SOLOBALAPAN.COM - Hampir setiap hari masyarakat disuguhi berita mengenai cuaca ekstrem, banjir bandang, gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, hingga kenaikan permukaan air laut. Media massa dan media sosial dipenuhi informasi tentang ancaman perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.
Di satu sisi, informasi tersebut penting untuk meningkatkan kesadaran publik. Namun, di sisi lain, narasi yang terus-menerus menampilkan bencana tanpa diimbangi harapan dan solusi dapat memunculkan fenomena yang dikenal sebagai climate doomism, yaitu pandangan pesimistis bahwa kerusakan bumi sudah terlalu parah sehingga upaya penyelamatan dianggap tidak lagi berarti.
Baca Juga: Ndalem Gondosuli, Rumah Bangsawan yang Menjadi Saksi Perjalanan Kampung Batik Laweyan
Fenomena ini bukan berarti masyarakat tidak peduli terhadap lingkungan. Sebaliknya, banyak orang justru memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perubahan iklim. Akan tetapi, ketika informasi yang diterima hanya menonjolkan ancaman, rasa peduli tersebut dapat berubah menjadi kecemasan, ketidakberdayaan, bahkan hilangnya keyakinan terhadap masa depan.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai climate anxiety, yaitu kecemasan yang muncul akibat kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim.
Di Indonesia, dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa peningkatan suhu udara, perubahan pola musim, serta meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem merupakan konsekuensi nyata dari perubahan iklim global.
Baca Juga: Jejak Sejarah Kampung Kemlayan Solo: "Sarangnya" Para Maestro Seni Dan Budaya
BMKG juga menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, kesehatan, dan ekonomi, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental masyarakat. Rasa cemas yang terus-menerus terhadap masa depan bumi berpotensi menimbulkan kelelahan emosional, stres, hingga menurunnya optimisme terhadap kehidupan.
Narasi pesimistis mengenai masa depan kemudian memengaruhi cara sebagian masyarakat mengambil keputusan. Ketika seseorang mulai percaya bahwa masa depan penuh ketidakpastian dan dunia sedang menuju krisis yang tidak dapat dihindari, muncul kecenderungan untuk lebih mengutamakan kepuasan jangka pendek dibandingkan perencanaan jangka panjang.
Baca Juga: Asa Usul Kampung Ngebrusan Solo: Permukiman Kolonel-Kolonel Belanda
Dalam ilmu ekonomi perilaku, kondisi tersebut dikenal sebagai present bias, yaitu kecenderungan memilih manfaat yang dapat dinikmati saat ini daripada keuntungan yang baru diperoleh di masa depan. Apabila pola pikir ini berkembang luas, kebiasaan menabung, berinvestasi, maupun merencanakan masa depan dapat ikut terpengaruh.
Namun demikian, para ahli mengingatkan bahwa kecemasan terhadap perubahan iklim tidak boleh berubah menjadi keputusasaan. Kepala BMKG, Prof. Dwikorita Karnawati, menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi melalui penguatan mitigasi dan adaptasi.
Menurutnya, penyampaian informasi mengenai perubahan iklim harus berbasis sains agar masyarakat memahami besarnya risiko tanpa kehilangan harapan. Dwikorita menilai bahwa edukasi yang disertai solusi akan jauh lebih efektif dibandingkan narasi yang hanya menekankan ancaman, karena masyarakat perlu diyakinkan bahwa tindakan kolektif masih mampu mengurangi dampak perubahan iklim.
Pandangan serupa disampaikan oleh Prof. Dr. Emil Salim, ekonom lingkungan dan tokoh pembangunan berkelanjutan Indonesia. Emil Salim berpendapat bahwa perubahan iklim memang menjadi ancaman besar bagi kehidupan manusia, tetapi pesimisme bukanlah jalan keluar.
Menurutnya, tantangan lingkungan harus dijawab melalui perubahan pola pembangunan, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Dia menekankan bahwa harapan terhadap masa depan hanya dapat dipertahankan apabila setiap pihak bersedia mengambil bagian dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim.
Baca Juga: Tahukah Anda? Kampung Kestalan Solo Dulunya Kandang Kuda Mangkunegaran
Pandangan para ahli tersebut sejalan dengan hasil penelitian internasional yang dipublikasikan dalam The Lancet Planetary Health. Penelitian terhadap 10.000 responden muda di sepuluh negara menunjukkan bahwa banyak anak muda merasa cemas terhadap perubahan iklim dan menganggap pemerintah belum melakukan tindakan yang memadai.
Meski demikian, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa masa depan telah berakhir. Sebaliknya, para peneliti menekankan pentingnya membangun kepercayaan publik melalui kebijakan yang nyata, komunikasi yang jujur, dan langkah-langkah adaptasi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pemerintah Indonesia sendiri terus mendorong berbagai kebijakan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui Kementerian Lingkungan Hidup, BMKG, serta implementasi dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) sebagai komitmen Indonesia dalam menekan emisi gas rumah kaca.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan persoalan yang dibiarkan tanpa solusi, melainkan tantangan yang sedang dihadapi melalui kebijakan, inovasi teknologi, serta kerja sama berbagai pihak.
Pada akhirnya, ancaman terbesar dari climate doomism bukanlah perubahan iklim itu sendiri, melainkan hilangnya keyakinan bahwa masa depan masih dapat diperbaiki.
Ketika masyarakat berhenti percaya pada solusi, mereka cenderung berhenti bertindak. Sebab itu, komunikasi mengenai perubahan iklim harus mampu menjaga keseimbangan antara menyampaikan fakta ilmiah dan membangun harapan.
Sebab, harapan bukanlah bentuk penyangkalan terhadap krisis, melainkan energi yang mendorong manusia untuk terus mencari solusi. Di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks, optimisme yang didukung ilmu pengetahuan justru menjadi modal terpenting untuk menjaga masa depan.
Editor : Kabun Triyatno