Misteri Petirtaan Sendang Beji Boyolali, Jejak Mataram Hindu dan Tirakat Pengundang Derajat
Abdul Khofid Firmanda Putra• Jumat, 13 Februari 2026 | 22:35 WIB
Petirtaan Sendang Beji di Desa Kopen, Teras, Boyolali dipercaya berusia lebih dari seribu tahun.
SOLOBALAPAN.COM – Di tengah bentang persawahan Desa Kopen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, tersembunyi sebuah mata air tua yang tak sekadar menjadi tempat membasuh tubuh.
Namanya Petirtaan Sendang Beji.
Di balik rimbun pepohonan tua berakar besar, air jernih itu mengalir pelan dari perut bumi. Warga percaya, sendang tersebut telah ada lebih dari seribu tahun—sebuah saksi bisu lintasan zaman yang tak sepenuhnya terungkap.
Pecinta budaya asal Boyolali, Eko Bambang Setiawan, menuturkan bahwa dulu sendang itu ramai oleh warga yang mandi dan mencuci pakaian.
Kini, suasananya lebih sunyi. Hanya petani yang datang selepas bekerja, membersihkan lumpur dari kaki dan tangan mereka.
Namun Sendang Beji bukan sekadar tempat membersihkan raga.
Tirakat dan Wiwit di Bawah Bayang Pohon Tua
Sejak dulu hingga kini, ada kebiasaan yang tak pernah benar-benar hilang. Menjelang panen, petani menggelar tradisi wiwit. Sesaji diletakkan di tepi sendang, doa-doa dilantunkan dalam lirih, memohon keselamatan dan kelimpahan hasil bumi.
“Juga sering digunakan untuk tirakat, kungkum. Biasanya yang kungkum punya hajat untuk derajat dan keselamatan,” ungkap Eko.
Kungkum—berendam dalam air sendang di waktu tertentu—masih dilakukan sebagian orang. Air yang muncul alami dari tanah itu dipercaya membawa energi kesucian.
Malam-malam tertentu, suasana sendang terasa lebih hening dari biasanya, hanya gemericik air yang terdengar di sela desir angin sawah.
Tak jarang, peziarah datang dari luar kota. Saat wartawan kami berkunjung, seorang pria asal Madiun, Jawa Timur, tengah melakukan tirakat di kompleks makam yang berdampingan dengan petirtaan.
Sendang Beji diyakini berkaitan dengan kompleks makam di sebelahnya. Di area itu ditemukan berbagai peninggalan batu kuno: lingga yoni, batu candi, hingga arca seperti Arca Lembu Andini.
Lingga dan yoni merupakan simbol sakral dalam tradisi Hindu kuno. Keberadaannya menguatkan dugaan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi bagian dari kompleks peribadatan masa lampau.
Staf Kebudayaan Disdikbud Boyolali, Farid Burhanuddin, menyebut petirtaan ini diduga bagian dari kompleks candi kuno.
“Kalau petirtaan ini diperkirakan sudah sangat tua. Bisa dilihat dari pohon yang ada di sini, ukurannya sudah sangat besar,” jelasnya.
Menurutnya, air Sendang Beji kemungkinan dahulu digunakan untuk mensucikan diri para biksu sebelum beribadah. Secara periodisasi awal, situs ini diperkirakan berasal dari abad ke-10 hingga ke-13 Masehi, era Mataram Hindu.
Meski demikian, Farid menegaskan kajian arkeologis lebih mendalam masih dibutuhkan untuk memastikan asal-usulnya.
Sendang Beji di Teras: Air Kuno, Arca Tersisa, dan Jejak Pengawal Diponegoro
Makam Pengawal Diponegoro
Di kompleks yang sama, terdapat dua makam yang dipercaya sebagai makam pengawal Pangeran Diponegoro. Hingga kini, makam tersebut masih menjadi tujuan tirakat.
Sebelum berziarah, sebagian peziarah memilih membersihkan diri lebih dulu di Sendang Beji—seolah mengikuti ritual purba yang telah diwariskan turun-temurun.
Sendang itu terus mengalir. Diam. Tenang. Seolah menyimpan rahasia berlapis-lapis dari masa ketika kerajaan masih berdiri, doa-doa dilantunkan dalam bahasa kuno, dan manusia datang untuk mencari keselamatan.
Di tengah modernitas yang bergerak cepat, Sendang Beji tetap setia pada sunyinya—menjadi simpul antara sejarah, keyakinan, dan misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan. (fid/an)