Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

“Witing Tresna Jalaran Saka Kulina”, Sering Chat Tiap Hari Bisa Bikin Baper

I
Penulis: Inayah Choirunisa❯
Kebiasaan berinteraksi harian lewat obrolan daring kini menjadi bentuk baru hadirnya rasa nyaman dan kedekatan antarindividu. (Film Gadis Kretek)
Kebiasaan berinteraksi harian lewat obrolan daring kini menjadi bentuk baru hadirnya rasa nyaman dan kedekatan antarindividu. (Film Gadis Kretek)

Advertisement

SOLOBALAPAN.COM – Awalnya cuma saling balas story. Lama-lama jadi sering chat, hampir setiap hari saling mengabari, sampai muncul kebiasaan mengucapkan selamat pagi atau menanyakan sudah makan belum.

Tidak ada yang secara resmi menyatakan sedang mendekati satu sama lain. Namun, ketika sehari saja tidak berkabar, rasanya ada yang kurang.

Fenomena seperti ini cukup dekat dengan kehidupan anak muda sekarang. Kedekatan tidak selalu dibangun lewat pertemuan langsung. Chat, video call, saling membagikan unggahan, hingga kebiasaan berinteraksi di media sosial juga bisa membuat dua orang semakin akrab.

Menariknya, orang Jawa sebenarnya sudah memiliki ungkapan yang menggambarkan proses tersebut sejak lama: “witing tresna jalaran saka kulina.”

Secara sederhana, ungkapan tersebut bermakna cinta tumbuh karena terbiasa. Artinya, rasa dekat dapat muncul karena seseorang terus berinteraksi dan menjadi terbiasa dengan kehadiran orang lain.

Advertisement

Dari “Cuma Teman Chat” Bisa Jadi Makin Dekat

Pernah merasa awalnya biasa saja dengan seseorang, tetapi karena hampir setiap hari berkomunikasi akhirnya jadi menunggu pesan darinya?

Kebiasaan kecil seperti bertukar cerita sebelum tidur, mengirim meme, membicarakan hal-hal random, atau menjadi orang pertama yang diberi kabar bisa membuat hubungan terasa semakin dekat.

Apalagi, komunikasi digital membuat seseorang dapat hadir dalam keseharian orang lain tanpa harus berada di tempat yang sama. Pertemuan yang dahulu membutuhkan waktu dan tempat kini bisa digantikan oleh notifikasi di layar ponsel.

Kalau dipikir-pikir, kebiasaan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Hanya saja, cara orang menjadi “kulina” alias terbiasa dengan seseorang kini ikut berubah. Kalau dulu harus sering bertemu untuk membangun kedekatan, sekarang cukup dengan chat setiap hari, saling kirim video, atau rutin berbagi cerita lewat layar ponsel.

Ketika Chat Harian Mulai Terasa Seperti Rutinitas

Yang menarik, kedekatan seperti ini sering kali tidak muncul secara tiba-tiba.

Advertisement
Editor : Inayah Choirunisa
Sumber : Relevance of Javanese Unen-Unen

Artikel Terkait

“Urip Iku Urup”, Filosofi Jawa yang Mengingatkan Anak Muda untuk Tidak Cuma Sibuk Mengejar Diri Sendiri

“Urip Iku Urup”, Filosofi Jawa yang Mengingatkan Anak Muda untuk Tidak Cuma Sibuk Mengejar Diri Sendiri

Filosofi Jawa urip iku urup mengajarkan bahwa hidup idealnya memberi manfaat bagi sesama. Nilai ini mengingatkan anak muda agar tak sekadar mengejar pencapaian pribadi, melainkan juga memberi dampak positif bagi sekitar.

Zaman Sekarang Jangan Cuma “Nrima Ing Pandum”, Orang Jawa Juga Punya Filosofi untuk Terus Berjuang

Zaman Sekarang Jangan Cuma “Nrima Ing Pandum”, Orang Jawa Juga Punya Filosofi untuk Terus Berjuang

Filosofi nrima ing pandum kerap disalahpahami sebagai kepasrahan. Padahal, ajaran Jawa ini sejatinya berjalan beriringan dengan makaryo ing nyoto—berusaha keras lalu menerima hasil akhir dengan lapang dada.

Selikur, Selawe, sampai Sewidak, Ternyata Ada Makna di Balik Angka dalam Bahasa Jawa

Selikur, Selawe, sampai Sewidak, Ternyata Ada Makna di Balik Angka dalam Bahasa Jawa

Penyebutan angka Jawa seperti selikur, selawe, hingga sewidak memuat filosofi perjalanan hidup manusia. Istilah bilangan ini menggambarkan fase produktif, pernikahan, hingga persiapan spiritual di usia tua.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer