SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Selasa sore (19/5/2026), deretan kendaraan roda dua dan roda empat merayap padat memadati Jalan Slamet Riyadi, Solo.
Di tengah cuaca sore yang masih menyengat kulit, para pengendara tampak bergegas pulang. Sebagian penunggang motor terlihat mengenakan sarung tangan cerah, mencoba menghalau terik yang tersisa.
Namun, tepat di ujung jalan, atmosfer riuh itu mendadak luruh begitu memasuki kawasan Pura Mangkunegaran.
Kemegahan bangunan tradisional berpadu dengan ketenangan yang magis, menawarkan pelarian sempurna dari hiruk-pikuk Kota Bengawan.
Begitu melewati pintu masuk, senyum ramah petugas keamanan langsung menyambut pengunjung. Melangkah lebih dalam ke area pendopo, atmosfer khas Jawa terasa kian kental. Sebagai tanda penyambutan hangat (sambutan pambagyo), abdi dalem bersama pihak pengelola menyajikan secangkir teh rempah hangat.
Aroma rempah yang menguar perlahan di udara seolah menjadi pengantar yang pas sebelum memulai petualangan rasa.
Menapaki Pracimasana yang Megah dan Modern
Ketika waktu reservasi tiba, pengunjung diarahkan menuju Pracimasana, restoran megah yang berada di dalam kawasan Pracima Tuin (Taman Pracima).
Bangunan ini tampil menawan dengan dominasi dinding kaca transparan yang dihiasi tanaman rambat hijau di sisinya. Arsitekturnya berhasil mengawinkan unsur tradisional Jawa dan sentuhan modern yang sejuk dipandang.
Di tengah halaman, sebuah air mancur putih berdiri kokoh menjadi pusat perhatian. Area ini menjadi spot favorit pengunjung yang ingin mengabadikan momen lewat lensa kamera sebelum masuk ke ruang makan.
Baca Juga: Honda City Terbaru Nongol di Thailand, Buang Bentuk Hatchback Balik Sedan Lagi?
Pracimasana tidak sekadar menawarkan tempat makan yang estetik. Lebih dari itu, setiap menu yang tersaji di sini—mulai dari hidangan pembuka, menu utama, hingga hidangan penutup—dikemas dengan tampilan yang sangat elegan.
Menariknya, kemewahan ala royal dining ini cukup terjangkau. Dengan merogoh kocek mulai dari Rp40 ribu hingga Rp200 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati suguhan eksklusif ala Pracimasana.
Menikmati Potongan Sejarah Lewat Cita Rasa
Di balik kelezatan yang memanjakan lidah, ada narasi sejarah yang panjang. Setiap piring yang disajikan membawa cerita tentang selera personal para penguasa Mangkunegaran dari generasi ke generasi.
Sebut saja menu Tape Ijo Legi dan Salad Tuna Segar, yang merupakan salah satu hidangan favorit Adipati Mangkunegaran saat ini, KGPAA Mangkunegara X (Gusti Bhre).
Sementara untuk pencinta hidangan daging, ada Bebek Konfit (Duck Confit) yang disajikan dengan Saus Asem Jawi—sebuah perpaduan kuliner Barat dan lokal yang konon menjadi menu kesukaan KGPAA Mangkunegara III.
Sebagai pembuka sebelum menu utama, pengunjung juga bisa mencicipi Sup Jagung Hangat. Sup gurih ini merupakan makanan favorit KGPAA Mangkunegara VII. Berada di sini membuat pengunjung tidak hanya sekadar mengunyah makanan, melainkan diajak menyelami potongan sejarah melalui cita rasa yang diwariskan turun-temurun.
Senja Jingga di Balik Dinding Kaca
Pracimasana memberikan waktu makan (dining time) sekitar 90 menit bagi para tamu. Sembari menunggu pesanan dimasak, sebagian besar pengunjung memanfaatkan waktu dengan berfoto di area halaman.
Sore itu, lidah para tamu dimanjakan oleh manis-segar sepasang Es Dawet Telasih dan gurihnya Kroket Segara khas Pracimasana yang disajikan hangat.
Meski durasi makan telah usai, para tamu tidak perlu terburu-buru pulang. Pihak pengelola masih memperbolehkan pengunjung untuk berjalan-jalan santai di sekitar halaman dan mengabadikan momen.
Saat matahari perlahan menggelincir ke barat, langit Solo berubah warna menjadi jingga keemasan. Cahaya senja yang menembus sela-sela bangunan menghadirkan pemandangan magis yang syahdu.
Di bawah langit senja Pura Mangkunegaran, waktu seolah berhenti, menyisakan kehangatan rasa dan ketenangan yang membekas di hati. (Lutfiana Sekar/AN)
Editor : Andi Aris Widiyanto