Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Sastra atau Musik: Menakar Fenomena Jason Ranti yang Bikin Gen Z Ketagihan Lirik “Njelimet”

Laila Zakiya • Kamis, 7 Mei 2026 | 15:59 WIB
Potret Konser Midwest Emo (Pinterest.id/tildeavelin)
Potret Konser Midwest Emo (Pinterest.id/tildeavelin)

 
SOLOBALAPAN.COM - Ada satu pemandangan unik di setiap konser musik indie belakangan ini. Di tengah gempuran lagu-lagu pop dengan lirik sederhana dan repetitif, muncul sosok pria berambut gondrong dengan gitar kopong yang justru membawakan lagu-lagu dengan lirik sepanjang gerbong kereta api.

Dialah Jason Ranti, atau yang akrab disapa Jeje Boy, musisi yang sukses memutarbalikkan logika pasar musik anak muda saat ini.

Secara teori, lagu dengan lirik yang panjang, rumit, dan penuh metafora abstrak harusnya sulit diterima oleh generasi sekarang yang katanya punya rentang perhatian pendek. Namun kenyataannya justru terbalik.

Di tangan Jeje, lirik-lirik "njelimet" itu justru menjadi magnet kuat bagi Gen Z. Fenomena ini membuktikan bahwa anak muda masa kini punya dahaga akan kejujuran ekspresi yang tidak bisa ditemukan di lagu pop pasaran.

Salah satu kunci kekuatan Jeje adalah gaya bicaranya yang "slebor" namun cerdas. Ia sering kali membedah isu sosial, agama, hingga politik dengan cara yang sangat personal dan penuh satire.

Bagi Gen Z, mendengarkan lagu Jason Ranti itu rasanya seperti sedang diajak ngobrol di sebuah warung kopi sambil membicarakan filsafat kehidupan dengan bahasa yang santai namun menohok

Lagu-lagu seperti "Variasi Pink" atau "Lagunya Begini Nadanya Begitu" yang didedikasikan untuk Sapardi Djoko Damono, menjadi bukti bagaimana ia meramu sastra ke dalam musik.

Meskipun liriknya penuh dengan perumpamaan yang sulit dipahami dalam sekali dengar, para penggemar justru merasa tertantang untuk mengulik maknanya. Ini memberikan rasa kepuasan intelektual tersendiri bagi pendengarnya.

Tak jarang, kita melihat pemandangan ribuan anak muda di festival musik sanggup menghafal setiap kata dari lagu Jeje yang panjangnya bukan main.

Baca Juga: Pesan Menohok Andre Taulany untuk Erin Mantan Istri: Singgung Tabayyun, Muhasabah, dan Hidup Tanpa Drama

Kemampuan mereka menghafal lirik yang rumit ini seolah menjadi bentuk protes halus terhadap musik yang terlalu "dangkal". Ada semacam rasa bangga tersendiri ketika bisa sing-along lagu-lagu Jeje tanpa salah satu kata pun.

Kehadiran Jeje di panggung-panggung Solo Raya, mulai dari panggung kecil kolektif hingga festival biang gembira di Kali Pepe Land, 18 Januari 2025 selalu disambut antusias.

Anak muda Solo yang dikenal punya cita rasa seni yang tinggi, nampaknya menemukan "frekuensi" yang sama dalam setiap racauan Jeje. Baginya, panggung bukan sekadar tempat pamer suara, tapi ruang untuk berbagi kegelisahan kolektif.

Selain itu, gaya hidup Jason Ranti yang apa adanya tanpa polesan branding berlebihan justru membuatnya terlihat sangat autentik.

Di era pencitraan media sosial yang serba sempurna, sosok yang tampil "berantakan" namun berisi seperti Jeje justru dianggap lebih jujur. Keaslian inilah yang dicari oleh generasi yang sudah lelah dengan segala bentuk kepura-puraan di dunia maya.

Tak heran jika banyak mahasiswa di Solo menjadikan lirik lagu Jason Ranti sebagai bahan diskusi, bahkan penelitian skripsi.

Mereka mencoba membedah setiap metafora yang digunakan, mulai dari kritik tentang gaya hidup perkotaan hingga keresahan batin sang musisi. Jason Ranti telah berhasil membawa musik folk ke level yang lebih dari sekadar hiburan, yakni sebagai media refleksi diri.

Pada akhirnya, fenomena Jason Ranti menunjukkan bahwa kualitas lirik tetap menjadi nyawa utama dalam sebuah lagu. Jadi, jangan heran kalau di tongkronganmu nanti malam, masih ada yang asyik mendebat makna di balik lirik Jeje Boy. (Arp/lz)

Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta

Editor : Laila Zakiya
#Jason Ranti #tren #Gen Z #lagu #musisi