SOLOBALAPAN.COM - Tarian Buto Gedruk atau biasa disebut dengan rampak buto ini dilatarbelakangi oleh kesenian rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat.
Dilansir dari Jurnal Seni Pertunjukan, bahwa Tari Buto Gedruk berasal dari Magelang, dan sekarang dimainkan di Semarang, Solo, dan Boyolali.
Tarian ini awalnya berasal dari lereng Gunung Merapi di Magelang, Jawa Tengah.
Namun, kesenian Buto Gedruk juga dilestarikan di Daerah Kadipiro, Banjarsari, Surakarta.
Selain itu, tarian ini juga mempunyai filosofi tersendiri seperti pada tarian pada umumnya.
Sebagian orang percaya bahwa Tari Buto Gedruk memiliki filosofi, bahwa arti buto memiliki watak keras.
Itu menunjukkan bahwa tarian ini memiliki tekad yang kuat seperti buto atau raksasa.
Gerakan tarian yang dinamis dengan ratusan lonceng dipasang pada setiap kaki pemain mencerminkan semangat ini.
Tarian ini juga memiliki sebuah keunikan dimana para penari yang menarikan ini identik dengan kerincingan yang digunakan.
Tarian Buto Gedruk menceritakan perjuangan para pandhita untuk mengalahkan buto-buto.
Kesenian Buto Gedruk adalah seni rakyat yang biasanya ditampilkan pada upacara tertentu, acara besar, dan sebagai hiburan masyarakat.
Tarian ini biasanya menggunakan topeng buto yang terlihat seram. Hal ini tujuannya adalah untuk meningkatkan karakter Buto Gedruk itu
Buto Gedruk itu sendiri memiliki arti raksasa yang sedang marah sehingga menyebabkan gedrukan atau hentakan pada kaki.
Berat topi yang biasa dipakai oleh setiap penari dapat mencapai 2.300 gram.
Anda bisa melihat pertunjukkan ini secara langsung di indoor maupun outdoor.
Kesenian ini juga menampilkan atraksi-atraksi pemain yang berada di bawah alam sadar.
Sampai saat ini, tarian ini masih terus berkembang di Solo. (mg8/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro