SOLOBALAPAN.COM - Di tengah padatnya Kota Solo, terdapat sebuah kampung yang menyimpan jejak sejarah panjang perkembangan Keraton Kasunanan Surakarta sejak akhir abad 19 hingga awal abad ke 20. Namanyai Kampung Jagalan, sebuah kawasan yang terletak di Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres. Kampung ini memiliki ketinggian sekitar 90-100 Mdpl.
”Kampung Jagalan sendiri memiliki 15 RW dan 63 RT,” ujar Lurah Jagalan Arief Budiyanto.
Deretan rumah berdiri rapat, gang-gang sempit yang dipenuhi oleh aktivitas warga, serta suasana permukiman yang masih terasa hangat menjadi pemandangan pertama saat memasuki kampung jagalan. Namun, di balik kehidupan masyarakat yang berjalan seperti biasa, tersimpan jejak sejarah panjang yang telah membentuk identitas kampung selama kurang lebih satu abad.
Bagi masyarakat luar, jagalan mungkin hanya dikenal sebagai sebuah nama wilayah. Namun, bagi warga setempat, nama tersebut menyimpan banyak cerita panjang yang telah diwariskan secara turun-temurun. Cerita-cerita itu menjadi bagian dari identitas masyarakat yang terus dipelihara sebagai warisan sejarah lokal.
Baca Juga: Pernah Kenal Baik, Anisa Bahar Syok Mala Agatha Ikut Nyanyikan Lagu Mesum! 'Dulu Orangnya Sopan'
Kampung Jagalan mungkin hanya sebuah nama bagi sebagian masyarakat. Namun, bagi warga yang telah lama menetap di kawasan ini, Jagalan merupakan bagian dari sejarah panjang Kota Solo. Di balik gang-gang sempit dan deretan rumah yang berdiri rapat, tersimpan kisah tentang profesi, kehidupan sosial, dan perjalanan sebuah kampung yang tumbuh bersama perkembangan Kasunanan Surakarta.
Pada masa awal perkembangannya, Kampung Jagalan merupakan salah satu kawasan yang berada di bawah pemerintahan Kasunanan Surakarta. Wilayah ini dipimpin oleh seorang lurah yang ditunjuk langsung oleh Keraton Surakarta sebagai perpanjangan tangan kerajaan dalam mengatur kehidupan masyarakat.
”Menurut sepengetahuan saya yang di ceritakan oleh sesepuh dulu. Kampung ini banyak sekali juragan atau pedagang berprofesi sebagai pejagal sapi. Ada korelasi nya dengan keraton masa raja paku buwono X kurang lebih pada abad 19,” ujar Ketua Pokdarwis Jagalan Syafiq.
Pada masa itu banyak sekali pejagal daging di keraton kasunanan. Pada abad 19 sekitar tahun di wilayah keraton sendiri berdiri sebuah bangunan rumah pemotongan hewan yang sekarang telah menjadi Dinas Pertanian, ketahanan pangan dan perikanan kota surakarta. Pada masa itu banyak sekali pejagal yang berasal dari kampung jagal yang dimanfaatkan keraton untuk mencukupi kebutuhan keraton.
Baca Juga: Cari Hotel Tepi Pantai Barat Pangandaran? Ini 3 Rekomendasi Terbaiknya
Hingga saat ini masih ada beberapa juragan yang berprofesi sebagai Jagal yang masih aktif dan mengembangkan profesi tersebut menjadi pelaku UMKM seperti mengolah olahan abon sapi. Jagalan juga terkenal dengan pusat oleh-oleh.
Aktivitas penyembelihan hewan pada masa itu menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat Kampung Jagalan. Sebagian besar warga bekerja sebagai jagal, sementara sebagian lainnya mengembangkan usaha yang berkaitan dengan hasil penyembelihan. Salah satu industri yang tumbuh dari aktivitas tersebut adalah pembuatan rambak atau kerupuk kulit sapi.
Selain dikenal sebagai kampung bersejarah, Kampung Jagalan juga berkembang sebagai salah satu sentra kuliner dan oleh-oleh di Kota Solo. Berbagai produk olahan daging serta makanan khas masih menjadi bagian dari identitas ekonomi masyarakat setempat. Keberadaan UMKM tersebut menjadi bukti bahwa warisan profesi para jagal tidak hilang ditelan zaman, melainkan bertransformasi menjadi usaha yang mampu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat.
Bagi warga Kampung Jagalan, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Jejak para jagal yang dahulu menopang kebutuhan pangan Keraton Kasunanan Surakarta kini menjadi bagian dari identitas kampung yang terus dijaga. Melalui cerita para sesepuh, perkembangan UMKM, dan semangat masyarakat dalam melestarikan sejarah lokal, Kampung Jagalan tetap menjadi salah satu kampung yang menyimpan kisah penting dalam perjalanan panjang Kota Solo.
Editor : Kabun Triyatno