“Si Huma” Pernah Jadi Tonggak Animasi Indonesia, Begini Sejarahnya

SOLOBALAPAN.COM – Sebelum animasi lokal memenuhi layar televisi dan platform streaming seperti sekarang, Indonesia sudah lebih dulu mencoba menghadirkan serial animasi buatan sendiri. Salah satu yang paling bersejarah adalah Si Huma, animasi yang mulai tayang di TVRI pada 1983.
Si Huma dikenal sebagai film animasi produksi dalam negeri pertama yang tayang di televisi Indonesia. Serial ini diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN) dengan dukungan UNICEF dan ditayangkan di TVRI pada 1983 hingga 1984.
Namun, lahirnya Si Huma ternyata tidak sesederhana membuat karakter, menggambar cerita, lalu menayangkannya di televisi. Ada sejumlah orang dan lembaga yang terlibat dalam proses pembuatannya.
Baca Juga: Chibi Maruko-chan Ternyata Terinspirasi dari Kisah Masa Kecil Sang Penulis, Lho
Berawal dari Permintaan Membuat Animasi
Kisah awal Si Huma bermula pada awal 1980-an. Animator Partono Soenyoto mendapat surat berkop Sekretariat Negara yang ditandatangani Gufran Dwipayana, Kepala PPFN sekaligus asisten menteri sekretaris negara bidang media massa dan dokumentasi.
Dalam surat tersebut, Partono diminta membantu PPFN membuat film animasi. Ia kemudian mendatangi kantor PPFN di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur.
Menariknya, ketika pertemuan pertama berlangsung, nama Si Huma bahkan belum muncul. Menurut kesaksian Partono yang dikutip Historia, pembicaraan awal baru sebatas kemungkinan membuat serial animasi untuk televisi.
Dari pembicaraan tersebut, proyek animasi kemudian berkembang hingga lahirlah Si Huma.
Diproduksi PPFN dengan Dukungan UNICEF
Dalam perkembangan proyeknya, PPFN bekerja sama dengan UNICEF. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam produksi Si Huma yang kemudian hadir sebagai tontonan anak di TVRI.
ANTARA mencatat Si Huma sebagai film animasi produksi dalam negeri pertama yang tayang di layar kaca. Kehadirannya menjadi salah satu tonggak dalam perjalanan animasi Indonesia karena pada masa itu animasi belum menjadi industri sebesar sekarang.
Kalau sekarang proses produksi animasi dapat memanfaatkan komputer dan berbagai perangkat digital, kondisi tersebut tentu berbeda dengan era ketika Si Huma dibuat.



