SOLOBALAPAN.COM - Pulang tepat waktu seharusnya bukan sesuatu yang perlu dirayakan. Itu adalah hak setiap pekerja yang telah menyelesaikan tanggung jawabnya sesuai jam kerja. Namun hari ini, kebiasaan tersebut justru memiliki sebutan tersendiri: tenggo. Singkatan dari "teng" saat jam kerja usai dan "go" yang berarti langsung pulang. Istilah yang terdengar ringan ini ternyata menyimpan pertanyaan yang jauh lebih besar: mengapa pulang sesuai jam kerja kini terasa seperti sesuatu yang tidak biasa?
Fenomena tenggo bukan sekadar bahasa gaul yang lahir di media sosial. Ia mencerminkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap dunia kerja. Jika dahulu seseorang dianggap berdedikasi karena datang paling pagi dan pulang paling malam, kini semakin banyak pekerja yang meyakini bahwa profesionalisme tidak diukur dari berapa lama seseorang berada di kantor, melainkan dari bagaimana ia menyelesaikan pekerjaannya dengan baik selama jam yang telah disepakati.
Baca Juga: Di Balik Streak TikTok, Strategi Membuat Pengguna Kembali Setiap Hari
Ironisnya, kebiasaan pulang tepat waktu masih sering dipandang negatif. Tidak sedikit yang melabelinya sebagai pemalas, kurang loyal, atau enggan berkorban demi perusahaan. Padahal, jika seluruh target telah tercapai dan tanggung jawab telah dipenuhi, apa yang sebenarnya salah dari meninggalkan kantor ketika jam kerja berakhir? Bukankah kontrak kerja sejak awal memang menetapkan kapan seseorang bekerja dan kapan ia berhak mengakhiri pekerjaannya?
Di sinilah tenggo menjadi cermin. Bukan cermin tentang generasi yang malas bekerja, melainkan cermin tentang budaya kerja yang selama bertahun-tahun menganggap lembur sebagai bentuk dedikasi. Dalam banyak lingkungan kerja, pulang paling akhir sering kali dipersepsikan lebih "rajin" dibanding mereka yang menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Akibatnya, efisiensi terkadang kalah oleh budaya hadir lebih lama.
Baca Juga: PayLater di E-Commerce, Memudahkan atau Menjerumuskan?
Padahal, profesionalisme tidak selalu identik dengan jam kerja yang panjang. Profesionalisme juga berarti datang tepat waktu, bekerja dengan penuh tanggung jawab, memenuhi target, menghargai komitmen yang telah dibuat, lalu menutup hari kerja ketika waktunya memang telah selesai. Jika pekerjaan memang menuntut lembur karena kondisi tertentu, tentu itu merupakan bagian dari tanggung jawab. Namun apabila lembur menjadi kebiasaan yang terus-menerus dianggap sebagai standar loyalitas, mungkin yang perlu dievaluasi bukan pekerjanya, melainkan sistem kerjanya.
Kemunculan istilah tenggo pada akhirnya mengingatkan kita bahwa sesuatu yang semestinya biasa telah berubah menjadi fenomena. Ketika pulang sesuai jam kerja terasa perlu diberi nama, barangkali yang sedang berubah bukan hanya bahasa anak muda, tetapi juga cara masyarakat memandang hubungan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa anak muda memilih tenggo, melainkan mengapa pulang tepat waktu kini terdengar seperti sebuah keberanian. (MG4)
Editor : Kabun Triyatno