Di Balik Bunyi Gamelan Sekaten, Ada Tradisi Nginang, ini Maksudnya!

SOLOBALAPAN.COM - Sekaten di Yogyakarta tidak hanya ditandai dengan penabuhan gamelan pusaka. Ketika suara gamelan mulai terdengar, ada pula kebiasaan masyarakat yang dilakukan pada waktu tersebut.
Kebiasaan itu dikenal sebagai nginang, yaitu mengunyah kinang. Dalam tradisi Sekaten, sebagian masyarakat mulai menginang bersamaan dengan dimulainya penabuhan gamelan.
Baca Juga: Pecahkan Sejarah Alutsista Indonesia! Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Tiba di Jakarta Besok
Sekaten merupakan tradisi yang berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Salah satu bagian yang paling dikenal dalam rangkaian ini adalah penabuhan dua gamelan pusaka Keraton Yogyakarta.
Kedua gamelan tersebut bernama Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga. Keduanya dibawa dari keraton menuju pagongan di halaman Masjid Gedhe Kauman untuk dimainkan selama rangkaian Sekaten.
Penabuhan gamelan menjadi salah satu tanda dimulainya rangkaian tersebut. Momen itu pula yang berkaitan dengan kebiasaan nginang di kalangan masyarakat yang masih menjalankan tradisinya.
Dalam pelaksanaannya, waktu mengunyah kinang bukan sekadar ditentukan oleh kehadiran penjual atau suasana perayaan. Ada masyarakat yang sengaja mulai nginang ketika gamelan pertama kali dibunyikan.
Kebiasaan tersebut juga disertai kepercayaan tertentu. Nginang saat gamelan Sekaten mulai ditabuh dipercaya dapat membawa berkah dan membuat seseorang awet muda.
Kepercayaan mengenai awet muda itu merupakan bagian dari pandangan tradisional masyarakat. Hal tersebut tidak dapat diposisikan sebagai manfaat kesehatan yang telah terbukti secara medis.
Kinang sendiri menjadi salah satu barang yang dapat ditemukan di sekitar pelaksanaan Sekaten. Kehadirannya berjalan bersama berbagai makanan dan barang tradisional yang muncul selama perayaan.
Sekaten juga memiliki jajanan khas lain, salah satunya endog abang. Jajanan ini berupa telur ayam rebus dengan kulit yang diberi warna merah, kemudian ditusukkan pada bilah bambu dan dihias.



