SOLOBALAPAN, SURAKARTA - Dalam sebuah pertunjukan kethoprak, sorot lampu dan tepuk tangan penonton biasanya tertuju pada para aktor yang piawai berimprovisasi.
Namun, di balik layar, ada sosok yang memikul beban tanggung jawab paling besar: Sutradara.
Menjadi sutradara kethoprak bukan sekadar mengarahkan adegan, melainkan menjaga martabat pertunjukan dari masa latihan hingga pementasan berakhir.
Sutradara adalah sosok yang paling banyak berpikir saat berproses, namun menjadi yang paling pasrah ketika tirai panggung mulai dibuka.
Tanggung Jawab yang Tak Terlihat
Realitas pahit sering kali harus dihadapi oleh para sutradara.
Baca Juga: Kisah Muhammad Arifin Ilham: Tantangan Mahasiswa Kudus Menaklukkan Panggung Kethoprak Solo
Jika pemain tampil memukau, sanjungan penonton akan mengalir deras kepada aktor tersebut.
Sebaliknya, jika pementasan terasa hambar atau kurang maksimal, konsep dan kualitas arahan sutradaralah yang pertama kali diragukan.
“Bagaimana tidak menjadi beban, jika nama sutradara sendiri dipertaruhkan atas baik tidaknya pertunjukan yang ia buat,” tulis narasi yang menggambarkan keresahan para pengarah lakon ini.
Siasat Kreatif di Tengah Keterbatasan Anggaran
Tantangan teknis juga sering kali mencekik kreativitas.
Juan Tanger Monty, seorang mahasiswa seni yang aktif sebagai sutradara kethoprak, menceritakan pengalamannya menghadapi klien yang menginginkan pertunjukan megah namun dengan anggaran yang sangat terbatas.
"Sebagai sutradara itu memang banyak pusingnya. Budget tidak memungkinkan, maka jalan yang saya ambil adalah dengan sanggit atau membuat kisah yang tidak perlu melibatkan banyak aktor untuk mengurangi biaya kostum, serta meminimalisir adegan agar properti tidak bengkak," papar Juan.
Menghadapi Aktor "Durhaka"
Selain urusan anggaran, tantangan terbesar sutradara adalah menyatukan ego para pemain. Juan menekankan pentingnya sikap tegas terhadap aktor yang merasa paling hebat hingga berani "menyutradarai" rekan mainnya sendiri.
Ia menyebut perilaku tersebut sebagai bentuk kedurhakaan terhadap proses kolektif.
"Aktor yang merasa paling tahu justru sering kali kualitasnya paling rendah. Saya harus tegas agar semua berada dalam satu komando, namun tetap obyektif sesuai unggah-ungguh (tata krama) kesenian tradisi agar tidak menjadi masalah pribadi," tegasnya.
Seni Menjaga Mental Pemain
Seorang sutradara kethoprak yang bijak biasanya akan menahan diri untuk tidak memuji pemain secara berlebihan di depan publik saat latihan.
Hal ini dilakukan bukan karena pelit apresiasi, melainkan agar para aktor tidak tinggi hati dan tetap merasa "kurang" sehingga terus serius dalam berlatih.
Pada akhirnya, sutradara adalah nahkoda yang harus cerdas membaca situasi, tegas menjaga komando, dan memiliki mental baja untuk mempertanggungjawabkan seluruh konsepnya di hadapan penonton.
(did/riza)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo