SOLOBALAPAN.COM – Di saat publik masih meradang akibat pernyataan kontroversial alumnus LPDP Dwi Sasetyaningtyas yang enggan anaknya menjadi WNI, sosok Tasya Kamila muncul memberikan "oase" ketenangan.
Artis yang juga penerima beasiswa LPDP di Columbia University, Amerika Serikat ini, secara terbuka memaparkan laporan pertanggungjawaban moralnya kepada rakyat Indonesia.
Tasya menegaskan bahwa setiap rupiah dari pajak masyarakat yang ia gunakan untuk sekolah, telah ia kembalikan dalam bentuk kontribusi nyata bagi bangsa.
Tanggung Jawab Moral kepada Pembayar Pajak
Tasya menyadari bahwa sebagai penerima beasiswa, ia memikul ekspektasi besar dari masyarakat.
Baginya, kritik publik terhadap alumni LPDP yang membelot adalah hal yang wajar.
"Buatku, kalian berhak bertanya soal ini! Sebagai sesama rakyat yang membayar pajak, aku sangat mengerti bahwa teman-teman mau 'investasi' kita melalui APBN dalam bidang pendidikan menghasilkan output yang baik buat bangsa," ungkap Tasya melalui akun pribadinya.
Rapor Merah vs Rapor Emas: Prestasi Tasya di Columbia University
Tasya Kamila sebelumnya menjelaskan bahwa dirinya mendapat beasiswa LPDP dan kuliah S2 di Columbia University, Amerika Serikat, untuk jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy pada tahun 2016-2018.
Tasya Kamila mengambil jurusan itu karena dia memiliki ketertarikan di bidang lingkungan hidup dan perumusan kebijakan publik. Karena sejak tahun 2005, dia sudah mengemban tugas sebagai Duta Lingkungan Hidup.
Selama kuliah, Tasya Kamila berhasil lulus tepat waktu dengan IPK 3.75. Selama kuliah, dia aktif di organisasi pemuda internasional di bawah naungan PBB, Sustainable Development Solutions Network - Youth, mewakili Pemuda Indonesia.
Tasya Kamila juga kerap menghadiri forum PBB di New York sebagai delegasi Indonesia, sebagai moderator dan peserta.
Saat masa kuliah, Tasya Kamila berusaha berkontribusi untuk negeri dengan manfaatkan resource kampus untuk mengembangkan proyek Desa Mandiri Energi di Sumba, NTT.
Kontribusi Tak Terputus Setelah Pulang ke RI
Berbeda dengan oknum yang memilih menetap di luar negeri, Tasya langsung kembali ke tanah air dan aktif di berbagai lini pemerintahan:
Duta Lingkungan Hidup: Tetap setia mendampingi KLHK sejak 2005 hingga menjadi Dewan Pertimbangan Kalpataru 2022.
Jembatan Komunikasi Pemerintah: Bekerjasama dengan belasan kementerian (Kemenkeu, Kemenko Marves, Kominfo, hingga KPK) untuk edukasi program pemerintah kepada publik.
Gerakan Akar Rumput: Mendirikan yayasan Green Movement Indonesia yang fokus pada edukasi sampah dengan lebih dari 500 relawan.
Pemberdayaan Pemuda: Aktif menjadi pembicara seminar serta sempat menjadi pengajar Geografi dan Bahasa Inggris secara online.
Membuktikan Dana APBN Tidak Mubazir
Langkah Tasya Kamila ini seolah menjadi jawaban telak atas polemik LPDP yang sedang memanas.
Ia membuktikan bahwa pendidikan tinggi di luar negeri yang dibiayai negara dapat bertransformasi menjadi kebijakan dan gerakan yang bermanfaat bagi jutaan rakyat Indonesia.
"Aku memanfaatkan media sosial untuk memberikan edukasi pada generasi muda," pungkasnya, menegaskan bahwa pengabdian tidak harus selalu di kantor pemerintahan, tapi bisa melalui berbagai kapasitas profesional. (dam)
Editor : Damianus Bram