SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Penampilan Tari Lenggang Mesatya dari Sanggar Sekar Sandat menjadi salah satu sajian yang mencuri perhatian dalam rangkaian Solo Menari 2026 di Balai Kota Surakarta, Selasa (28/4/2026).
Tarian ini tidak hanya menghadirkan keindahan gerak, tetapi juga menunjukkan semangat para penarinya yang sebagian besar merupakan ibu-ibu, namun tetap tampil lincah dan luwes di atas panggung.
Tari Lenggang Mesatya dikenal sebagai tarian yang menggabungkan kelembutan gerak dengan ekspresi yang kuat. Secara umum, tarian ini mengangkat nilai kesetiaan (mesatya) yang tercermin dalam gerakan yang anggun dan penuh makna.
Baca Juga: 50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim: Parkir Dulu, Jangan Digunakan!
Gerakan dalam tarian ini banyak menonjolkan keluwesan tangan, ekspresi wajah, serta penggunaan properti seperti kipas yang menjadi simbol keindahan dan dinamika dalam tari.
Tari ini juga memiliki pengaruh kuat dari budaya Bali, yang terlihat dari pola gerak, ekspresi, hingga kostum yang digunakan para penari.
Salah satu penari dari Sanggar Sekar Sandat, Ni Ketus Sukarni, mengungkapkan bahwa persiapan dilakukan sejak pagi hari secara bergotong royong.
“Kami mulai rias dari jam 6 pagi secara bergantian. Ada yang make up, ada yang menyiapkan kostum, semua saling membantu. Jadi tidak terburu-buru saat tampil karena kami sudah siap sejak awal,” ujarnya.
Baca Juga: 50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim: Parkir Dulu, Jangan Digunakan!
Menurutnya, kebersamaan menjadi kunci dalam mempersiapkan penampilan, terutama karena para penari berasal dari berbagai latar belakang.
Menariknya, para penari tidak hanya berasal dari Bali, tetapi juga dari berbagai daerah lain seperti Sumatra. Perpaduan latar belakang tersebut justru memperkaya dinamika dalam penampilan Tari Lenggang Mesatya.
Meski demikian, Sukarni mengakui tidak semua penari memiliki tingkat penguasaan yang sama.
“Mungkin ada yang belum hafal karena belum sepenuhnya siap. Ada yang sudah terbiasa, ada juga yang masih belajar. Jadi mohon maaf jika belum seragam. Maklum, karena kami ibu-ibu, tingkat hafalannya berbeda dengan anak-anak,” ungkapnya.
Nama Sanggar Sekar Sandat sendiri memiliki makna filosofis yang mendalam. “Sekar Sandat” diibaratkan sebagai bunga yang semakin layu justru semakin harum.
Filosofi ini mencerminkan para penari yang meskipun telah berusia, tetap mampu menghadirkan keindahan dan semangat dalam berkesenian.
Melalui penampilan ini, para penari berharap seni tari tradisional terus dilestarikan dan dicintai oleh generasi muda.
“Mudah-mudahan tetap dilestarikan, digali, dan dikembangkan. Kita tidak boleh bosan belajar tari tradisional, khususnya tari Bali,” ujarnya.
Ia juga berharap seni tari dari berbagai daerah semakin dikenal luas di Indonesia.
“Semoga seni tari, baik tari Bali maupun daerah lain, semakin dikenal di Nusantara. Anak-anak muda juga diharapkan mencintai dan mampu menarikan tarian daerah,” tambahnya.
Penampilan Tari Lenggang Mesatya dalam Solo Menari 2026 menjadi bukti bahwa seni tari tidak mengenal batas usia. Dengan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya, para penari mampu menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya indah, tetapi juga penuh makna.
Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan oleh siapa saja, selama ada kemauan untuk terus belajar dan berkarya. (Lutfiana Sekar/AN)
Editor : Andi Aris Widiyanto