Dopamine Spending: Saat Emosi Mendorong Pengeluaran di Luar Kebutuhan

Rahma Azra Calista • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 18:26 WIB
Kebiasaan berbelanja secara spontan dapat muncul ketika seseorang ingin mendapatkan kesenangan sesaat. (AI Generated)
Kebiasaan berbelanja secara spontan dapat muncul ketika seseorang ingin mendapatkan kesenangan sesaat. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Setelah seharian kuliah atau bekerja, rasanya ingin memberi hadiah kecil untuk diri sendiri. Ada yang mampir membeli kopi, memesan makanan favorit, atau membuka marketplace sambil rebahan.

Niat awalnya hanya melihat-lihat. Namun, setelah menemukan barang yang menarik dan kebetulan sedang diskon, tangan mulai gatal untuk checkout. Padahal, barang tersebut tidak ada dalam daftar kebutuhan.

“Cuma segini,” mungkin begitu pikirnya.

Baca Juga: Dupe Kultur Kian Diminati, Produk Mirip Bukan Berarti Barang KW

Harga yang tidak terlalu mahal membuat pembelian terasa aman. Apalagi kalau disertai gratis ongkir atau potongan harga. Setelah transaksi selesai, muncul rasa puas karena berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Pola seperti ini kerap disebut sebagai dopamine spending, yakni kebiasaan mengeluarkan uang untuk mendapatkan rasa senang atau lega dalam waktu singkat. Dorongannya bisa datang dari rasa bosan, lelah, stres, atau sekadar keinginan memanjakan diri.

Beda dengan Perilaku Konsumtif

Istilah dopamine spending memang terdengar mirip dengan perilaku konsumtif. Keduanya bisa sama-sama membuat seseorang membeli sesuatu di luar kebutuhan, tetapi keduanya tidak sepenuhnya sama.

Baca Juga: Asal Usul Simpang Panggung Solo, Dari Pos Berburu Bangsawan Keraton hingga Simpang Tersibuk

Dopamine spending lebih melihat alasan seseorang melakukan pembelian. Misalnya, seseorang sedang suntuk karena pekerjaan menumpuk lalu membeli makanan favorit untuk memperbaiki suasana hati.

Sementara itu, perilaku konsumtif lebih berkaitan dengan kebiasaan menggunakan atau membeli sesuatu secara berlebihan. Seseorang bisa saja terus membeli pakaian baru meski pakaian di lemari masih banyak dan sebagian jarang dipakai.

Jadi, satu pembelian yang dilakukan karena ingin merasa lebih baik belum tentu menunjukkan perilaku konsumtif. Namun, jika kebiasaan tersebut terus berulang dan mulai menjadi pola, pengeluaran bisa ikut membesar.

Baca Juga: On This Day: 10 Hal yang Terjadi pada 2 Agustus, dari Invasi Kuwait hingga Emas Olimpiade Indonesia

Saat Belanja Menjadi “Hadiah”

Keinginan membeli sesuatu setelah menjalani hari yang berat sebenarnya cukup mudah ditemukan dalam keseharian.

Mahasiswa yang baru selesai mengerjakan tugas sampai malam mungkin memesan makanan yang lebih mahal dari biasanya. Pekerja yang baru menerima gaji bisa tergoda membeli barang yang sudah beberapa hari masuk keranjang. Sementara ketika sedang bosan, scrolling marketplace bisa berubah menjadi kegiatan mencari barang yang sebenarnya tidak sedang diperlukan.

Pembelian itu terasa seperti hadiah.

Baca Juga: Band Pop Punk Jogja Colorcode Resmi Comeback, Umumkan Akan Rilis Dua Lagu Anyar Dalam Waktu Dekat

Tidak ada yang salah dengan memberi penghargaan kepada diri sendiri. Persoalannya adalah ketika belanja menjadi pilihan pertama setiap kali muncul rasa tidak nyaman.

Hari yang melelahkan dibalas dengan pesan makanan. Bosan di rumah dibalas dengan checkout. Sedang stres dibalas dengan membeli sesuatu yang sudah lama diincar.

Kalau terus dilakukan, uang pun keluar bukan karena kebutuhan yang sudah direncanakan, melainkan mengikuti suasana hati.

