SOLOBALAPAN, HIBURAN — Di balik premis ceritanya yang mengocok perut tentang sesosok setan yang gagal menakut-nakuti manusia, film "Harusnya Horror" kini menyimpan makna dan cerita yang jauh lebih emosional.
Film horor-komedi yang disutradarai oleh Reza Arap ini menjadi salah satu karya layar lebar terakhir yang dibintangi oleh Lula Lahfah sebelum kepergiannya yang mengejutkan publik pada Januari 2026 lalu.
Peran Gea dan Kritik Budaya Viral
Pada masa awal produksinya, Harusnya Horror dipersiapkan murni sebagai tayangan horor-komedi yang menyentil fenomena kehidupan para kreator konten dan budaya viral di media sosial.
Namun, menyusul kabar duka meninggalnya Lula Lahfah, film ini secara otomatis memperoleh nilai historis baru yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.
Dalam film ini, Lula didapuk untuk memerankan karakter bernama Gea, seorang anggota dari kelompok kreator konten yang menjadi poros utama cerita.
Bersama dengan karakter lainnya, Gea terlibat dalam serangkaian peristiwa absurd nan menggelitik ketika mereka harus bekerja sama dengan sosok hantu yang justru sama sekali tidak memiliki kemampuan atau aura menyeramkan untuk menakut-nakuti manusia.
Momen Debut Reza Arap dan Kenangan Terakhir
Karya layar lebar ini juga menjadi momen bersejarah karena mempertemukan Lula dengan Reza Arap, yang untuk pertama kalinya duduk di bangku sutradara untuk sebuah film panjang.
Tak ayal, kolaborasi keduanya menjadi daya tarik tersendiri yang paling ditunggu-tunggu oleh publik sejak materi promosi film mulai diperkenalkan.
Namun, ketika teaser dan trailer perdana resmi dirilis, banyak penonton yang menyambut kemunculan Lula dengan perasaan yang bercampur aduk antara bangga dan haru.
Adegan-adegan yang pada awalnya hanya berfungsi sebagai materi promosi komersial, kini telah berubah menjadi dokumentasi terakhir yang merekam bakat aktingnya dalam sebuah karya yang belum sempat dirilis saat ia masih hidup.
Harusnya Horror kini tidak sekadar menawarkan sajian komedi, fantasi, dan kritik ringan terhadap budaya internet semata.
Film ini menjelma menjadi sebuah prasasti pengingat akan perjalanan panjang seorang kreator digital yang sukses menembus belantika perfilman Tanah Air.
Bagi para penggemar dan penikmat film Indonesia, tayangan ini bukan sekadar cerita tentang hantu yang ingin terlihat menyeramkan, melainkan sebuah kesempatan berharga sekaligus momen perpisahan emosional untuk menyaksikan karya terakhir mendiang Lula Lahfah di layar lebar.
(ags)