Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengapa Banyak Stasiun Kereta Api di Indonesia Bergaya Belanda?

L
Penulis: Luthfiana Sekar❯
Bangunan Stasiun Jakarta Kota mempertahankan arsitektur bergaya kolonial Belanda yang menjadi salah satu ikon perkeretaapian bersejarah di Indonesia. (Pinterest)
Bangunan Stasiun Jakarta Kota mempertahankan arsitektur bergaya kolonial Belanda yang menjadi salah satu ikon perkeretaapian bersejarah di Indonesia. (Pinterest)

Advertisement

SOLOBALAPAN.COM - Pernahkah kamu memperhatikan bahwa banyak stasiun kereta api tua di Indonesia memiliki bentuk bangunan yang khas? 

Dinding tebal, jendela berukuran besar, langit-langit tinggi, hingga ornamen bergaya Eropa masih dapat dijumpai di sejumlah stasiun, seperti Stasiun Jakarta Kota, Tugu Yogyakarta, Semarang Tawang, Solo Balapan, hingga Cirebon Kejaksaan. 

Ternyata, gaya arsitektur tersebut erat kaitannya dengan sejarah perkembangan kereta api di Indonesia pada masa kolonial Belanda.

Perkeretaapian di Indonesia mulai berkembang pada pertengahan abad ke-19. 

Jalur kereta api pertama dibangun oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 1864, kemudian disusul perusahaan milik pemerintah kolonial Staatsspoorwegen (SS) yang membangun jaringan rel di berbagai wilayah Pulau Jawa.

Advertisement

Bersamaan dengan pembangunan jalur kereta, didirikan pula stasiun-stasiun yang mengadopsi gaya arsitektur Eropa yang saat itu berkembang di Belanda.

Meski bergaya Eropa, desain bangunan stasiun tidak sepenuhnya meniru kondisi di negara asalnya. Para arsitek menyesuaikannya dengan iklim tropis Indonesia. 

Hal itu terlihat dari penggunaan jendela berukuran besar untuk memperlancar sirkulasi udara, langit-langit yang tinggi agar ruangan terasa lebih sejuk, serta teras yang lebar untuk melindungi bangunan dari panas matahari dan hujan.

Selain mempertimbangkan kenyamanan, pembangunan stasiun juga memperhatikan fungsi operasional. 

Pada masa kolonial, kereta api menjadi sarana penting untuk mengangkut hasil perkebunan, barang dagangan, serta penumpang antarkota. Karena itu, banyak stasiun dibangun di kawasan strategis yang dekat dengan pusat pemerintahan, pelabuhan, atau pusat perdagangan.

Advertisement

Artikel Terkait

KA Argo Bromo Anggrek, Kereta Legendaris Andalan Jalur Pantura

KA Argo Bromo Anggrek, Kereta Legendaris Andalan Jalur Pantura

KA Argo Bromo Anggrek menjadi salah satu kereta eksekutif andalan PT KAI yang melayani rute Jakarta–Surabaya melalui jalur Pantura sejak 1997.

Stasiun Wonogiri, Saksi Sejarah Jalur Kereta yang Pernah Menjangkau Baturetno

Stasiun Wonogiri, Saksi Sejarah Jalur Kereta yang Pernah Menjangkau Baturetno

Stasiun Wonogiri menjadi stasiun akhir jalur Purwosari–Wonogiri. Di balik aktivitas KA Batara Kresna, stasiun ini menyimpan sejarah jalur kereta yang dahulu membentang hingga Baturetno.

Stasiun Ketapang, Gerbang Kereta Api di Ujung Timur Pulau Jawa

Stasiun Ketapang, Gerbang Kereta Api di Ujung Timur Pulau Jawa

Stasiun Ketapang menjadi stasiun aktif paling timur di Pulau Jawa. Lokasinya yang dekat dengan Pelabuhan Ketapang menjadikannya penghubung penting menuju Bali sekaligus penopang pariwisata Banyuwangi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer