Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Review Film Dilan ITB 1997: Transformasi Ariel Noah Jadi Dilan Dewasa di Tengah Gejolak Reformasi 98

Didi Agung Eko Purnomo • Sabtu, 9 Mei 2026 | 22:41 WIB
Penampilan Ariel Noah Sebagai Dilan (DOK. @film_dilan1997)
Penampilan Ariel Noah Sebagai Dilan (DOK. @film_dilan1997)

SOLOBALAPAN, FILM — Semesta Dilan kembali menyapa layar lebar dengan nuansa yang lebih mendalam dan reflektif.

Sejak resmi dirilis pada 30 April 2026, film Dilan ITB 1997 langsung menjadi magnet bagi para pecinta drama romansa tanah air.

Masih di bawah arahan sutradara Fajar Bustomi dan Pidi Baiq, film ini menawarkan perspektif baru mengenai kedewasaan karakter Dilan yang kini tidak lagi sekadar panglima tempur di jalanan, melainkan seorang mahasiswa yang berhadapan dengan pilihan hidup yang nyata.

Konflik Cinta Segitiga yang Lebih Realistis

Berbeda dengan seri-seri sebelumnya yang fokus pada romansa masa SMA, Dilan ITB 1997 membawa penonton ke dalam dinamika cinta segitiga antara Dilan, Ancika, dan Milea.

Konflik emosional yang dihadirkan terasa lebih kompleks, menyentuh sisi kedewasaan dalam menentukan pilihan di antara kenangan masa lalu dan komitmen masa depan.

Baca Juga: Bocoran Film The Mandalorian and Grogu: Alasan Jon Favreau Tampilkan Wajah Pedro Pascal Lebih Sering

Latar Belakang Reformasi 1998

Salah satu elemen yang memberikan bobot lebih pada film ini adalah penggunaan latar belakang sosial-politik Indonesia menjelang Reformasi 1998.

Kehadiran konteks sejarah ini membuat alur cerita tidak hanya berkutat pada urusan hati, tetapi juga bagaimana para karakternya merespons perubahan zaman yang penuh ketegangan.

Debut Ariel Noah sebagai Dilan Dewasa

Kejutan terbesar dari film ini tentu saja adalah penampilan Ariel Noah yang memerankan sosok Dilan versi dewasa.

Ariel dinilai berhasil menghidupkan karakter Dilan yang lebih reflektif, tenang, namun tetap memiliki ciri khas dialog yang puitis.

 Transformasi ini memberikan warna baru yang segar sekaligus mengobati kerinduan penggemar lama.

Detail Produksi dan Visual Nostalgik

Visual kota Bandung di era 90-an kembali menjadi kekuatan utama.

Detail artistik yang dihadirkan oleh tim produksi berhasil membangun suasana nostalgia yang kuat, didukung oleh naskah ringan namun bermakna garapan Adhitya Mulya, Ninit Yunita, dan Pidi Baiq.

Setelah sepekan penayangannya, respons publik terpantau sangat positif.

Film ini dianggap sukses menutup celah antara imajinasi pembaca novel dengan realitas visual di layar lebar, menjadikannya tontonan wajib bagi siapa saja yang pernah merasa "ter-Dilan-Dilan" pada masanya.

(Riza Hidayatulloh/did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Dilan ITB 1997 #Reformasi 98 #ariel noah #review #film