SOLOBALAPAN.COM - Widyawati menjadi salah satu sosok penting dalam film "CLBK: Cinta Lama Babak Kedua". Dalam film yang tayang pada Juli 2026 ini, ia memerankan Sita, perempuan yang kembali bertemu dengan cinta lamanya setelah terpisah selama lebih dari lima dekade.
Karakter Sita bukan sekadar tokoh pendukung. Ia menjadi salah satu pusat konflik yang menggerakkan seluruh cerita.
Pertemuannya dengan Aby membuka kembali kenangan yang selama ini tersimpan dan perlahan memengaruhi kehidupan generasi berikutnya.
Kisah cinta Sita dan Aby menjadi fondasi utama film. Hubungan yang kandas puluhan tahun lalu ternyata belum benar-benar selesai dan masih menyisakan pertanyaan yang belum terjawab.
Menariknya, film ini tidak menempatkan pasangan muda sebagai pusat cerita romantis. Sebaliknya, kisah cinta pada usia senja justru menjadi penggerak utama konflik yang dihadapi para tokohnya.
Peran Sita terasa sangat dekat dengan perjalanan karier Widyawati. Selama puluhan tahun, ia dikenal sebagai salah satu ikon film drama dan romansa Indonesia yang kerap memainkan karakter penuh emosi dan kedalaman perasaan.
Baca Juga: Festival Drama Realis Remaja 2026 Jadi Ruang Berkarya Kelompok Teater Muda Solo Raya
Dalam CLBK, Widyawati dipasangkan dengan Slamet Rahardjo yang memerankan Aby. Pertemuan dua legenda perfilman Indonesia ini menjadi salah satu daya tarik utama yang dinantikan penonton.
Keduanya tidak hanya menghadirkan kisah cinta yang hangat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana waktu dapat mengubah seseorang tanpa menghapus kenangan yang pernah ada.
Karakter Sita juga hadir dalam versi muda yang diperankan Gisellma Firmansyah. Kehadiran dua generasi pemeran membuat perjalanan hidup karakter ini terasa lebih utuh dan meyakinkan.
Melalui Sita, film mengangkat pertanyaan tentang kesempatan kedua dalam cinta. Apakah perasaan lama layak diperjuangkan kembali, atau justru harus dilepaskan demi kebahagiaan orang lain?
Dengan pengalaman lebih dari setengah abad di dunia perfilman, kehadiran Widyawati memberikan bobot emosional yang kuat bagi CLBK. Sosok Sita menjadi representasi bahwa beberapa perasaan mungkin tidak pernah benar-benar hilang meski waktu terus berjalan.(ags)
Editor : Laila Zakiya