Mengapa Banyak Stasiun Kereta Api di Indonesia Bergaya Belanda?

SOLOBALAPAN.COM - Pernahkah kamu memperhatikan bahwa banyak stasiun kereta api tua di Indonesia memiliki bentuk bangunan yang khas?
Dinding tebal, jendela berukuran besar, langit-langit tinggi, hingga ornamen bergaya Eropa masih dapat dijumpai di sejumlah stasiun, seperti Stasiun Jakarta Kota, Tugu Yogyakarta, Semarang Tawang, Solo Balapan, hingga Cirebon Kejaksaan.
Ternyata, gaya arsitektur tersebut erat kaitannya dengan sejarah perkembangan kereta api di Indonesia pada masa kolonial Belanda.
Baca Juga: 5 Stasiun Kereta Api dengan Arsitektur Paling Memukau di Indonesia
Perkeretaapian di Indonesia mulai berkembang pada pertengahan abad ke-19.
Jalur kereta api pertama dibangun oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 1864, kemudian disusul perusahaan milik pemerintah kolonial Staatsspoorwegen (SS) yang membangun jaringan rel di berbagai wilayah Pulau Jawa.
Bersamaan dengan pembangunan jalur kereta, didirikan pula stasiun-stasiun yang mengadopsi gaya arsitektur Eropa yang saat itu berkembang di Belanda.
Meski bergaya Eropa, desain bangunan stasiun tidak sepenuhnya meniru kondisi di negara asalnya. Para arsitek menyesuaikannya dengan iklim tropis Indonesia.
Hal itu terlihat dari penggunaan jendela berukuran besar untuk memperlancar sirkulasi udara, langit-langit yang tinggi agar ruangan terasa lebih sejuk, serta teras yang lebar untuk melindungi bangunan dari panas matahari dan hujan.
Selain mempertimbangkan kenyamanan, pembangunan stasiun juga memperhatikan fungsi operasional.
Pada masa kolonial, kereta api menjadi sarana penting untuk mengangkut hasil perkebunan, barang dagangan, serta penumpang antarkota. Karena itu, banyak stasiun dibangun di kawasan strategis yang dekat dengan pusat pemerintahan, pelabuhan, atau pusat perdagangan.



