Berawal dari Kutukan Berdarah dari Sang Ayah Berujung Perang Saudara hingga Moksanya Sang Ardhaneswari

Adi Pras • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 19:47 WIB
Ilustrasi Ken Dedes (gpt AI)
Ilustrasi Ken Dedes (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Kekayaan yang dimiliki Indonesia tidak hanya kekayaan alam yang melimpah ruah. Tetapi juga kekayaan budaya juga kekayaan atas cerita sejarah di tanah Jawa jauh sebelum Indonesia menjadi sebuah negara yang berdaulat. 

Sejarah di tanah Jawa tidak ada habisnya tidak jarang juga saling sambung menyambung dari cerita satu dengan cerita lainnya.

Sebelum Majapahit terbentuk terdapat kisah dari seorang wanita, seorang permaisuri yang begitu memilukan yang nantinya di masa depan permaisuri ini dijuluki “Ibu dari Para Raja” bahkan memiliki sebutan “Sang Prajnaparamita”. 

Niken Dedes atau lebih sering dikenal dengan Ken Dedes, putri dari seorang Brahmana Budha Mahayana bernama Mpu Purwa yang tinggal di Desa Panawijen.

Baca Juga: Keunikan Tari Zapin Melayu: Perpaduan Gerak dan Nilai Budaya

Tidak hanya memiliki rupa yang cantik menawan, kulitnya pun putih berseri-beseri. Hal itu menarik perhatian Sang Akuwu Tunggul Ametung. 

Ketertarikan Sang Akuwu tidak tertahankan lagi, ia memaksa Ken Dedes untuk menerima permintaan Tunggul Ametung untuk memperistri Ken Dedes.

Namun permintaan Tunggul Ametung mendapat penolakan tegas dari Ken Dedes, sebenarnya Ken Dedes hanya meminta Tunggul Ametung untuk sedkit bersabar menunggu dan meminta izin kepada Mpu Purwa, Ayah Ken Dedes yang sedang bertapa. 

Baca Juga: The Lost Library: Kisah Mortimer dan Misteri Perpustakaan yang Terbakar

Sayangnya Tunggul Ametung tidak bisa membayangkan jika ia harus menunggu, akhirnya Tunggul Ametung menculik Ken Dedes dan membawanya ke Tumapel. 

Ken Dedes tidak hanya marah kepada Tunggul Ametung tetapi juga kecewa karena telah membuatnya merasa kehilangan harga diri karena Ken Dedes diperistri dengan cara yang tidak pantas oleh Sang Akuwu. 

Kutukan Berdarah yang Tidak Hanya untuk Sang Akuwu.

Saat Mpu Parwa mengetahui jika putinya di culik oleh seorang Akuwu Tumapel yang ternyata menganut kepercayaan yang berbeda.

Mpu Parwa mengeluarkan Supata atau Kutukan Berdarah yang tidak hanya untuk Tunggul Ametung tetapi juga untuk seluruh desa, karena tidak ada satupun warga desa yang memberitahu tentang penculikan putrinya.

Baca Juga: Mendobrak Batas Stadion, BTS Bawa Euforia Tur 'Arirang' Amerika Latin ke 3.800 Bioskop Dunia

Di sisi lain Ken Dedes hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya yang harus menjadi seorang istri dengan cara yang tidak bisa dikatakan pantas.

Tidak ada kebahagiaan di hati Ken Dedes, ia selalu berdoa agar Dewata mengirimkan seseorang yang dapat membayar rasa sakit hatinya dengan cara yang sepadan. 

Kemunculan Ken Arok Sang Pemberontak yang Membalaskan Dendam Sang Prajnaparamita. 

Ken Arok merupakan seorang pemimpin pasukan pengawal Akuwu dan keluarganya. Ken Arok dan Ken Dedes sering bertemu, saat Ken Arok mengawal Ken Dedes.

Tumbulah perasaan cinta diantara mereka, hingga suatu hari saat Ken Arok mengawal Ken Dedes seberkas cahaya yang dilihat Ken Arok itu mengubah segalanya.

Baca Juga: Ande-Ande Lumut Khas Solo, Olahan Singkong yang Sekilas Mirip Kolak

Kain Ken Dedes tersingkap oleh angin besar yang mengakibatkan kain itu tersingkap hingga ke bagian atas betis, Ken Arok melihat seberkas cahaya yang muncul.

Dari yang Ken Arok tau dari gurunya Brahmana Lohgawe, jika seberkas cahaya muncul diantara betis itu berarti Ken Dedes adalah sosok Ardhaneswari yang menurunkan raja-raja besar. 

Sebuah ambisi muncul di dalam diri Ken Arok, dengan keris Mpu Gandring yang dipesannya di Lulambang serta memanfaatkan kecerobohan Kebo Ijo.

Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung saat Sang Akuwu itu sedang tidur. Ken Dedes yang menyaksikan kejadian tersebut menangis histeris.

Namun saat Ken Dedes mengetahui pembunuh suaminya itu adalah Ken Arok tangisan itu berubah menjadi kebahagiaan karena doanya dikabulkan oleh Dewata, Suami Ken Dedes itu berakhir dengan tragis selaras dengan Supata yang diucapkan oleh Mpu Parwa. 

Baca Juga: Hachi Ternyata Punya Nama Jepang yang Berarti Yatim Piatu, Ini Arti di Balik Judul Kartunnya

Ken Dedes Menikah dengan Ken Arok saat Mengandung Anusapati

Ken Arok memperistri Ken Dedes saat ia sedang mengandung, usia kandungannya saat itu sudah beranjak ke bulan ketujuh. 

Bersama Tunggul Ametung, Ken Dedes memiliki putra bernama Anusapati. Bersama Ken Arok, Ken Dedes melahirkan Dewi Rimbu Wunga Telang, dan Ghunign Baya.

Pada tahun 1222 Masehi, Ken Arok berhasil merebut Kediri menjadi bawahan Tumapel melalui pertempuran di Desa Ganter. 

Kehidupan pernikahan Ken Dedes bersama Ken Arok awalnya sangat harmonis dan penuh kebahagiaan. Namun hal itu berubah saat Ken Arok memboyong Ken Umng yang sebenarnya adalah istri pertama Ken Arok. 

Baca Juga: Tepis Isu Gesekan di Kemenkeu! Purbaya Akhirnya Buka Suara Usai Di-reshuffle dari Menkeu oleh Presiden Prabowo

Setelah mengetahui kebenaran itu, rasa cinta dan kasih Ken Dedes perlahan berubah menjadi benci dan dendam. Ken Dedes merasa Ken Arok tidak menghargai pengorbanan yang ia lakukan untuk Ken Arok hingga Ken Arok bisa menduduki tahta. 

Berdasarkan yang tertulis pada Prasasti Mula Malurung tahun 1255 Masehi, Ken Arok dengan Ken Umang dianugerahi empat orang anak, yaitu Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wregola, dan Dewi Rambi. 

Tangisan Pilu Anusapati Membuat Ken Dedes Mengutus Balas Dendam kepada Ken Arok. 

Karena Anusapati adalah putra Ken Dedes bersama Tunggul Ametung, hal itu memuat Ken Arok tidak menyuaki Anusapti.

Dibuktiksan saat Ken Arok memberikan tahta Daha yang seharusnya menjadi milik Anusapati kepada adik-adiknya. Anusapati menangis di pangkuan ibunya, meluapkan seluruh kesedihannya karena mendapat perlakuan tidak adil dari Ken Arok. 

Baca Juga: Sebelum Jadi Sailor Moon, Ternyata Usagi Bukan Tokoh Utama Pertama!

Sebagai seorang ibu, Ken Dedes bis merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Anusapati. Hal itu membuat Ken Dedes menceritakan semua yang sudah terjadi, menceritakan penyebab kematian tragis Ayah kandung Anusapati.

Mengetahui kebenaran kematian Ayah kandungnya, membuat Anusapati membalas dendam kepada Ken Arok. Dengan berbekal keris Mpu Gandring yang diberikan ibunya, Anusapati menghabisi nyawa Ayah angkatnya itu.

Akhirnya Anusapati menjadi Raja menggantikan Ken Arok. 

Berujung dengan Perang Saudara yang Menjadi Titik Awal Runtuhnya Singasari 

Satu dendam terbalaskan dendam lainnya mulai muncul. Panji Tohjaya membalaskan dendam kematian Ayahnya kepada Anusapati.

Baca Juga: Bikin Geram Netizen! Pria Arogan Tiba-Tiba Tendang Wanita Hingga Tersungkur di Mal Senayan City

Panji Tohjaya bersama para pendukungnya menghabisi nyawa Anusapati. Ken Dedes menyaksiksan bagaimana keris Mpu Gandring itu menjadi peranti perang saudara itu. 

Sang Prajnaparamita ini pasrah menjalani sisa hidupnya, namun kesedihan megingat kedua suaminya beserta para keturunanya berakhir tragis dengan keris Mpu Gandring itu, akhirnya Ken Dedes memilih untuk menempuh jalan menuju alam keabadian dengan Moksa. Ken Dedes mendapat sebutan Prajnaparamita yang menjadi simbol kesempurnaan dan keabadian.  (adhima aulia)

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
adhima aulia Ken Dedes Ken Arok tanah Jawa singasari