SOLOBALAPAN.COM - Alarm bahaya berbunyi untuk Persis Solo hanya dua hari menjelang kick-off BRI Super League 2025/2026.
"Penyakit lama" tim, yakni masalah indisipliner dan koleksi kartu, kembali kambuh di masa pramusim.
Dua kartu merah yang diterima dalam lima laga uji coba menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pelatih Peter de Roo.
Sikap ini menjadi sorotan karena merupakan masalah serius yang merugikan tim pada musim sebelumnya.
Cerminan Musim Lalu yang Penuh Pelanggaran
Masalah disiplin menjadi perhatian tajam karena merupakan pengulangan dari musim lalu.
Pada musim kompetisi 2024/2025, Laskar Sambernyawa tercatat mengoleksi 73 kartu kuning dan enam kartu merah.
Catatan buruk ini kerap membuat tim pincang dan kesulitan dalam rotasi pemain di laga-laga krusial.
Faqih Maulana dan Cleylton Santos Jadi Sorotan
Kini, bayang-bayang masalah tersebut kembali muncul di pramusim.
Dua pemain, Faqih Maulana dan Cleylton Santos, sama-sama harus keluar lebih awal karena diganjar kartu merah dalam dua laga uji coba yang berbeda.
Pelatih Peter de Roo pun mengakui hal ini masuk dalam evaluasi seriusnya.
"Ya, itu masuk dalam evaluasi tim. Tapi kasus pelanggaran keduanya mungkin hal yang berbeda. Untuk kasusnya Cleylton (saat melawan Bali United), mungkin saya harus melihat lagi.
Menurut saya, harusnya mungkin posisi kakinya enggak harus masuk," ucap de Roo, mengindikasikan pelanggaran yang bisa dihindari.
Evaluasi Keras Pelatih: 'Ini Kecerobohan'
Menurut de Roo, pelanggaran yang tidak perlu dan berbuah kartu merah ini lahir dari "kecerobohan" para pemainnya.
Ia mengimbau anak asuhnya untuk bermain lebih hati-hati dan cerdas di atas lapangan.
"Ada beberapa kecerobohan yang mungkin akhirnya harus dibayar dengan pelanggaran yang harusnya bisa tidak dilakukan," lanjutnya.
Tantangan Utama Menuju Musim Baru
Masalah disiplin ini menjadi tantangan terbesar yang harus segera diatasi oleh Peter de Roo.
Di tengah progres taktik dan fisik yang positif selama pramusim, "penyakit lama" ini berpotensi merusak semua kerja keras yang telah dibangun.
Bagaimana Laskar Sambernyawa mengelola emosi dan bermain lebih cerdas akan menjadi kunci utama nasib mereka di musim kompetisi yang ketat ini. (nis/did)