Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Tempoe Doeloe Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Dulu Dicibir, Ini Yang Bikin Piercing Kini Jadi Tren Fashion

Rastri Rafiarum • Rabu, 15 Juli 2026 | 07:10 WIB
Ilustrasi seorang cewek mengenakan banyak piercing di hidung dan telinga. (AI GENERATED)
Ilustrasi seorang cewek mengenakan banyak piercing di hidung dan telinga. (AI GENERATED)

SOLOBALAPAN.COM "Jangan ditindik nanti kelihatan nakal."

Kalimat semacam itu mungkin pernah didengar banyak orang yang ingin memiliki piercing.

Selama bertahun-tahun, tindik di bagian tubuh selain telinga sering kali dipandang sebagai simbol pemberontakan, kenakalan, atau bahkan dianggap tidak sesuai dengan norma.

Penampilan menjadi dasar penilaian, seolah satu lubang kecil di hidung atau telinga mampu menggambarkan seluruh kepribadian seseorang.

Namun, pemandangan itu perlahan berubah.

Baca Juga: Intimate Wedding, Gaya Pernikahan yang Kini Diminati Gen Z

Kini, piercing hadir sebagai bagian dari tren fashion yang semakin diterima. Mulai dari helix, tragus, conch, hingga septum, berbagai jenis piercing bermunculan di media sosial dan dikenakan oleh publik figur, musisi, model, hingga idol K-pop.

Tidak sedikit pula yang menjadikan kombinasi beberapa piercing sebagai bagian dari gaya berpakaian mereka. Apa yang dahulu dianggap menyimpang, kini justru dipandang sebagai sentuhan estetika.

Baca Juga: Tak Sekadar Ikut Tren, Mengapa Banyak Orang Kini Membawa Tumbler?

Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Media sosial menjadi salah satu ruang yang mempercepat pergeseran persepsi tersebut.

Platform seperti Instagram, TikTok, dan Pinterest dipenuhi konten seputar ear curation, tren menyusun beberapa piercing dengan perpaduan anting yang harmonis sehingga telinga tampak seperti sebuah karya seni.

Konten-konten tersebut membuat piercing semakin akrab di mata masyarakat dan tidak lagi terlihat asing.

Di sisi lain, industri fashion juga memiliki peran besar. Banyak rumah mode dunia hingga merek perhiasan menghadirkan koleksi yang dirancang khusus untuk berbagai jenis piercing.

Kehadiran piercing di panggung mode, sampul majalah, hingga kampanye kecantikan membuat aksesori ini semakin dilekatkan dengan citra modern, bukan lagi pemberontakan.

Generasi Z menjadi kelompok yang paling terlihat membawa perubahan tersebut. Bagi banyak anak muda, piercing bukan sekadar mengikuti tren, melainkan cara mengekspresikan identitas.

Mereka melihat tubuh sebagai ruang untuk menunjukkan selera, karakter, dan cerita pribadi. Selama dilakukan dengan aman dan penuh kesadaran, keputusan memiliki piercing dianggap sebagai bagian dari kebebasan individu dalam mengekspresikan diri.

Baca Juga: Tren Kerudung Jahat, Gaya Pashmina Viral di Media Sosial

Meski begitu, penerimaan terhadap piercing belum sepenuhnya merata. Di beberapa lingkungan kerja, institusi pendidikan, atau komunitas dengan nilai budaya tertentu, piercing masih dipandang kurang profesional atau tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.

Hal ini menunjukkan bahwa perubahan persepsi memang sedang berlangsung, tetapi belum sepenuhnya menghapus stigma yang telah lama melekat.

Fenomena piercing pada akhirnya memperlihatkan bahwa standar mengenai penampilan terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Sesuatu yang dahulu dianggap tabu dapat menjadi hal yang lumrah ketika masyarakat mulai mengenalnya, melihat lebih banyak representasi, dan memahami bahwa penampilan tidak selalu mencerminkan karakter seseorang.

Barangkali yang benar-benar berubah bukanlah piercing itu sendiri, melainkan cara kita memandang orang lain. Karena pada akhirnya, sebuah tindik hanyalah aksesori, sementara sikap dan perilakulah yang sesungguhnya membentuk jati diri seseorang. (ras/fer)

Editor : Ferry Ardi Susanto
piercing tren Gen Z anak muda gaya