
SOLOBALAPAN.COM — Tujuh hari setelah Idulfitri, suasana Desa Olehsari, Banyuwangi, berubah. Di tengah kehidupan masyarakat yang mayoritas menggantungkan hidup dari pertanian, sebuah ritual adat digelar sebagai bagian dari tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.
Namanya Ritual Seblang Olehsari.
Seblang bukan sekadar pertunjukan tari. Bagi masyarakat setempat, ritual tersebut berkaitan erat dengan sejarah desa dan pagebluk yang pernah melanda pada 1930. Wabah penyakit kala itu membuat masyarakat hidup dalam kecemasan. Banyak warga jatuh sakit dan meninggal dalam waktu singkat.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat meyakini muncul petunjuk dari leluhur untuk menggelar selamatan desa. Ritual itu kemudian berkembang menjadi Seblang Olehsari yang hingga kini terus dilaksanakan setiap tahun.
Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari ungkapan syukur kepada Sang Pencipta atas kesuburan tanah dan hasil pertanian yang melimpah. Maklum, Desa Olehsari merupakan wilayah agraris dengan sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani.
Ritual Seblang dilaksanakan selama tujuh hari pada bulan Syawal, setelah perayaan Idulfitri. Pelaksanaannya terbagi dalam sejumlah tahapan, mulai persiapan, pelaksanaan ritual, hingga penutup.
Salah satu bagian yang paling dinanti adalah saat penari Seblang menjalani prosesi kejiman. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, penari mengalami kondisi kerasukan roh leluhur dan kemudian menari mengikuti iringan tembang serta gending yang dimainkan selama ritual.
Salah satunya Gending Lukitno yang dipercaya masyarakat sebagai bagian dari prosesi pemanggilan leluhur. Penari kemudian menari mengitari Payung Agung selama ritual berlangsung.
Penari Seblang tidak dipilih sembarangan. Proses pemilihannya dilakukan melalui kejiman. Dalam tradisi yang berkembang di Olehsari, penari merupakan perempuan yang belum menikah. Kini, penari Seblang umumnya merupakan gadis berusia sekitar 10 tahun hingga remaja yang memiliki garis keturunan penari Seblang.
Kepercayaan terhadap hubungan antara penari, leluhur, dan keselamatan desa menjadi bagian penting dalam ritual tersebut. Masyarakat Olehsari meyakini leluhur memiliki peran dalam menjaga keseimbangan dan melindungi desa.