Pengeluaran Kecil yang Diam-Diam Bertambah

Dopamine spending juga tidak selalu identik dengan belanja barang mahal. Justru, pengeluaran kecil sering kali terasa paling mudah dilakukan.

Baca Juga: Benarkah Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodriguez Menikah Akhir Pekan Ini? Media Spanyol Ungkap Fakta Sebenarnya

Secangkir kopi Rp25.000, camilan Rp20.000, ongkos kirim, atau barang seharga Rp40.000 mungkin tidak terasa berat ketika dibayar satu per satu.

Namun, coba lihat kembali semua transaksi tersebut di akhir bulan.

Pengeluaran yang awalnya terasa “cuma sedikit” bisa berubah menjadi jumlah yang cukup berarti. Apalagi jika hampir setiap kali merasa lelah atau bosan, solusinya adalah mengeluarkan uang.

Di sinilah kebiasaan belanja perlu dilihat dari polanya. Bukan satu transaksi yang menjadi persoalan, melainkan seberapa sering keputusan tersebut dibuat tanpa benar-benar mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi keuangan.

Baca Juga: Siapa Penemu Kereta Api Uap? Mengenal Tokoh di Balik Lahirnya Lokomotif Modern

Marketplace Membuat Godaan Ada di Tangan

Belanja online membuat proses tersebut semakin mudah. Keinginan membeli sesuatu bisa langsung berubah menjadi transaksi hanya dalam beberapa menit.

Marketplace juga tidak hanya menyediakan barang. Ada berbagai pemicu yang membuat konsumen semakin tertarik untuk membeli, mulai dari gratis ongkir, potongan harga, cashback, flash sale, hingga pemberitahuan bahwa promo akan segera berakhir.

Misalnya, seseorang tidak sedang membutuhkan sepatu baru. Namun, ketika melihat harga turun dari Rp300.000 menjadi Rp200.000, muncul anggapan bahwa membeli berarti sedang menghemat.

Baca Juga: Resmi Tinggalkan Persis Solo, Kiper Timnas Muhammad Riyandi Berlabuh ke Dewa United!

Padahal, jika sepatu itu memang tidak diperlukan, Rp200.000 tetap merupakan uang yang keluar.

Harga murah tidak otomatis membuat sebuah pembelian menjadi hemat. Hemat atau tidaknya tetap bergantung pada apakah barang tersebut memang diperlukan.

Beri Jeda Sebelum Checkout

Bukan berarti semua keinginan membeli harus ditahan. Sesekali membeli makanan favorit, buku, pakaian, atau barang lain yang memang disukai tentu wajar.

Yang bisa dilakukan adalah memberi sedikit jarak antara munculnya keinginan dan keputusan membeli.

Baca Juga: Headset Kabel dan Wireless, Mana Yang Lebih Nyaman? Ini Positif Dan Negatifnya

Ketika tiba-tiba ingin checkout, coba tinggalkan keranjang selama beberapa jam. Jika keesokan harinya barang tersebut masih terasa diperlukan dan memang tersedia dalam anggaran, keputusan membeli bisa dipertimbangkan kembali.

Mencatat pengeluaran kecil juga membantu melihat kebiasaan yang sering luput diperhatikan. Dari sana, seseorang bisa mengetahui apakah uang lebih banyak digunakan untuk kebutuhan yang sudah direncanakan atau justru habis untuk pembelian spontan.

Pada akhirnya, dopamine spending memperlihatkan bahwa keputusan menggunakan uang tidak selalu lahir dari kebutuhan. Ada kalanya suasana hati ikut menentukan apa yang masuk ke keranjang belanja.

Baca Juga: Bukan Sekadar Mengejar Puncak, Mendaki Jadi Ruang Jeda Mahasiswa

Membeli sesuatu untuk menyenangkan diri sendiri bukan masalah. Namun, jika setiap rasa bosan, lelah, atau stres selalu berujung pada transaksi, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak dan bertanya sebelum checkout: barang ini memang dibutuhkan, atau sebenarnya hanya ingin merasa lebih baik?

Editor : Adi Pras
Dopamine Spending konsumsi belanja keuangan ekonomi