Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Tempoe Doeloe Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Blind Box: Hobi Koleksi atau Perilaku Konsumtif di Kalangan Mahasiswa?

Siti Putri Lestari • Kamis, 16 Juli 2026 | 18:15 WIB
Blind Box (AI Generated)
Mainan Blind Box yang di sukai mahasiswa (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Tren ”blind box” semakin menarik perhatian kalangan mahasiswa dalam beberapa tahun terakhir. Produk koleksi yang dikemas dalam kotak misteri ini menawarkan sensasi kejutan karena pembeli tidak mengetahui karakter yang akan diperoleh hingga kemasan dibuka. Popularitasnya terus meningkat seiring maraknya konten unboxing di media sosial, yang mendorong banyak mahasiswa untuk mencoba mengoleksi figur dari berbagai seri dan merek.

Bagi sebagian mahasiswa, blind box bukan sekadar mainan, melainkan menjadi bagian dari hobi mengoleksi sekaligus sarana mengekspresikan minat terhadap karakter tertentu. Tidak sedikit yang rela membeli lebih dari satu kotak demi mendapatkan figur incaran atau edisi langka. Fenomena tersebut juga melahirkan komunitas kolektor yang aktif melakukan jual beli maupun tukar-menukar karakter melalui media sosial dan berbagai kegiatan komunitas.

Di balik antusiasme tersebut, tren blind box turut memunculkan perhatian terhadap pola konsumsi mahasiswa. Sistem pembelian yang mengandalkan unsur keberuntungan dapat mendorong sebagian pembeli melakukan pembelian berulang tanpa perencanaan yang matang. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai batas antara hobi koleksi dan perilaku konsumtif, terutama bagi mahasiswa yang masih mengandalkan uang saku sebagai sumber utama pengeluaran.

Baca Juga: Di Balik Streak TikTok, Strategi Membuat Pengguna Kembali Setiap Hari

Bagi sebagian mahasiswa, daya tarik blind box tidak hanya terletak pada figur koleksi yang diperoleh, tetapi juga sensasi kejutan saat membuka kemasannya. Rasa penasaran untuk mengetahui karakter yang ada di dalam kotak menjadi alasan utama mereka mencoba membeli. Seiring berjalannya waktu, pengalaman tersebut berkembang menjadi hobi mengoleksi berbagai seri figur yang memiliki desain unik dan menarik.

”Saya tertarik sekali dengan blind box karena hanya ingin merasakan sensasi lalu saya mulai suka mengkoleksi karena desain yang menarik, kadang saya bisa membeli 3 box walau nanti isi nya tetap sama yang pernah saya beli” ujar mahasiswa yang sering membeli blind box, Ica (16/7).

Meski demikian, kebiasaan membeli blind box secara berulang juga menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa dalam mengelola keuangan. Dengan harga yang bervariasi mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah per kotak, pembelian tanpa perencanaan berpotensi menguras uang saku. Kondisi ini memunculkan perdebatan mengenai apakah blind box masih sebatas hobi koleksi atau mulai mengarah pada perilaku konsumtif di kalangan mahasiswa.

Baca Juga: Menangis di Pesawat Menuju Mekkah, Ruben Onsu Terus Berdoa Demi Anak-anak, Keputusan Gugat Hak Asuh Akhirnya Bulat

”saya kadang membeli blind box bisa menghabiskan kurang lebih 1 jt dalam per bulan, karena kadang ada koleksi-koleksi terbaru yang membuat saya tertarik untuk beli lagi” ujar mahasiswa UNS, Uta. (16/7/2026).

Besarnya minat terhadap blind box juga tercermin dari jumlah pengeluaran yang rela disisihkan oleh sebagian mahasiswa untuk memenuhi hobi tersebut. Kehadiran seri-seri terbaru dan karakter edisi terbatas kerap menjadi alasan kolektor untuk kembali melakukan pembelian, meski telah memiliki sejumlah figur dari seri sebelumnya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa blind box tidak hanya menjadi tren koleksi di kalangan mahasiswa, tetapi juga berpotensi memengaruhi pola konsumsi. Sensasi mendapatkan karakter secara acak dan keinginan melengkapi koleksi dinilai dapat mendorong seseorang melakukan pembelian berulang. Kondisi inilah yang kemudian menjadi perhatian para ahli, terutama terkait perilaku konsumtif pada generasi muda.

Baca Juga: Kenapa Syifa Hadju Viral Lagi? Disentil Anjasmara Soal Masa Lalu, El Rumi dan Sahabat Cipa Langsung Pasang Badan

Psikolog menjelaskan bahwa konsep blind box memanfaatkan unsur kejutan (surprise effect) yang dapat memunculkan rasa senang ketika seseorang membuka kemasan dan memperoleh karakter yang diinginkan. Namun, ketika karakter yang didapat tidak sesuai harapan, sebagian orang terdorong untuk membeli kembali dengan harapan memperoleh figur yang diincar. Jika tidak disertai pengendalian diri dan pengelolaan keuangan yang baik, kebiasaan tersebut berpotensi berkembang menjadi perilaku pembelian impulsif.

Dalam sebuah video podcast ruang tunggu, psikiater Dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, menyebut bahwa konsep blind box dapat memicu perilaku impulsive buying, yaitu kecenderungan membeli barang secara spontan tanpa perencanaan, terutama ketika seseorang terdorong oleh rasa penasaran dan harapan memperoleh item tertentu.

”Blind box tidak sekedar menjadi hobi mengkoleksi, tetapi bisa memicu mekanisme psikologis melalui sistem penghargaan di otak. Perasaan kejutan saat membuka box tersebut menimbulkan rasa senang yang bisa mendorong seseorang untuk membelinya lagi” ujar dokter psikolog Dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ pada sebuah podcast yang membahas blind box.

Baca Juga: Sebut Lingkungan Sarwendah Kurang Sehat, Alasan Ruben Onsu Nekat Gugat Hak Asuh Anak Terbongkar!

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk memahami batas antara hobi mengoleksi dan perilaku konsumtif. Menikmati blind box sebagai bentuk hiburan tidak menjadi persoalan selama dilakukan secara sadar, memiliki anggaran yang jelas, serta tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan utama maupun kesehatan finansial.

Fenomena blind box menunjukkan bahwa strategi pemasaran yang mengandalkan unsur kejutan mampu memengaruhi aspek psikologis konsumen. Bagi sebagian orang, aktivitas ini tetap menjadi hobi yang menyenangkan. Namun, tanpa pengendalian diri dan pengelolaan keuangan yang baik, blind box berpotensi memicu perilaku pembelian impulsif yang berdampak pada kondisi finansial. Karena itu, kesadaran dalam membatasi pengeluaran dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan menjadi kunci agar hobi mengoleksi tidak berubah menjadi perilaku konsumtif.

Editor : Kabun Triyatno
mainan mahasiswa gaya hidup hedon mahal Trending