Selikur, Selawe, sampai Sewidak, Ternyata Ada Makna di Balik Angka dalam Bahasa Jawa

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 14:15 WIB
Penyebutan angka Jawa seperti selikur, selawe, hingga sewidak memuat filosofi perjalanan hidup manusia. (JawaPos.com)
Penyebutan angka Jawa seperti selikur, selawe, hingga sewidak memuat filosofi perjalanan hidup manusia. (JawaPos.com)

SOLOBALAPAN.COM – Bagi masyarakat Jawa, penyebutan angka tidak selalu sesederhana menerjemahkan angka ke dalam kata. Ada sejumlah istilah bilangan yang terdengar unik, seperti selikur untuk 21, selawe untuk 25, hingga seket untuk 50 dan sewidak untuk 60.

Istilah-istilah tersebut sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Namun, di balik penyebutannya, berkembang pula pemaknaan budaya yang menghubungkan sejumlah bilangan dengan tahapan kehidupan manusia.

Baca Juga: WhatsApp Punya AI yang Bisa Balas Chat Pelanggan 24 Jam, Begini Cara Kerjanya

Kenapa 21 Disebut Selikur?

Dalam bahasa Jawa, angka 21 sampai 29 memiliki pola penyebutan yang berbeda dari angka 20. Alih-alih menggunakan bentuk seperti rong puluh siji atau rong puluh loro, masyarakat Jawa mengenalnya sebagai selikur, rolikur, telu likur, hingga sanga likur.

Kata likur dalam penafsiran budaya Jawa kerap dikaitkan dengan ungkapan "lingguh ing kursi," yang secara harfiah berarti “duduk di kursi”.

Pemaknaan tersebut menggambarkan usia 21 sampai 29 sebagai masa ketika seseorang mulai memasuki kehidupan yang lebih mapan. “Duduk di kursi” kemudian dimaknai sebagai simbol mulai memperoleh kedudukan, pekerjaan, tanggung jawab, atau kesempatan untuk mengejar cita-cita.

Dengan demikian, penyebutan likur tidak hanya dipandang sebagai cara menyebut angka, tetapi juga dikaitkan dengan gambaran tahap kehidupan seseorang.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Mitoni dalam Adat Jawa, Ini Rangkaian Ritual dan Maknanya

Ada 'Selawe' di Tengah Selikur sampai Sanga Likur

Di antara deretan angka tersebut terdapat satu istilah yang cukup berbeda, yakni selawe untuk angka 25.

Dalam pemaknaan yang berkembang di masyarakat Jawa, selawe kerap dijelaskan melalui ungkapan "senenge lanang lan wedok," yang berkaitan dengan masa ketika laki-laki dan perempuan mulai memasuki fase membangun hubungan atau berumah tangga.

Pemaknaan tersebut mencerminkan pandangan masyarakat Jawa zaman dahulu terhadap usia 25 tahun sebagai salah satu masa yang dianggap tepat untuk membangun kehidupan bersama pasangan.

Tentu, pandangan tersebut merupakan bagian dari nilai budaya masyarakat pada masa tertentu. Kondisi kehidupan masyarakat saat ini sudah jauh lebih beragam sehingga usia menikah tidak lagi dapat ditentukan hanya berdasarkan angka tertentu.

Dari Selawe Menuju Seket

Setelah melewati usia 25 tahun, istilah bilangan Jawa kembali memiliki bentuk yang menarik. Angka 50 disebut seket, bukan lima puluh.

Dalam penafsiran budaya Jawa, seket kerap dikaitkan dengan ungkapan "seneng kethunan" atau pemaknaan lain yang mengarah pada seseorang yang mulai mendekatkan diri kepada Tuhan. Ada pula penjelasan yang menghubungkannya dengan kethu, yakni penutup kepala atau kopiah.

Makna tersebut menggambarkan seseorang yang memasuki usia lebih matang dan mulai mengurangi orientasi terhadap kehidupan duniawi. Perhatian kemudian lebih banyak diarahkan kepada kehidupan spiritual dan persiapan menghadapi masa tua.

Sewidak, Usia yang Dianggap Mulai Mendekati Akhir Kehidupan

Istilah berikutnya adalah sewidak, yaitu angka 60.

Dalam penafsiran budaya Jawa, sewidak sering dikaitkan dengan ungkapan “sejatine wis wayahe tindak, yang kurang lebih bermakna “sejatinya sudah waktunya pergi”.

Makna tersebut tentu bukan berarti seseorang yang berusia 60 tahun pasti akan segera meninggal. Sebaliknya, ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai pengingat mengenai keterbatasan usia manusia.

Pada usia tersebut, seseorang dianggap telah memasuki fase kehidupan yang lebih dekat dengan masa akhir. Karena itu, manusia diingatkan untuk semakin mempersiapkan diri secara batin dan spiritual.

Angka Jawa Ternyata Bisa Memuat Pandangan Hidup

Penyebutan selikur, selawe, seket, hingga sewidak menunjukkan bahwa bahasa tidak selalu hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi. Di dalamnya dapat tersimpan cara suatu masyarakat memandang kehidupan.

Namun, berbagai penjelasan mengenai makna kata tersebut perlu dipahami sebagai pemaknaan atau kerata basa dalam tradisi budaya Jawa, bukan berarti setiap kata tersebut secara etimologis benar-benar berasal dari kepanjangan yang dimaksud.

Justru di situlah menariknya. Di balik angka yang selama ini terdengar sederhana, masyarakat Jawa mewariskan cara pandang mengenai perjalanan manusia, mulai dari masa produktif, membangun keluarga, mendekatkan diri kepada Tuhan, hingga menyadari bahwa kehidupan pada akhirnya memiliki batas. (ina)

Editor : Inayah Choirunisa
Kehidupan jawa angka masyarakat