SOLOBALAPAN.COM - Suasana hangat terasa di kawasan taman dan tepi kolam The Sunan Hotel Solo pada Sabtu (11/7/2026) sore. Puluhan peserta duduk berkelompok sambil membawa buku pilihan masing-masing.
Di bawah rindangnya pepohonan, mereka larut dalam bacaan sebelum akhirnya saling bertukar cerita tentang buku yang baru saja dibaca.
Tak ada penilaian soal genre atau ketebalan buku. Yang ada hanyalah obrolan santai, tawa, dan rasa ingin tahu terhadap pengalaman membaca satu sama lain.
Kegiatan bertajuk Solo Book Party (SBP) itu dimulai pukul 15.00 WIB. Komunitas literasi ini mengajak peserta membaca bersama, berdiskusi, sekaligus mengikuti talkshow bertema inklusivitas.
Baca Juga: Book's Kitchen, Ketika Buku dan Masakan Hangat Menjadi Ruang untuk Pulang
Konsepnya sederhana, tetapi mampu menghadirkan suasana yang akrab bagi siapa pun yang ingin bertemu lewat buku.
Acara dibuka dengan sesi perkenalan. Satu per satu peserta memperkenalkan diri, menyebutkan makanan favorit, buku favorit, hingga buku yang sedang mereka baca. Dari obrolan ringan itu, percakapan pun mengalir dengan sendirinya.
Peserta saling bertukar rekomendasi buku, berbagi pengalaman membaca, bahkan membahas alasan mengapa mereka menyukai sebuah bacaan.
Setelah sesi perkenalan, peserta dibagi ke dalam lima kelompok kecil. Masing-masing kelompok dipandu oleh seorang greeter yang bertugas membuka diskusi dan menjaga agar obrolan tetap berjalan.
Baca Juga: Kisah Mata Hari di Indonesia dalam Novel The Spy Paulo Coelho
Beragam judul buku dibahas dalam setiap kelompok, mulai dari buku nonfiksi seperti Makam Tanpa Nama dan karya-karya Pramoedya Ananta Toer, hingga novel fiksi karya Tere Liye, Annelies, dan berbagai bacaan populer lainnya.
Koordinator Solo Book Party, Naufal, mengatakan komunitas ini hadir sebagai tempat berkumpul bagi siapa saja yang memiliki minat membaca tanpa harus merasa dihakimi karena pilihan bukunya.
"Solo Book Party dibangun sebagai komunitas membaca yang inklusif. Semua jenis buku diterima tanpa menghakimi atau no book shaming. Kami ingin menjadi ruang bagi pembaca pemula maupun pembaca yang sudah lama membaca untuk saling berbagi pengalaman," ujarnya.
Naufal yang juga mengelola Toko Buku Mata Pacar di Lokananta menjelaskan bahwa nilai inklusivitas yang diusung Solo Book Party tidak hanya tercermin dari beragamnya jenis buku yang dibahas, tetapi juga dari keterbukaan komunitas terhadap semua kalangan.
Menurutnya, Solo Book Party terbuka bagi siapa saja, termasuk kelompok yang masih sering mengalami diskriminasi, seperti perempuan, penyandang disabilitas, hingga komunitas queer.
Berbagai kolaborasi juga dilakukan untuk menunjukkan bahwa komunitas literasi dapat menjadi tempat yang ramah bagi semua orang.
"Komunitas menjadi tempat orang-orang dengan minat yang sama untuk bertemu. Kami ingin Solo Book Party menjadi ruang yang nyaman bagi siapa pun untuk berdiskusi tentang buku tanpa takut dihakimi," kata Naufal.
Usai diskusi kelompok, acara dilanjutkan dengan talkshow yang dimoderatori oleh Kak Jae. Dalam sesi tersebut hadir Mbak Indah, Mbak Septi, dan Silvi, seorang penyandang disabilitas, yang berbagi pandangan mengenai pentingnya membangun lingkungan yang inklusif serta memahami perbedaan antara difabel dan non-difabel.
Diskusi berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan paparan narasumber, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman.
Pembahasan pun berkembang, mulai dari aksesibilitas bagi penyandang disabilitas hingga pentingnya menciptakan komunitas yang menerima perbedaan.
Solo Book Party sendiri telah berjalan sekitar dua tahun dan rutin mengadakan kegiatan hampir setiap minggu di berbagai ruang publik di Solo.
Selain membaca bersama, komunitas ini juga kerap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan diskusi yang relevan dengan dunia literasi.
Naufal mengaku awalnya bergabung karena ingin bertemu dengan orang-orang yang memiliki kegemaran membaca.
Kepengurusan Solo Book Party sebelumnya dipegang oleh Ara, kemudian dilanjutkan oleh dirinya bersama tim sejak 2024.
Baca Juga: Mengulas Novel Namaku Alam Karya Leila S. Chudori: Ajak Pembaca Berdamai dengan Masa Lalu
Di akhir wawancara, ia mengajak anak muda untuk tidak ragu memulai kebiasaan membaca dari buku yang mereka sukai.
"Mulailah membaca dari buku yang kamu sukai. Tidak perlu langsung membaca buku yang berat karena setiap orang memiliki proses belajar yang berbeda," tuturnya.
Ia juga menilai budaya book shaming justru dapat menghambat minat baca. Pengalaman pribadinya membuat ia menyadari bahwa tidak ada bacaan yang lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan bacaan lainnya.
"Setiap orang memiliki proses membaca yang berbeda. Kalau kita terus menghakimi pilihan bacaan orang lain, orang akan takut untuk mulai membaca. Padahal yang paling penting adalah membangun kebiasaan membaca itu sendiri," jelasnya.
Melalui kegiatan seperti ini, Solo Book Party ingin menunjukkan bahwa membaca bukan sekadar menyelesaikan satu buku. Lebih dari itu, membaca juga menjadi cara untuk bertemu orang baru, bertukar sudut pandang, dan belajar menghargai perbedaan. (*)
Editor : Kabun Triyatno