BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Tabir teka-teki penyebab kematian tragis yang menimpa seorang pria bernama Bayu akhirnya mulai dibongkar secara ilmiah oleh aparat penegak hukum.
Tim Dokkes (Bidokkes) Polda Jawa Tengah bersama Sat Reskrim Polres Boyolali melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam korban di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat pada Kamis (21/5) untuk menggelar proses otopsi menyeluruh.
Langkah hukum kedokteran kehakiman ini terpaksa ditempuh penyidik demi mengendus bukti-bukti yuridis yang valid terkait adanya dugaan tindak pidana kekerasan fisik brutal yang berujung pada hilangnya nyawa korban.
Kronologi Kejadian: Diawali Provokasi hingga Aksi Pembantingan
Berdasarkan fakta awal yang dihimpun dari berkas penyelidikan, insiden berdarah ini sejatinya terjadi cukup lama, tepatnya pada 5 April 2026.
Yang mengejutkan, lokasi kejadian perkara berada di kawasan sensitif, yakni di area sekitar Rumah Dinas Bupati Boyolali.
Peristiwa bermula saat korban terlibat cekcok akibat provokasi sepihak dari terduga pelaku. Berusaha menghindari pertikaian yang lebih luas, Bayu sempat membalikkan badan untuk meninggalkan lokasi.
Naas, terduga pelaku yang tersulut emosi justru memburu kembali korban hingga terjadilah kontak fisik sepihak, pergulatan hebat, hingga aksi pembantingan tubuh korban ke tanah.
Pasca-insiden pergulatan itu, korban yang tidak terima langsung bergegas melayangkan laporan resmi ke markas kepolisian setempat. Namun, di tengah proses hukum berjalan, kondisi fisik korban mendadak drop secara drastis.
"Korban sempat mengeluhkan sesak napas yang sangat hebat di bagian dadanya. Petugas langsung melarikan korban ke rumah sakit terdekat, namun nyawanya gagal tertolong hanya beberapa jam setelah mendapatkan perawatan medis," ungkap sumber internal kepolisian.
Cari Kepastian Ilmiah Hubungan Sebab-Akibat Kematian
Proses ekshumasi dan otopsi di area pemakaman tersebut turut dikawal langsung oleh pihak keluarga almarhum Bayu yang didampingi oleh kuasa hukum mereka, Budi Sularyono.
Peta Hukum Pengusutan Kasus Kematian Bayu:
Budi Sularyono menegaskan, otopsi ini menjadi harga mati agar kasus ini tidak melahirkan spekulasi liar atau rumor liar di tengah masyarakat Boyolali, mengingat tempat kejadian perkara berada di lingkungan rumah dinas pejabat publik.
“Autopsi dilakukan guna memperoleh kepastian ilmiah dan yuridis terkait penyebab meninggalnya Almarhum Bayu. Kita harus tahu secara pasti apakah ada hubungan kausalitas (sebab-akibat) yang kuat antara tindakan kekerasan yang dialami korban dengan kondisi medis yang menyebabkannya meninggal dunia,” urai Budi melalui keterangan tertulisnya.
Keluarga Desak Polisi Terapkan Pasal Berlapis
Pihak keluarga melalui kuasa hukumnya mengapresiasi gerak taktis Polres Boyolali dan Tim Dokkes Polda Jateng yang dinilai profesional dan transparan sejak awal penanganan kasus.
Namun, mereka juga mewanti-wanti penyidik agar tidak ragu menjatuhkan sanksi hukum terberat bagi terduga pelaku.
Keluarga mendorong agar nantinya penyidik menerapkan ketentuan pidana yang relevan, baik pasal penganiayaan berat maupun pasal kelalaian yang menyebabkan kematian, serta tidak menutup kemungkinan penerapan pasal pidana berlapis lainnya begitu hasil forensik resmi dikeluarkan oleh tim dokter emansipasi.
Kini publik Boyolali menanti hasil laboratorium forensik Polda Jateng: Apakah kematian Bayu murni karena serangan penyakit mendadak, ataukah akibat hantaman fatal dari aksi pembantingan sang pelaku? (fid/an)