“Becik Ketitik, Ala Ketara”, Filosofi Jawa yang Bilang Perbuatan Baik dan Buruk Tak Akan Tersembunyi

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 15:27 WIB
Filosofi Jawa becik ketitik, ala ketara menegaskan bahwa perbuatan baik maupun buruk pada akhirnya akan terlihat seiring berjalannya waktu. (Pin Danny Aditya)
Filosofi Jawa becik ketitik, ala ketara menegaskan bahwa perbuatan baik maupun buruk pada akhirnya akan terlihat seiring berjalannya waktu. (Pin Danny Aditya)

SOLOBALAPAN.COM – Pernah melihat seseorang yang awalnya terlihat baik, tetapi lama-lama sikap aslinya mulai kelihatan? Atau sebaliknya, ada orang yang terus berbuat baik tanpa banyak bercerita, tetapi kebaikannya justru diingat oleh orang lain?

Orang Jawa punya ungkapan yang cukup pas untuk menggambarkan situasi tersebut, yakni becik ketitik, ala ketara. Kalimat ini mengingatkan bahwa perbuatan baik maupun buruk pada akhirnya akan terlihat.

Ungkapan tersebut masih sering digunakan sebagai nasihat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, maknanya terasa semakin menarik ketika dibawa ke kehidupan sekarang, ketika seseorang bisa dengan mudah menunjukkan citra tertentu di depan orang lain, termasuk melalui media sosial.

Baca Juga: Doraemon dan Kawan-Kawan Kalau Jadi Anak Zaman Sekarang: Siapa Green Flag, Siapa Red Flag?

Apa Arti “Becik Ketitik, Ala Ketara”?

Secara sederhana, becik berarti baik, sedangkan ala berarti buruk atau jelek. Sementara itu, ketitik berarti diketahui atau terlihat dan ketara berarti tampak atau kelihatan. Dengan demikian, becik ketitik, ala ketara dapat dimaknai bahwa perbuatan baik akan diketahui dan perbuatan buruk pada akhirnya juga akan terlihat.

Maknanya bukan berarti setiap perbuatan langsung mendapatkan balasan saat itu juga. Justru ada penekanan bahwa sesuatu yang awalnya belum terlihat dapat diketahui seiring berjalannya waktu.

Kajian mengenai ungkapan Jawa juga menjelaskan bahwa becik ketitik, ala ketara mengandung nasihat agar seseorang tidak melakukan perbuatan buruk secara sembunyi-sembunyi. Sebab, seberapa pun usaha untuk menutupi suatu perbuatan, pada akhirnya hal tersebut dapat diketahui.

Baca Juga: Zaman Sekarang Jangan Cuma “Nrima Ing Pandum”, Orang Jawa Juga Punya Filosofi untuk Terus Berjuang

Kebaikan Nggak Harus Langsung Kelihatan

Ungkapan ini bukan hanya mengingatkan orang agar menjauhi perbuatan buruk. Ada sisi lain yang juga penting, yaitu jangan merasa kebaikan menjadi sia-sia hanya karena belum ada yang melihat.

Misalnya, seseorang membantu teman tanpa mengunggahnya ke media sosial. Atau ada orang yang tetap mengerjakan tanggung jawabnya dengan baik meskipun tidak mendapatkan pujian.

Kebaikan seperti itu mungkin tidak langsung mendapatkan perhatian. Namun, bukan berarti tidak memiliki arti.

Dalam konteks becik ketitik, kebaikan pada akhirnya dapat diketahui melalui sikap, tindakan, maupun dampak yang ditinggalkannya. Karena itu, seseorang tidak perlu selalu sibuk membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya telah berbuat baik.

Kalau Keburukan Disembunyikan, Memangnya Aman?

Nah, bagian ala ketara justru bisa menjadi pengingat untuk tidak terlalu percaya diri ketika berhasil menyembunyikan suatu kesalahan.

Di kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin saja terlihat baik di depan banyak orang. Namun, perilaku yang berbeda ketika tidak ada yang melihat bisa saja perlahan diketahui orang lain.

Begitu pula di media sosial. Seseorang dapat membangun citra tertentu melalui unggahan, tetapi apa yang ditampilkan di layar tentu tidak otomatis menggambarkan seluruh perilaku seseorang.

Karena itu, becik ketitik, ala ketara tidak harus dimaknai sebagai ajakan untuk menunggu orang lain “ketahuan”. Ungkapan ini lebih tepat dipahami sebagai pengingat agar setiap orang berhati-hati dalam bertindak karena perbuatan pada akhirnya dapat terlihat. Nilai kejujuran dan tanggung jawab justru menjadi bagian penting dari nasihat yang terkandung di dalamnya.

Masih Relevan di Zaman Sekarang?

Tentu saja.

Di tengah kehidupan yang serba terbuka, seseorang memang lebih mudah menunjukkan dirinya kepada banyak orang. Foto, video, unggahan, hingga komentar di media sosial dapat menjadi bagian dari cara seseorang membentuk citra.

Namun, citra bukan satu-satunya hal yang menentukan bagaimana seseorang dikenal. Kebiasaan dan perilaku yang dilakukan berulang kali juga dapat membentuk penilaian orang lain.

Karena itu, becik ketitik, ala ketara masih bisa menjadi pengingat sederhana: tidak perlu terlalu sibuk membuktikan kebaikan, tetapi juga jangan merasa aman ketika melakukan sesuatu yang buruk hanya karena belum ada yang mengetahuinya.

Pada akhirnya, yang terlihat bukan hanya apa yang seseorang katakan tentang dirinya, tetapi juga apa yang benar-benar ia lakukan.

Editor : Inayah Choirunisa
Sumber : Kemendikdasmen, Jurnal Bahasa dan Sastra, Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam
becik ketara Kehidupan