SOLOBALAPAN.COM - Film FOUFO tidak hanya menarik karena menghadirkan kisah persahabatan manusia dan alien di tengah budaya Madura, tetapi juga karena menjadi debut Tretan Muslim sebagai pemeran utama film layar lebar.
Proyek ini menandai langkah baru dalam perjalanan karirnya yang selama ini lebih dikenal di dunia komedi dan konten digital.
Nama Tretan Muslim mulai dikenal publik melalui ajang stand-up comedy. Gaya humornya yang khas, berani, dan sering kali satir membuatnya memiliki tempat tersendiri di industri hiburan Indonesia.
Popularitasnya semakin meningkat lewat berbagai podcast, kanal YouTube, dan kolaborasi bersama Coki Pardede.
Meski telah beberapa kali terlibat dalam produksi audiovisual, FOUFO menjadi proyek pertama yang menempatkannya sebagai tokoh sentral dalam sebuah film bioskop.
Ia tidak lagi hadir sebagai penghibur pendukung, melainkan menjadi karakter utama yang menentukan arah keseluruhan cerita.
Dalam film ini, Tretan Muslim memerankan tokoh bernama Muslim, seorang pengepul barang rongsokan asal Madura yang berjuang keras demi mewujudkan impian ibunya untuk berangkat haji.
Kehidupannya berubah setelah bertemu makhluk luar angkasa bernama Foufo yang jatuh ke bumi akibat kecelakaan pesawat antariksa.
Karakter Muslim menghadirkan tantangan yang berbeda dibanding persona publik Tretan selama ini. Jika biasanya ia dikenal karena kelucuan dan komentar-komentar spontan, dalam film ini ia harus memainkan sosok yang memiliki beban hidup, konflik keluarga, serta dilema emosional yang dalam.
Baca Juga: Menapaki 14 Perhentian Jalan Salib Gua Maria Mojosongo Solo
Salah satu tantangan terbesar yang diakui Tretan Muslim adalah menjalani adegan emosional.
Ia bahkan mengungkapkan bahwa dirinya harus belajar menangis untuk memenuhi kebutuhan karakter.
Sebagai komedian yang identik dengan humor, ia sempat khawatir penonton justru akan tertawa ketika melihat dirinya menangis di layar.
Selain tantangan emosional, penggunaan bahasa Madura juga menjadi ujian tersendiri. Meski memiliki latar keluarga Madura, Tretan mengaku sudah lama tidak menggunakan bahasa tersebut secara aktif karena merantau dan berkarir di luar daerah asalnya.
Akibatnya, ia harus kembali mempelajari dialek dan pengucapan yang sesuai dengan kebutuhan film.
Hal ini menjadi semakin penting karena sebagian besar dialog dalam FOUFO menggunakan bahasa Madura.
Kehadiran bahasa daerah bukan sekadar pemanis cerita, melainkan bagian penting dari identitas film yang ingin menampilkan budaya Madura secara lebih autentik kepada penonton nasional.
Bagi Tretan Muslim, FOUFO juga memiliki makna yang lebih luas daripada sekedar debut akting.
Film ini menjadi wadah untuk memperkenalkan budaya Madura melalui media yang jarang digunakan, yaitu film komedi fiksi ilmiah.
Kehadiran karakter, bahasa, dan lingkungan lokal menjadi bagian dari upaya menghadirkan representasi yang lebih dekat dengan realitas masyarakat Madura.
Baca Juga: Duel Mantan Timnas Warnai Grup U, Celebest FC Tantang Persebi Boyolali
Karena itu, fakta bahwa FOUFO menjadi debut Tretan Muslim sebagai pemeran utama terasa sangat menarik.
Film ini bukan hanya kisah tentang alien yang terdampar di bumi, tetapi juga menjadi penanda transformasi seorang komika dan kreator digital menjadi aktor utama yang memikul tanggung jawab besar dalam sebuah produksi layar lebar Indonesia. (ags)
Editor : Laila Zakiya