SOLOBALAPAN.COM – Tradisi sepak bola di Kota Surakarta kini tak lagi didominasi kaum adam.
Dalam beberapa tahun terakhir, ekosistem sepak bola wanita di Kota Solo terus bergeliat, tumbuh subur dari level akar rumput hingga dipercaya menjadi venue turnamen internasional.
Ketua PSSI Solo, Arya Surendra (Rio), mengungkapkan bahwa hingga Desember 2025, tercatat ada tiga klub putri aktif yang konsisten melakukan pembinaan.
Tak hanya klub, geliat ini juga merambah ke komunitas dan Sekolah Sepak Bola (SSB) usia dini.
Roadmap 2026: Database hingga Talent Identification
PSSI Solo tidak ingin sepak bola putri hanya menjadi "pelengkap". Rio menjelaskan bahwa pihaknya tengah menggodok roadmap pengembangan yang komprehensif.
“Fokus kami ada pada database pemain dan klub, peningkatan kualitas pelatih bersertifikat, hingga talent identification. Kami ingin menciptakan tim putri yang mampu bersaing di tingkat nasional,” ujar Rio kepada tim Jawa Pos Radar Solo.
Dukungan nyata juga diberikan melalui akses fasilitas yang adil. Dengan adanya Stadion Manahan dan Stadion Sriwedari yang berstandar FIFA, Solo memiliki modal infrastruktur yang tidak dimiliki semua kota.
Bukti Nyata: Tuan Rumah ASEAN U-16 Girls Championship
Kepercayaan publik internasional terhadap Solo sudah teruji. Tahun lalu, Solo sukses menjadi tuan rumah ASEAN U-16 Girls Championship.
Event ini menjadi bukti bahwa infrastruktur dan manajemen kompetisi di Solo sudah siap menyangga turnamen putri skala besar.
Melawan Stigma dan Minimnya Sponsor
Namun, jalan menuju kesuksesan bukan tanpa hambatan. Rio mengakui ada tiga tantangan besar yang masih menghantui.
Yang pertama adalah kompetisi reguler yang belum kuat. Hal ini berdampak pada minimnya jam terbang pemain.
Yang kedua adalah minimnya minat sponsor. Keterbatasan dana membuat manajemen tim putri sering kekurangan tenaga medis dan pelatih spesifik.
Terakhir adalah soal stigma sosial. Hingga saat ini masih ada anggapan bahwa sepak bola adalah "olahraga laki-laki", meski perlahan persepsi ini mulai bergeser.
“PSSI berkomitmen menutup gap tersebut melalui kebijakan akses fasilitas yang adil. Pengelolaan sepak bola putri tidak boleh lagi dipandang sebelah mata,” tegas Rio. (hj/nik/dam)
Editor : Damianus BramSumber : Solo Balapan