Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sering Dianggap Sepele, Pengeluaran Kecil Ini Bisa Membuat Dompet Cepat Menipis

R
Penulis: Rahma Azra Calista❯
Dari uang tunai hingga pembayaran digital, setiap transaksi meninggalkan jejak dalam kebiasaan keuangan sehari-hari. (AI Generated)
Dari uang tunai hingga pembayaran digital, setiap transaksi meninggalkan jejak dalam kebiasaan keuangan sehari-hari. (AI Generated)

Advertisement

SOLOBALAPAN.COM - Pernah merasa uang lebih cepat habis, padahal tidak merasa membeli barang mahal? Bisa jadi penyebabnya bukan satu pengeluaran besar, melainkan banyak transaksi kecil yang terjadi hampir setiap hari.

Membeli segelas minuman saat sedang beraktivitas, memesan makanan karena tidak sempat memasak, membayar parkir, membeli camilan, atau mengambil barang tambahan karena tergoda promo sering kali dianggap bukan masalah besar.

Nominalnya mungkin hanya beberapa ribu hingga belasan ribu rupiah, tetapi jika terus dilakukan, jumlahnya perlahan bisa menguras dompet.

Hal inilah yang membuat sebagian orang baru menyadari kondisi keuangannya ketika saldo mulai menipis.

Bukan karena uang digunakan untuk membeli sesuatu yang mahal, tetapi karena banyak pengeluaran kecil yang berjalan tanpa terasa.

Advertisement

Pengeluaran seperti ini sering luput dari perhatian karena dianggap sebagai kebutuhan sederhana. Seseorang biasanya lebih mudah mengingat saat membeli barang dengan harga tinggi, tetapi lupa dengan uang yang keluar sedikit demi sedikit dalam keseharian.

Padahal, kebiasaan kecil yang dilakukan berulang tetap memiliki dampak. Membayar parkir Rp2.000 setiap kali bepergian, membeli minuman Rp 10.000 beberapa kali dalam seminggu, atau memesan makanan lewat aplikasi ketika sedang sibuk bisa menjadi jumlah yang cukup besar jika dikumpulkan.

Annisa Wahyu, mahasiswa UNS semester 6, pernah mengalami hal serupa. Ia mengaku sempat merasa uang bulanannya cepat habis meskipun tidak merasa melakukan pembelian besar.

"Awalnya saya merasa pengeluaran seperti membeli camilan atau minuman itu kecil karena hanya ribuan sampai belasan ribu rupiah. Namun, ketika dilakukan terus setiap hari, ternyata jumlahnya cukup besar dan terasa mengurangi uang di akhir bulan," ujar Annisa, Kamis (30/7/2026).

Setelah mencoba melihat kembali kebiasaan pengeluarannya, Annisa menyadari bahwa uangnya lebih banyak keluar dari transaksi sederhana. Mulai dari membeli makanan ringan, membayar parkir, hingga kebutuhan kecil lain yang muncul saat beraktivitas.

Advertisement

Artikel Terkait

Dulu Jadi Urat Nadi Ekonomi Kolonial, Begini Sejarah Jalur Kereta Solo–Boyolali

Dulu Jadi Urat Nadi Ekonomi Kolonial, Begini Sejarah Jalur Kereta Solo–Boyolali

Jalur kereta Boyolali pernah berperan mengangkut hasil perkebunan menuju pusat distribusi dan pelabuhan ekspor. Meski telah lama nonaktif, jejak sejarahnya masih dapat ditemukan di sejumlah lokasi.

Harga Minyak Dunia Turun, Pakar Ekonomi Sebut Harga BBM di Indonesia Tak Bisa Instan Turun

Harga Minyak Dunia Turun, Pakar Ekonomi Sebut Harga BBM di Indonesia Tak Bisa Instan Turun

Pakar UMS Anton Agus Setyawan menjelaskan harga BBM di Indonesia tidak bisa langsung turun meski harga minyak dunia anjlok. Nilai tukar, fiskal, dan distribusi menjadi faktor penentu.

Fenomena Jomblo di Sukoharjo: 42 Persen Penduduk Belum Kawin, Jadi Potensi Besar Ekonomi Kreatif

Fenomena Jomblo di Sukoharjo: 42 Persen Penduduk Belum Kawin, Jadi Potensi Besar Ekonomi Kreatif

Data Dukcapil Semester II 2025 mencatat 392.788 warga Sukoharjo atau 42,76 persen penduduk masih berstatus belum kawin. Kecamatan Grogol dan Kartasura menjadi wilayah dengan jumlah lajang terbanyak.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer