WONOGIRI, SOLOBALAPAN.COM – Di balik sejuknya udara lereng perbukitan Kecamatan Bulukerto, Desa Conto kembali menghidupkan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Ngreksa Bumi bukan sekadar upacara adat sebagai ungkapan syukur atas hasil panen, tetapi telah menjelma menjadi magnet wisata budaya yang mampu mengundang pengunjung dari berbagai daerah.
Menariknya, banyak wisatawan memilih datang sehari lebih awal bahkan menginap di homestay milik warga demi menyaksikan seluruh rangkaian prosesi yang digelar pada Selasa (7/7/2026).
Bagi mereka, pengalaman menikmati tradisi dari awal hingga akhir menjadi sesuatu yang tak tergantikan.
Tidak hanya menyaksikan ritual adat, tetapi juga merasakan hangatnya kehidupan masyarakat desa yang masih memegang teguh nilai gotong royong.
Tradisi yang Menjaga Harmoni Alam dan Manusia
Kepala Desa Conto, Rudi Cahyono, mengatakan Ngreksa Bumi merupakan tradisi leluhur yang terus dijaga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas berkah hasil bumi sekaligus doa agar masyarakat senantiasa diberi keselamatan dan kemakmuran.
Rangkaian kegiatan diawali pada Senin malam dengan istigasah, dilanjutkan ruwat desa sebagai simbol penyucian sekaligus permohonan perlindungan bagi seluruh warga.
Memasuki puncak acara, nuansa sakral berpadu dengan kemeriahan pertunjukan seni tradisional yang menghidupkan suasana desa.
Seni Tradisional Jadi Hiburan Gratis
Sepanjang hari, masyarakat dan wisatawan disuguhi beragam kesenian khas Desa Conto. Mulai dari tarian tradisional hingga cokekan yang diiringi alunan gamelan sederhana hasil permainan para seniman lokal.
Tidak ada panggung mewah ataupun tiket masuk. Semua pertunjukan dapat dinikmati secara gratis.
Anak-anak, remaja hingga orang tua larut dalam suasana kebersamaan. Wisatawan pun bebas berbaur dengan warga, mengabadikan momen, hingga berbincang langsung dengan para pelaku seni.
Justru kesederhanaan inilah yang menjadi daya tarik utama. Pengunjung dapat merasakan atmosfer budaya Jawa yang masih alami dan jauh dari kesan komersial.
Baca Juga: Sekda, Asisten I dan Kepala DPU PR Sukoharjo Tinggalkan KPK, Bertolak Pulang ke Daerah
Makan Bersama, Simbol Kebersamaan
Setelah seluruh prosesi adat selesai, warga menggelar kenduri bersama. Tumpeng dan aneka hidangan sederhana disajikan untuk dinikmati bersama masyarakat maupun tamu yang hadir.
Sayur-mayur yang tersaji berasal dari hasil panen petani Desa Conto sendiri, menjadi simbol rasa syukur atas limpahan rezeki sekaligus wujud kebersamaan tanpa memandang status sosial.
Momen makan bersama itu menjadi penutup yang hangat setelah sehari penuh mengikuti ritual adat dan pertunjukan budaya.
Menginap Lalu Berwisata ke Destinasi Sekitar
Menurut Rudi, tingginya antusiasme wisatawan membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat desa. Homestay milik warga terisi, warung-warung ramai, hingga pelaku UMKM ikut merasakan manfaat dari meningkatnya kunjungan.
"Alhamdulillah pengunjung ramai. Yang menginap setelah acara Ngreksa Bumi juga banyak yang kemudian berwisata ke Gua Resi ataupun Soko Langit," ujarnya.
Tak sedikit wisatawan menjadikan Ngreksa Bumi sebagai awal perjalanan menikmati destinasi wisata lain di kawasan Bulukerto, seperti Gua Resi maupun Soko Langit, yang dikenal memiliki panorama alam pegunungan dan udara yang sejuk.
Wisata yang Menghadirkan Pengalaman, Bukan Sekadar Pemandangan
Baca Juga: Kisah Penjaga Kenangan Audio Jadul di Kota Solo, Tangan Dingin Ferry Sulap Rongsokan Jadi Cuan
Ngreksa Bumi membuktikan bahwa daya tarik wisata tidak selalu lahir dari bangunan megah atau wahana modern.
Tradisi yang dijaga dengan tulus, keramahan masyarakat, serta kekayaan budaya justru mampu menghadirkan pengalaman yang membekas bagi setiap pengunjung.
Di Desa Conto, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat sebuah pertunjukan. Mereka pulang membawa cerita tentang desa yang masih menjaga warisan leluhur, tentang gotong royong yang tetap hidup, dan tentang sebuah tradisi yang berhasil menjadi jembatan antara budaya, pariwisata, dan kesejahteraan masyarakat. (al/an)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com