SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Soloraya bersama sejumlah elemen masyarakat menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Tugu Kartasura, Jumat (1/5).
Aksi tersebut menjadi momentum peringatan Hari Buruh Internasional sekaligus refleksi menjelang Hari Pendidikan Nasional.
Dalam orasinya, massa menyoroti dua isu besar: ketenagakerjaan dan kondisi pendidikan yang dinilai belum berpihak pada masyarakat.
Baca Juga: Retribusi PKL Karanganyar Disorot: Dari Karcis Hilang hingga Dugaan Aliran Dana Tak Transparan
Koordinator aksi, Dimas, menegaskan bahwa peringatan Hari Buruh seharusnya tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi ruang untuk menyuarakan ketimpangan yang masih dialami pekerja.
“Momentum ini kami gunakan untuk menyampaikan aspirasi. Kami mendesak pemerintah segera mengesahkan RUU Ketenagakerjaan,” ujarnya di tengah aksi.
Selain itu, mahasiswa juga menuntut penghapusan sistem outsourcing yang dinilai masih menjadi sumber ketidakpastian kerja dan rendahnya upah buruh. Mereka menilai praktik tersebut membuat pekerja rentan tanpa jaminan perlindungan yang memadai.
“Kami menolak outsourcing karena sampai hari ini masih merugikan buruh. Upah rendah, perlindungan minim, dan posisi pekerja lemah,” tegasnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Teken Perpres Nomor 27 Tahun 2026: Potongan Ojol Resmi Maksimal 8 Persen!
Tak hanya isu ketenagakerjaan, massa juga menyoroti kondisi dunia pendidikan yang dinilai semakin memprihatinkan. Mereka menilai arah kebijakan pendidikan belum sepenuhnya mencerminkan amanat konstitusi.
“Pendidikan seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar formalitas. Saat ini kualitasnya kami nilai justru menurun,” lanjut Dimas.
Sorotan tajam juga diarahkan pada kesejahteraan tenaga pendidik, khususnya guru honorer. Mahasiswa menilai masih banyak guru yang menerima upah jauh di bawah standar kelayakan, meski memegang peran penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Ada guru honorer yang hanya digaji Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per bulan. Ini jelas tidak sebanding dengan tanggung jawab mereka,” ungkapnya.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat dan berjalan tertib. Massa berharap tuntutan yang disampaikan tidak hanya didengar, tetapi juga ditindaklanjuti melalui kebijakan konkret.
Melalui aksi ini, BEM Soloraya menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu-isu publik, terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan buruh dan masa depan pendidikan di Indonesia. (kwl/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto