Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Tempoe Doeloe Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

PayLater di E-Commerce, Memudahkan atau Menjerumuskan?

Rahma Azra Calista • Kamis, 16 Juli 2026 | 14:04 WIB
Fitur PayLater menjadi salah satu metode pembayaran yang tersedia di berbagai platform e-commerce. (AI Generated)
Fitur PayLater menjadi salah satu metode pembayaran yang tersedia di berbagai platform e-commerce. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Kemudahan berbelanja di e-commerce kini semakin didukung dengan hadirnya fitur PayLater atau layanan beli sekarang, bayar nanti. Fitur ini menjadi pilihan sebagian masyarakat karena menawarkan fleksibilitas pembayaran, terutama saat kebutuhan mendesak muncul sebelum kondisi keuangan memungkinkan. Namun, di balik kemudahan tersebut, PayLater juga memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya perilaku konsumtif. 

Bagi Pratama, 27, karyawan swasta yang berdomisili di Kota Solo, PayLater menjadi solusi untuk mengatur arus kas ketika menghadapi kebutuhan yang tidak terduga. Ia mengaku telah menggunakan layanan tersebut selama sekitar dua tahun. Awalnya, ia tertarik memanfaatkan PayLater karena berbagai promo yang ditawarkan. Kini, ia lebih sering memanfaatkan fitur tersebut untuk membeli kebutuhan rumah tangga atau membayar tagihan ketika waktu gajian belum tiba.

Baca Juga: Benarkah Gen Z Gampang Terkena Pinjol dan 7udol? Berikut Beberapa Alasannya Menurut OJK!

Menurut Pratama, penggunaan PayLater akan tetap aman selama pengguna mampu mengendalikan pengeluarannya. Ia membatasi total tagihan agar tidak melebihi 10 hingga 20 persen dari gaji bulanan dan selalu melunasinya setelah menerima gaji.

“Yang penting itu bukan menganggap PayLater sebagai uang tambahan, tetapi uang yang memang harus dibayar bulan depan. Selama tahu batas kemampuan, menurut saya fitur ini sangat membantu,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).

Pengalaman berbeda dialami Faiha, 23, mahasiswi tingkat akhir Universitas Sebelas Maret (UNS). Ia mulai menggunakan PayLater karena tertarik dengan berbagai promo yang ditawarkan platform e-commerce. Kemudahan tersebut membuatnya lebih sering membeli barang tanpa mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

Baca Juga: Hati-hati dengan Ajakan Investasi Ilegal! Kini Soceng Makin Merajalela hingga Banyak Korbannya, Berikut Tips dari Satgas OJK!

Akibat kebiasaan itu, Faiha pernah terlambat membayar tagihan setelah terlalu banyak berbelanja saat promo. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa kemudahan PayLater justru dapat menjadi bumerang apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang baik. Kini, ia memilih berhenti menggunakan fitur tersebut agar tidak kembali tergoda berbelanja.

"Sekarang prinsipku sederhana, kalau saldo di m-banking tidak cukup, berarti memang belum mampu membeli. Jadi aku memilih berhenti menggunakan PayLater supaya lebih bisa mengontrol pengeluaran," ujarnya, Rabu (15/7/2026).

Baca Juga: Sudah Tahu Cara Atur THR Agar Awet? Simak Panduan Investasi dan Dana Darurat dari Ahli Keuangan

Pengalaman kedua narasumber tersebut sejalan dengan penelitian berjudul “Pengaruh Penggunaan PayLater terhadap Perilaku Impulse Buying Pengguna E-Commerce di Indonesia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan PayLater berpengaruh terhadap perilaku impulse buying atau pembelian impulsif pada pengguna e-commerce. Dari 404 responden yang diteliti, penggunaan PayLater memberikan pengaruh sebesar 6,4 persen terhadap kecenderungan melakukan pembelian secara spontan.

Perbedaan pengalaman Pratama dan Faiha menunjukkan bahwa PayLater tidak selalu membawa dampak yang sama bagi setiap pengguna. Bagi sebagian orang, fitur ini dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan saat kondisi keuangan sedang terbatas. Namun, tanpa pengendalian diri dan pengelolaan keuangan yang baik, kemudahan yang ditawarkan juga berpotensi mendorong perilaku konsumtif. Oleh karena itu, penggunaan PayLater perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial agar manfaatnya dapat dirasakan tanpa menimbulkan beban di kemudian hari.

 

Editor : Kabun Triyatno
konsumtif Ecommerce belanja keuangan PayLater