SOLOBALAPAN.COM - Tari Merak dikenal sebagai salah satu tari kreasi berbasis tradisi yang paling kuat secara visual. Tari ini diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri pada pertengahan abad ke-20 dengan mengambil inspirasi dari keindahan burung merak.
Sejak awal, Tari Merak memang dirancang sebagai tari pertunjukan, bukan tari ritual. Namun, unsur tradisi Sunda tetap menjadi dasar utama dalam setiap aspek, mulai dari gerak, musik, hingga kostum.
Dari sisi koreografi, gerakan dalam Tari Merak banyak mengambil stilisasi dari perilaku burung merak, seperti membuka sayap, berjalan anggun, hingga gerakan kepala yang dinamis. Gerakan ini kemudian diolah dengan teknik tari Sunda yang halus dan ritmis.
Tari Merak menonjolkan penggunaan kostum yang sangat ikonik. Kostum penari didesain menyerupai bulu merak dengan warna-warna cerah, sehingga menciptakan efek visual yang kuat di atas panggung.
Pola lantai dalam Tari Merak cenderung dinamis, dengan banyak perpindahan posisi yang mengikuti alur musik. Hal ini memberikan kesan hidup dan tidak monoton selama pertunjukan berlangsung.
Iringan musik menggunakan gamelan degung khas Sunda, yang memberikan nuansa ringan dan ceria.
Dengan suara pukulan kendhang jaipong yang mengatur tempo gerak. Tempo musik yang variatif juga mendukung perubahan dinamika gerak penari.
Dalam perkembangannya, Tari Merak mengalami beberapa modifikasi, terutama dalam hal koreografi dan kostum. Namun, perubahan ini tetap mempertahankan karakter utama tari sebagai representasi keindahan alam.
Tari ini juga sering ditampilkan dalam berbagai acara, baik di dalam maupun luar negeri. Hal ini menjadikan Tari Merak sebagai salah satu ikon budaya Indonesia di mata dunia.
Dalam konteks pendidikan, Tari Merak sering diajarkan sebagai contoh tari kreasi yang berhasil memadukan tradisi dan inovasi. Hal ini menjadikannya relevan untuk dipelajari hingga saat ini.
Dengan kekuatan visual dan dasar tradisi yang kuat, Tari Merak menjadi bukti bahwa tari kreasi dapat berkembang tanpa kehilangan akar budayanya. (sen/lz)
Artikel ini ditulis oleh Senda, mahasiswa Jurusan Tari di ISI Surakarta.
Editor : Laila Zakiya