SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang resmi mengerek suku bunga acuan (BI Rate) ke angka 5,25 persen mulai memicu kecemasan sistemik di sektor perbankan daerah. Langkah bank sentral mengetatkan likuiditas ini rawan mencekik para pelaku usaha mikro.
Namun, di tengah bayang-bayang tren suku bunga tinggi tersebut, PT BPR Djoko Tingkir (Perseroda) Sragen justru memilih langkah berani dengan pasang badan.
Bank pelat merah milik pemerintah daerah ini berkomitmen menjaga denyut nadi ekonomi wong cilik melalui program Kredit Usaha Rakyat Daerah (KURDA) dengan bunga 0 persen.
Likuiditas Sehat, Enggan Latah Naikkan Suku Bunga
Direktur Utama BPR Djoko Tingkir, Titon Darmasto, menegaskan bahwa gejolak makroekonomi di Jakarta tidak akan menyenggol program stimulus yang digagas bersama Pemerintah Kabupaten Sragen tersebut. Bahkan, komitmen ini juga berlaku untuk nasabah komersial non-subsidi.
"Kenaikan BI Rate itu tidak berpengaruh ke KURDA 0 persen. Bahkan untuk nasabah kredit umum lainnya, sampai hari ini kami belum ada kebijakan menaikkan suku bunga. Kami kaji dulu secara matang," ujar Titon saat ditemui pasca-penyerahan hewan kurban, kemarin.
Langkah BPR Djoko Tingkir yang enggan latah mengekor kebijakan bank sentral ini didasari oleh kondisi internal perusahaan yang diklaim masih sangat sehat.
Titon menyebut struktur dana pihak ketiga (DPK) di banknya sangat likuid, ditopang oleh tingkat kepercayaan masyarakat Sragen yang tetap kokoh di tengah sentimen pasar yang fluktuatif.
"Kami usahakan tetap pakai tarif bunga yang lama. Tujuannya jelas, mendukung supaya sektor industri ekonomi produktif di Sragen bisa terus naik, bukan malah tercekik," imbuhnya.
Baca Juga: John Herdman Latih EPA Persija Jelang FIFA Matchday, Ada Apa dengan Pelatih Timnas Indonesia?
Ironi Anggaran Mini: Subsidi 0 Persen Kalah Jauh dari Kredit 3 Persen
Meski komitmen BPR Djoko Tingkir patut diacungi jempol, yang menjadi sorotan kritis publik justru beralih pada porsi keberpihakan anggaran dari APBD Sragen.
Untuk program KURDA super mikro dengan bunga 0 persen yang menyasar masyarakat miskin, dana yang dikucurkan pemda terbilang mini, yakni "hanya" Rp250 juta.
Angka ini dinilai ironis karena porsinya separuh lebih kecil dibandingkan alokasi KURDA bunga 3 persen yang justru mendapatkan jatah kue APBD lebih besar, yakni Rp500 juta.
Perbandingan Alokasi Dan Distribusi KURDA Sragen:
| Kategori Program KURDA | Alokasi Anggaran APBD | Target Sasaran Distribusi | Instrumen Mitigasi Risiko |
| KURDA Super Mikro (0%) | Rp250 Juta | Masyarakat miskin ekstrem (Data Desil 1 sampai Desil 5 Dinsos). | Skrining SLIK OJK wajib bersih, memiliki unit usaha riil yang lolos verifikasi lapangan. |
| KURDA Mikro Utama (3%) | Rp500 Juta | Pelaku usaha mikro dan menengah umum skala daerah. | Standar kelayakan kredit (credit scoring) perbankan reguler. |
Gandeng Dinsos untuk Redam Risiko Kredit Macet
Baca Juga: The Hunger Games: Sunrise On The Reaping Tayang November 2026, Intip Kisah Arena Brutal Edisi Ke-50
Dengan ketersediaan anggaran yang sangat terbatas tersebut, ketepatan sasaran menjadi pertaruhan reputasi yang besar bagi BPR Djoko Tingkir agar stimulus tidak menguap sia-sia.
Strateginya, perbankan pelat merah ini menggandeng Dinas Sosial (Dinsos) Sragen untuk memilah data kedeputian miskin ekstrem agar tidak salah sasaran.
Tantangan terbesar dari kredit berbunga nol persen untuk kelompok masyarakat bawah tentu saja adalah pembengkakan rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL).
Menjawab keraguan tersebut, Titon memastikan pihaknya tidak akan melonggarkan pengawasan demi sekadar mengejar target penyaluran kuota. Prinsip kehati-hatian (prudent banking) tetap harga mati.
"Kami kawal ketat dengan mitigasi risiko. Syarat SLIK OJK nasabah harus bersih dan lancar. Yang paling penting, mereka harus punya usaha riil yang bisa diverifikasi di lapangan. Jadi, meskipun ini program bantuan modal stimulan, aspek akuntabilitasnya tetap ketat," tegas Titon.
Baca Juga: Marc Marquez Comeback di MotoGP Italia 2026, Michele Pirro Gantikan Alex Marquez di Gresini
Kini, publik Sragen menanti sejauh mana stimulus mini berbalut bunga nol persen ini mampu menjadi oase penyejuk, atau justru hanya menjadi pemanis kebijakan di tengah gempuran badai tren suku bunga tinggi nasional. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto