SOLOBALAPAN.COM - Biasanya, umbi perlu dimasak terlebih dahulu sebelum bisa disantap. Namun, ada yang berbeda dari yakon. Umbi yang dibudidayakan di kawasan Dieng ini justru bisa langsung dimakan setelah dikupas, tanpa harus direbus atau dikukus.
Keunikan yakon tidak berhenti pada cara makannya. Bagian dalam umbi ini memiliki tekstur yang renyah dan berair. Rasanya juga manis, sehingga ketika dimakan langsung, sensasinya lebih mengingatkan pada buah daripada umbi yang selama ini dikenal seperti singkong atau ubi jalar.
Baca Juga: Purbaya Bilang Mau Mancing Usai Dicopot, Netizen Malah Bikin Candaan: Ada yang Ajak Ngopi
Yakon dikenal dengan nama ilmiah Smallanthus sonchifolius. Tanaman ini berasal dari Pegunungan Andes dan kemudian dibudidayakan di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Dataran Tinggi Dieng.
Di Kabupaten Banjarnegara, yakon salah satunya dikembangkan di Desa Bakal, Kecamatan Batur. Tanaman ini telah dikenal masyarakat setempat dan mulai dibudidayakan secara lebih serius sebagai komoditas sejak sekitar 2015.
Saat dipanen, yakon memang masih terlihat seperti umbi pada umumnya. Namun, bagian yang membuatnya berbeda baru terasa saat disantap. Kulitnya cukup dikupas, kemudian daging umbinya bisa langsung dimakan dalam keadaan segar.
Baca Juga: PLAVE Masuk Lineup MMA 2026 Bareng RIIZE dan NCT WISH, Kok Bisa Idol Virtual Ikut?
Tekstur renyah dan kandungan airnya membuat yakon tidak terasa seperti umbi yang biasanya disantap setelah melalui proses pemasakan. Rasa manis alaminya juga membuat umbi ini bisa dinikmati tanpa harus diberi tambahan bumbu.
Karena bisa dimakan dalam keadaan mentah, yakon juga dapat digunakan sebagai bahan makanan yang membutuhkan tekstur segar. Umbi ini antara lain bisa dijadikan campuran salad maupun rujak.
Baca Juga: Karakter Gayatri Raja Padmi dalam Tari Bedhaya Kidung Gayatri
Keberadaan yakon di Dieng menambah daftar tanaman yang menarik dari kawasan dataran tinggi tersebut. Selama ini, umbi lebih sering dibayangkan sebagai bahan makanan yang harus diolah terlebih dahulu. Yakon justru menawarkan cara menikmati yang berbeda.
Bentuknya tetap umbi karena tumbuh di dalam tanah. Namun, ketika sudah berada di meja makan, yakon bisa diperlakukan seperti buah. Cukup dikupas, lalu disantap langsung untuk mendapatkan rasa manis dan tekstur renyahnya. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : Berbagai Sumber