SOLOBALAPAN.COM - Belakangan ini, potongan video presenter dan pembawa acara kondang Choky Sitohang ramai berseliweran di media sosial.
Menariknya, perhatian warganet tidak hanya tertuju pada sosok yang ditemuinya di berbagai acara, tetapi cara Choky membangun percakapan.
Itu terlihat dari banyaknya komentar seperti "Catat, ilmu baru ngolah" hingga "Top global ngolah" yang memenuhi kolom komentarnya.
Menariknya, Choky Sitohang tidak pernah secara khusus membahas atau memperkenalkan istilah "ngolah". Justru, kata tersebut lahir dari cara warganet menggambarkan kemampuan komunikasinya.
Baca Juga: Widuri Puteri Dalami Silsilah Keluarga Demi Peran di Serial Netflix "Aku Sebelum Aku"
Dalam sejumlah video yang diunggah di media sosial, Choky terlihat menghadiri berbagai acara besar dan berbincang dengan sejumlah tokoh maupun tamu undangan.
Cara ia membuka percakapan, memberikan respons, hingga menyampaikan pujian yang terasa tulus membuat banyak orang menilai keterampilan komunikasinya layak dipelajari.
Bagi sebagian warganet, kemampuan seperti itulah yang kemudian disebut sebagai "ngolah". Bukan dalam arti memanipulasi atau mencari perhatian, melainkan kemampuan mengelola percakapan agar lawan bicara merasa dihargai, dihormati, dan nyaman selama berinteraksi.
Dalam berbagai potongan video yang beredar, perhatian warganet bukan hanya tertuju pada siapa yang diajak berbicara oleh Choky, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan lawan bicaranya.
Ia dinilai mampu menempatkan orang yang diajak berbicara sebagai pusat perhatian, mendengarkan dengan saksama, serta memberikan respons yang membuat percakapan terasa hangat dan mengalir.
Fenomena ini kemudian memunculkan diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya kemampuan berkomunikasi. Banyak yang menyadari bahwa public speaking bukan hanya soal berbicara di atas panggung atau menyampaikan presentasi di depan banyak orang.
Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan berkomunikasi juga tercermin dari cara seseorang mendengarkan, memilih kata yang tepat, menjaga intonasi, hingga menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara.
Tak sedikit pula warganet yang berpendapat bahwa kemampuan seperti ini menjadi salah satu soft skill yang semakin dibutuhkan.
Baik saat membangun relasi profesional, menghadapi wawancara kerja, bertemu orang baru, maupun menjalin pertemanan, komunikasi yang membuat orang lain merasa dihargai dinilai mampu menciptakan kesan yang lebih baik.
Meski begitu, banyak pengguna media sosial juga mengingatkan bahwa "ngolah" berbeda dengan bersikap manipulatif.
Baca Juga: Senggol Balik Julia Prastini alias Jule, Jennifer Coppen: Jangan Sok Mantep dan Merendahkan Netizen!
Kemampuan komunikasi yang baik bukan bertujuan memengaruhi orang lain dengan cara yang tidak jujur, melainkan membangun interaksi yang sehat melalui empati, perhatian, dan rasa saling menghargai.
Viralnya istilah "ngolah" menunjukkan bagaimana media sosial tidak hanya melahirkan tren baru, tetapi juga memunculkan cara pandang baru terhadap pentingnya keterampilan berkomunikasi.
Berawal dari kolom komentar sebuah video, istilah ini kini berkembang menjadi perbincangan yang mengingatkan bahwa komunikasi yang baik bukan tentang menjadi pembicara paling hebat, melainkan tentang bagaimana membuat lawan bicara merasa didengar, dihormati, dan dihargai. (ras/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto