SOLOBALAPAN.COM - Penyalin Cahaya menjadi salah satu film Indonesia paling berpengaruh dalam beberapa tahun terakhir.
Film ini tidak hanya sukses secara penghargaan, tetapi juga memicu diskusi luas tentang kekerasan seksual, relasi kuasa, dan budaya bungkam di lingkungan kampus.
Film garapan Wregas Bhanuteja tersebut pertama kali mencuri perhatian publik saat tayang perdana di Busan International Film Festival sebelum akhirnya diriliis lebih luas di Indonesia.
Kehadiran film Penyalin Cahaya menjadi sorotan sejak awal perilisannya.
Yang menarik adalah film ini merupakan debut penyutradaraan film panjang bagi Wregas Bhanuteja.
Sebelum menggarap film ini, Wregas lebih dulu dikenal lewat film pendek Prenjak yang memenangkan penghargaan di Festival Film Cannes 2016.
Cerita berpusat pada Sur, seorang mahasiswi yang kehilangan beasiswa setelah fotonya tersebar usai menghadiri pesta kampus.
Dari kejadian itu, Sur perlahan mencoba mencari tau apa yang terjadi sebenarnya di malam itu. Karakter Sur diperankan oleh Shenina Cinnamon yang mendapatkan banyak pujian atas penampilannya.
Secara penghargaan, Penyalin Cahaya memang mencatat pencapaian besar. Film ini memenangkan 12 piala citra dari total 17 nominasi di Festival Film Indonesia 2021.
Jumlah tersebut sempat menjadi rekor kemenangan terbanyak dalam sejarah Festival Film Indonesia.
Setelah sukses di Indonesia, distribusi internasional film kemudian dibantu oleh Netflix pada Januari 2022.
Kehadiran platform streaming tersebut membuat Penyalin Cahaya menjangkau penonton global dan memperluas diskusi tentang isu yang diangkat film.
Namun dibalik kesuksesan tersebut, film ini juga sempat menuai kontroversi. Setelah film melejit, muncul tuduhan pelecehan seksual terhadap salah satu penulisnya.
Rumah produksi kemudian menyatakan keberpihakan kepada penyintas dan menghapus nama terlapor dari kredit film.
Baca Juga: Sragen Krisis Guru ASN, Sekolah Negeri Bertahan dengan “Tambal Sulam” Guru Honorer
Kontroversi itu memicu perdebatan publik tentang bagaimana memisahkan karya dan pembuatnya, terutama ketika sebuah film berbicara tentang isu kekerasan seksual namun terseret kasus serupa dibalik produksinya.
Meski demikian, Penyalin Cahaya tetap menjadi sebagai salah satu film Indonesia paling penting dalam dekade terakhir.
Film ini tidak hanya berhasil secara artistik namun juga membuka ruang diskusi baru tentang kekerasan seksual, budaya patriarki, dan keberanian penyintas untuk mencari kebenaran. (ags)
Editor : Laila Zakiya