gaya Surakarta, mengandung banyak makna yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Ia menjelaskan bahwa hampir setiap gerakan dalam tari tradisional memiliki filosofi tersendiri.

Gerakan tersebut tidak hanya diciptakan untuk menghadirkan keindahan visual di atas panggung, tetapi juga mengandung ajaran tentang pengendalian diri, keteguhan sikap, serta cara menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

"Hampir setiap gerakan memiliki filosofi tersendiri. Gerakan-gerakan dalam tari tidak hanya dibuat untuk keindahan visual, tetapi juga mengajarkan nilai kehidupan, pengendalian diri, keteguhan, dan cara bersikap dalam menghadapi berbagai situasi," ujarnya.

Baca Juga: Cinta Andik Vermansah untuk Persebaya dari Kecil Hingga Kini Tak Pernah Luntur

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, tantangan terbesar seni tradisional bukan hanya menjaga eksistensinya, tetapi juga menarik minat generasi muda untuk mengenal dan mempelajarinya. 

Namun keberadaan mahasiswa-mahasiswa yang masih memilih mendalami tari tradisional menunjukkan bahwa seni budaya tetap memiliki tempat di hati generasi sekarang.

Bagi mereka, tari tradisional bukan sesuatu yang kuno atau tertinggal zaman. Justru di dalamnya tersimpan identitas budaya, nilai kehidupan, dan pelajaran yang masih relevan hingga saat ini.

Karena itu, Tiqhan berharap semakin banyak anak muda yang mau mengenal dan melestarikan budaya yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.

"Harapan saya generasi muda tetap mau mengenal, mempelajari, dan melestarikan budaya yang sudah ada sejak dahulu. Tari tradisional merupakan bagian dari kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Karena itu keberadaannya perlu terus dijaga agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman," tuturnya.

Melalui Kinarya Gatra 2026, para mahasiswa tidak hanya menampilkan pertunjukan tari. Mereka juga menunjukkan bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi, masih ada generasi muda yang memilih menjaga napas tari tradisional agar tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya. (lut)

Editor : Laila Zakiya
#tari tradisional #budaya jawa #soloraya #generasi muda #era digital