SOLOBALAPAN.COM — Kesadaran akan kebersihan kota rupanya sudah mendarah daging di warga Banyuanyar. Paguyuban PKL Kembul Swarga RW XII Banyuanyar resmi memulai langkah berani dengan mengolah sampah organik secara kolektif.
Pada Sabtu (9/5/2026), mereka menggelar pelatihan khusus untuk menyulap limbah dagangan menjadi kompos yang bermanfaat.
Langkah ini diambil mengingat TPA Putri Cempo yang kian overload dan sebagai bentuk tanggung jawab moral para pedagang.
Baca Juga: Hanya Raih Satu Poin Lawan Persebaya, Nasib Persis Solo Kini Bergantung Tim Lain
Semangat Mandiri: Shelter Mandiri, Olah Sampah pun Mandiri
Anggota Paguyuban Kembul Swarga sekaligus Ketua RW XII Banyuanyar, Achmad Shodiq, menegaskan bahwa kemandirian adalah kunci.
Shelter di Jl. Banyuanyar Selatan ini memang dibangun secara swadaya, sehingga urusan sampah pun mereka ingin bereskan sendiri.
"Kami tidak ingin menjadi bagian dari masalah kota. Sampah yang berasal dari shelter diupayakan untuk diolah sendiri agar tidak perlu dibuang ke TPA yang kabarnya sudah penuh," ujar Shodiq.
Mayoritas PKL di sini berjualan makanan olahan, sayuran, ikan segar, hingga daging ayam. Tak heran, sebagian besar timbulan sampahnya adalah jenis organik yang sebenarnya sangat mudah diolah jika tahu caranya.
Gandeng Pakar Lokal: Ubah Limbah Jadi Emas
Untuk urusan teknis, PKL Kembul Swarga menggandeng Catra, produsen bioaktivator lokal asli Solo. Fahriza dari Catra memberikan edukasi bahwa kunci pengolahan sampah organik ada pada pemilahan dan penggunaan aktivator yang tepat.
"Didiamkan saja sebenarnya bisa jadi kompos, tapi kalau pakai bioaktivator prosesnya jauh lebih cepat. Sebelum masuk komposter, sampah sebaiknya dicacah dulu dan rutin dibalik," jelas Fahriza.
Konsistensi Lebih Penting dari Alat Mahal
Menariknya, Fahriza menyebut bahwa untuk mulai mengolah sampah tidak butuh modal besar. Warga dan pedagang bisa menggunakan ember bekas atau pipa paralon sebagai wadah komposter.
"Disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kemampuan. Yang terpenting bukan alatnya, tetapi konsistensi untuk terus mengolahnya," tambahnya.
Aksi yang dilakukan PKL Kembul Swarga ini diharapkan menjadi pematik bagi shelter-shelter PKL lain di Solo untuk mulai peduli pada manajemen limbah mereka sendiri demi mewujudkan Solo yang lebih asri dan berkelanjutan. (dam)
Editor : Damianus Bram