SOLOBALAPAN.COM – Kalau sedang ngobrol dengan teman sebaya, kata “lo” dan “gue” mungkin terasa begitu biasa. Dua kata ini bahkan sudah digunakan oleh banyak orang di luar Jakarta, meski penuturnya tidak selalu berasal dari lingkungan Betawi.
Karena begitu lekat dengan gaya bicara Jakarta, lo dan gue sering dianggap sebagai bagian dari bahasa Betawi. Namun, asal-usul keduanya ternyata lebih panjang. Kata yang sekarang identik dengan percakapan santai anak muda Jakarta tersebut berkaitan dengan kontak bahasa antara masyarakat lokal dan komunitas Tionghoa di Batavia.
Baca Juga: “Si Huma” Bukan Sekadar Kartun, Ceritanya Kenalkan Anak pada Lingkungan dan Kehidupan Sosial
Lo dan Gue Ternyata Berasal dari Hokkien
Dalam kajian mengenai pronomina bahasa Indonesia, bentuk gua/gue dan lu/lo disebut sebagai pinjaman dari bahasa Hokkien yang masuk ke Melayu Betawi. Gua digunakan untuk menyebut orang pertama, sedangkan lu merujuk pada orang kedua.
Jadi, ketika seseorang mengatakan “gue” untuk menyebut dirinya sendiri atau “lu” untuk menyapa lawan bicara, bentuk tersebut sebenarnya memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada sekadar bahasa gaul Jakarta.
Perubahan bentuk dari gua menjadi gue dan lu menjadi lo juga menunjukkan bahwa kata yang masuk dari bahasa lain dapat mengalami penyesuaian ketika digunakan oleh komunitas penutur baru.
Dengan kata lain, bahasa tidak selalu berpindah dalam bentuk yang persis sama. Ketika sebuah kata digunakan dalam lingkungan bahasa yang berbeda, pengucapan dan bentuknya dapat ikut berkembang.
Baca Juga: “Si Huma” Pernah Jadi Tonggak Animasi Indonesia, Begini Sejarahnya
Kok Bisa Masuk ke Bahasa Betawi?
Jawabannya berkaitan dengan sejarah interaksi masyarakat di Batavia.
Komunitas Tionghoa telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan ekonomi Batavia. Interaksi antara masyarakat Tionghoa dan masyarakat lokal berlangsung dalam berbagai bidang, termasuk perdagangan dan kehidupan sehari-hari.
Kontak yang berlangsung terus-menerus membuat unsur bahasa Hokkien ikut masuk ke dalam bahasa yang digunakan masyarakat lokal. Penelitian mengenai sejarah bahasa Jakarta mencatat bahwa gua dan lu masuk ke dalam Melayu Betawi melalui interaksi ekonomi dan sosial antara masyarakat Tionghoa dan masyarakat lokal di Batavia.
Dari Melayu Betawi, kedua kata tersebut kemudian memiliki perjalanan yang lebih panjang. Dalam bahasa Jakarta masa kini, gua/gue dan lu/lo menjadi salah satu bentuk pronomina informal yang sangat umum digunakan.
Dari Bahasa Komunitas Jadi Bahasa Gaul
Menariknya, perjalanan lo-gue tidak berhenti sebagai bagian dari ragam Betawi.
Penelitian mengenai variasi bahasa Jakarta menunjukkan bahwa gue merupakan bentuk pinjaman Hokkien melalui Betawi yang kemudian berkaitan dengan identitas anak muda Jakarta. Sementara itu, bentuk gua juga digunakan oleh penutur Jakarta, meskipun memiliki nuansa sosial yang sedikit berbeda.
Artinya, penggunaan lo-gue tidak hanya menyampaikan informasi mengenai siapa yang sedang dibicarakan. Pilihan kata ganti juga dapat memberikan petunjuk mengenai situasi dan hubungan sosial antara penuturnya.
Bandingkan saja:
“Saya sudah bilang.”
“Aku sudah bilang.”
“Gue udah bilang.”
Ketiganya merujuk pada orang yang sama, tetapi kesan yang muncul berbeda. “Saya” cenderung lebih formal, “aku” dapat terasa lebih dekat atau personal, sedangkan “gue” memberi nuansa percakapan santai yang sangat kuat.
Baca Juga: “Si Huma”, Kartun Lawas TVRI yang Bikin Anak 80-an Kenal Kehidupan Pedesaan
Kalau lo-gue berasal dari lingkungan Jakarta dan memiliki kaitan dengan Betawi, mengapa sekarang orang dari berbagai daerah juga menggunakannya?
Salah satu jawabannya adalah penyebaran ragam bahasa Jakarta melalui budaya populer dan media. Bentuk-bentuk bahasa Jakarta semakin sering terdengar melalui film, musik, televisi, media sosial, hingga percakapan antaranak muda.
Penelitian mengenai bahasa Jakarta bahkan menunjukkan bahwa bentuk gua dan lu yang awalnya berkaitan dengan Betawi kini telah digunakan dalam bahasa Indonesia kolokial di luar Jakarta. Asosiasi keduanya dengan Jakarta tetap menjadi bagian dari makna sosial yang dibawa ketika kata tersebut digunakan.
Jadi, ketika seseorang dari luar Jakarta mengatakan “gue” dan “lo”, ia tidak sedang tiba-tiba menjadi orang Betawi. Ia sedang menggunakan bentuk bahasa yang sudah menyebar jauh dari lingkungan asalnya.
Bukan Sekadar “Bahasa Gaul”
Perjalanan lo-gue sebenarnya menunjukkan bahwa bahasa Indonesia sehari-hari terbentuk dari banyak pertemuan bahasa dan budaya.
Ada kata yang berasal dari bahasa daerah, bahasa Arab, Belanda, Portugis, Tionghoa, hingga bahasa Inggris. Sebagian kemudian menjadi begitu umum sehingga asal-usulnya tidak lagi terasa ketika digunakan.
Lo-gue adalah salah satu contohnya.
Hari ini, kata tersebut mungkin terdengar seperti bahasa pergaulan anak muda. Namun, di balik dua kata sederhana itu terdapat sejarah panjang interaksi masyarakat Tionghoa dan lokal di Batavia, proses masuknya unsur Hokkien ke dalam Melayu Betawi, hingga penyebarannya menjadi bagian dari bahasa percakapan Jakarta.
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : The Social Dynamics of Pronominal Systems, Berbagai Sumber