SOLOBALAPAN.COM – Di sudut kampung Balong, Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Solo, terdapat sebuah prasasti yang menjadi saksi perjalanan sejarah kampung tersebut.
Warga setempat mengenalnya dengan sebutan ”Bok Teko”.
Meski hanya berupa prasasti berbentuk kotak sederhana dan tidak terlalu mencolok, Bok Teko menyimpan banyak makna dan cerita yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Prasasti ini bukan sekedar penanda sejarah belaka, melainkan simbol kebersamaan yang menggambarkan kehidupan yang harmonis masyarakat Jawa dan Tionghoa yang telah hidup berdampingan selama ratusan tahun.
Bok teko terletak di sudut Kmpung Balong, yang dekat dengan sungai kecil.
Baca Juga: Terpikat Senja Wonogiri, SBY Spontan Turun ke Sawah Selogiri Sambil Goreskan Kuas di Kanvas
Bok teko menjadi penanda bahwa, pada zaman dulu sudah terjalin hubungan harmonis antara orang-orang Tionghoa dengan penduduk Pribumi.
Di balik nama yang terdengar unik tersebut, tersimpan filosofi yang sarat makna.
Dalam pandangan masyarakat, teko melambangkan kehidupan yang mampu memberikan manfaat bagi banyak orang. Sedangkan tutup teko menggambarkan kesatuan yang menjaga isi di dalamnya.
Filosofi itu kemudian dimaknai sebagai pentingnya persatuan, saling menghormati, dan menjaga keharmonisan antarsesama.
Nilai tersebut tidak hanya bagian dari cerita masa lalu, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sosial masyarakat Kampung Balong hingga sekarang.
Di balik prasasti yang tampak sederhana itu, tersimpan kisah mengenai asa-usul nama Buk Teko. Menurut keterangan warga sekitar, dulu kawasan tersebut menjadi tempat kongkow antara orang-orang Tionghoa dan Jawa.
Bahkan Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sri Susuhunn Pakubuwana (PB) X sering mendatangi tempat tersebut, hanya untuk sekadar bersantai dengan meminum secangkir teh berasama orang-orang Tionghoa.
”Buk Teko ini punya sejarah. Menurut cerita eyang saya dulu, ketika Raja Pakubuwana X dalam perjalanannya ke Kampung Balong, berkumpul dengan orang Tionghoa di sini sambil minum teh gula batu. Di jalan itu, tutup tekonya jatuh ke sungai. Sampai sekarang belum ketemu. Karena itu di sini namanya Buk Teko,” ujar tokoh masyarakat Kampung Balong Yanuar.
Baca Juga: Pernah Kenal Baik, Anisa Bahar Syok Mala Agatha Ikut Nyanyikan Lagu Mesum! 'Dulu Orangnya Sopan'
Peristiwa tersebut kemudian dipercaya warga sekitar sebagai sejarah keberadaan Bok Teko di Kampung Balong.
Hanya saja, versi lain asal usul Bok Teko coba diterjemahkan pemerhati sejarah Kota Solo yang tak lain Ketua Solo Societeit Dani Saptoni.
Menurut Dani, Bok teko merupakan tetenger sejarah yang memiliki filosofis mendalam.
Menurut arsip sebuah surat kabar terbitan 1933, menjelaskan bahwa kawasan di sekitar Bok Teko dulunya tempat berkumpul etnis Tionghoa untuk memperingati hari besar tiap setahun sekali.
”Sebenernya, di dekat bok teko itu dulu ada sebuah gedung pertemuan orang-orang Tionghoa. Setiap setahun sekali mereka mengadakan perkumpulan dengan mengundang warga sekitar untuk minum teh bareng. Orang Tionghoa kalau minum teh, pasti pakai teko,” beber Dani.
Tradisi minum teh bersama tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan simbol keterbukaan warga pribumi terhadap etnis Tionghoa.
Melalui tradisi minum teh, masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul, berbincang, dan menjalin hubungan nan akrab.
Kebiasaan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kehidupan harmonis masyarakat pribumi dan Tionghoa di Kampung Balong telah terjalin sejak puluhan tahun silam.
Seiring berjalannya waktu, nilai-nilai kebersamaan yang lahir dari tradisi Bok Teko terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi perayaan budaya yang kini dikenal sebagai Grebeg Sudiro, sebuah agenda budaya tahunan yang memadukan unsur budaya Jawa dan Tionghoa.
Melalui kirab budaya, gunungan, pertunjukan seni, hingga berbagai kegiatan sosial, Grebeg Sudiro menjadi simbol nyata akulturasi budaya sekaligus wujud kerukunan masyarakat di Kampung Balong.
Hingga kini, Bok Teko tetap berdiri sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Kampung Balong. Di balik bentuknya yang sederhana, monumen tersebut mengingatkan bahwa kerukunan tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui kebersamaan, saling menghormati, dan interaksi yang terus dipelihara dari generasi ke generasi.
Nilai itulah yang menjadikan Bok Teko bukan hanya sebuah peninggalan sejarah, tetapi juga simbol harmonisasi yang masih hidup di tengah masyarakat Kota Solo. (sit/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto