SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Stabilnya harga minyak goreng curah ternyata tidak sejalan dengan kondisi pasar.
Di Pasar Legi, penjualan justru terus menurun dalam beberapa tahun terakhir—mengindikasikan persoalan yang lebih dalam dari sekadar fluktuasi harga.
Salah satu pedagang, Sriyanti, menyebut harga minyak goreng curah saat ini berada di kisaran Rp20.600 per kilogram dan relatif stabil pasca Lebaran.
Baca Juga: Ribuan Tiang Internet “Liar” di Sragen, DPRD Siapkan Sanksi hingga Pidana
“Untuk harga masih stabil, per kilo Rp20.600. Sebelum Lebaran sempat naik, tapi tidak sampai Rp21 ribu,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Namun, stabilitas harga tersebut tak mampu menahan penurunan jumlah pembeli. Sriyanti mengaku tingkat permintaan turun hingga 30 persen dibandingkan kondisi sebelumnya.
“Dulu ramai sekali, sekarang sepi, tidak seperti dulu,” keluhnya.
Fenomena ini menandakan adanya pergeseran perilaku konsumen. Sebagian masyarakat mulai beralih ke minyak goreng kemasan bermerek yang dinilai lebih praktis dan memiliki jaminan kualitas, meski dengan harga lebih tinggi.
Di sisi lain, pasar minyak curah selama ini memang ditopang oleh pelaku usaha kecil, bukan rumah tangga semata. Mulai dari penjual gorengan hingga industri rumahan seperti kerupuk menjadi konsumen utama.
“Kalau di sini kebanyakan untuk industri, seperti goreng kerupuk atau gorengan,” jelas Sriyanti.
Namun, tekanan daya beli kini juga dirasakan oleh segmen tersebut. Penurunan konsumsi di tingkat pelaku usaha berdampak langsung pada seretnya perputaran barang di tingkat pedagang.
Praktik pembelian dalam jumlah besar untuk dijual kembali pun ikut melambat. Biasanya, pembeli membawa dirigen untuk dikemas ulang dalam ukuran kecil sebelum dipasarkan kembali. Kini, volume pembelian ikut menyusut.
Salah satu pembeli, Abdul Rohman, mengakui tetap memilih minyak curah karena lebih hemat untuk kebutuhan usaha.
“Lebih irit, selisihnya bisa Rp3 ribu sampai Rp5 ribu,” ujarnya.
Namun, ia juga tak menampik bahwa daya beli masyarakat yang menurun ikut memukul usahanya.
“Biasanya saya bawa dua dirigen, sekarang cuma satu. Itu pun habisnya lama,” tambahnya.
Kondisi ini memperlihatkan ironi di pasar tradisional: harga yang stabil tidak otomatis mendorong transaksi. +
Ketika daya beli melemah dan preferensi konsumen berubah, komoditas yang dulu menjadi andalan justru mulai kehilangan tempatnya.
Baca Juga: Lolos ke Putaran Nasional, Persebi Boyolali Usung Misi Promosi ke Liga 3 dengan Kekuatan Lokal
Jika tren ini terus berlanjut tanpa intervensi—baik dari sisi perlindungan pasar tradisional maupun penguatan daya beli—bukan tidak mungkin minyak goreng curah akan semakin terpinggirkan, tergeser oleh produk kemasan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman. (alf/an)