Crab Mentality: Semua Ingin Berhasil, Tapi Mengapa Sulit Melihat Orang Lain Sukses?

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 20:01 WIB
Crab Mentality. (generated AI)
Crab Mentality. (generated AI)

SOLOBALAPAN.COM - "Kok sekarang berubah, ya?"

"Baru segitu saja sudah dipamerkan."

"Jangan terlalu semangat, nanti juga capek sendiri."

Kalimat-kalimat semacam ini mungkin pernah kita dengar. Bahkan, bisa jadi pernah kita ucapkan tanpa berpikir panjang. Sekilas terdengar seperti candaan atau komentar biasa.

Namun, jika terus diulang, ucapan semacam itu dapat menjadi cara halus untuk mematahkan semangat seseorang yang sedang berusaha berkembang.

Baca Juga: Brain Rot: Ketika Internet Mengubah Pola Berpikir Manusia

Fenomena tersebut dikenal sebagai crab mentality, istilah yang diambil dari perilaku kepiting di dalam ember.

Konon, ketika satu kepiting mencoba memanjat keluar, kepiting lain akan menariknya kembali hingga tidak ada satu pun yang berhasil lolos.

Analogi ini kemudian digunakan untuk menggambarkan kecenderungan manusia yang merasa tidak nyaman melihat orang lain melangkah lebih jauh.

Baca Juga: Mengenal Hantavirus: Gejala Serius hingga Risiko Kematian 60%, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Hidup Bersih

Yang menarik, crab mentality tidak selalu lahir dari kebencian. Justru, ia sering muncul dari orang-orang yang paling dekat.

Teman yang tiba-tiba berubah sinis ketika kita mendapat pekerjaan baru. Rekan kerja yang menganggap seseorang "cari muka" hanya karena bekerja lebih giat.

Tetangga yang lebih sibuk membicarakan usaha orang lain daripada mendukungnya. Bahkan, keluarga sendiri terkadang tanpa sadar menganggap mimpi yang terlalu besar sebagai sesuatu yang perlu "diturunkan ke bumi".

Fenomena ini semakin mudah ditemukan di era media sosial.

Hampir setiap hari kita melihat orang mengunggah kabar bahagia, mulai dari wisuda, diterima bekerja, berhasil menurunkan berat badan, hingga konten yang akhirnya viral setelah bertahun-tahun mencoba.

Di saat yang sama, kolom komentar juga memperlihatkan sisi lain. Ada yang ikut merayakan, tetapi tidak sedikit yang justru sibuk mencari celah untuk meremehkan.

Menariknya, komentar negatif sering kali tidak menyerang pencapaiannya, melainkan prosesnya. "Pasti karena orang dalam." "Modalnya banyak." "Kalau aku juga punya uang, pasti bisa."

Kalimat-kalimat tersebut seolah menjadi jalan pintas untuk menjelaskan keberhasilan orang lain tanpa perlu mengakui bahwa mereka mungkin memang bekerja keras.

Baca Juga: Apa Itu Major Depressive Disorder? Alasan di Balik Pamitnya Reza Arap dari Dunia Streaming, Kini Fokus Pemulihan

Padahal, keberhasilan seseorang tidak pernah mengurangi peluang orang lain untuk berhasil.

Dunia kerja tidak menjadi sempit hanya karena teman kita mendapat promosi. Kesempatan membangun usaha tidak hilang hanya karena ada orang lain yang lebih dulu sukses.

Namun, ketika keberhasilan dipandang sebagai perlombaan yang hanya bisa dimenangkan segelintir orang, pencapaian orang lain terasa seperti ancaman.

Di sinilah crab mentality berkembang. Alih-alih bertanya, "Apa yang bisa kupelajari dari keberhasilannya?", kita justru lebih mudah bertanya, "Bagaimana kalau ternyata dia tidak sehebat itu?" Fokus berpindah dari memperbaiki diri menjadi mencari kelemahan orang lain.

Ironisnya, budaya ini sering dibungkus dengan alasan yang terdengar bijaksana. Ada yang mengaku hanya ingin mengingatkan agar seseorang tidak sombong.

Ada pula yang berdalih sekadar bercanda. Padahal, candaan yang terus meremehkan dapat mengikis rasa percaya diri, terutama bagi mereka yang sedang merintis sesuatu dari nol.

Tidak sedikit mimpi yang akhirnya berhenti bukan karena kekurangan kemampuan, melainkan karena terlalu sering mendengar bahwa usahanya tidak akan berhasil.

Tentu saja, bukan berarti semua kritik adalah bentuk crab mentality.

Baca Juga: Bye-bye Insomnia! 6 Bahan Alami Ini Dijamin Bikin Kamu Tidur Cepat dan Nyenyak Tanpa Obat Kimia

Kritik yang baik membantu seseorang melihat kekurangan dan berkembang menjadi lebih baik. Sebaliknya, crab mentality hadir ketika tujuan utamanya bukan memberi masukan, melainkan memastikan orang lain tidak melangkah lebih jauh daripada diri kita.

Mungkin karena itulah pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah kita pernah menjadi korban crab mentality, melainkan apakah kita pernah menjadi pelakunya.

Pernahkah kita merasa kesal melihat teman berkembang lebih cepat? Pernahkah kita mengecilkan pencapaian orang lain agar diri sendiri terasa lebih baik? Atau jangan-jangan, tanpa sadar kita pernah menjadi orang yang menarik "kepiting" lain kembali ke dasar ember?

Pada akhirnya, keberhasilan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Kesuksesan orang lain tidak mengurangi nilai diri kita, begitu pula kegagalan mereka tidak akan membuat kita otomatis lebih unggul.

Jika ada satu hal yang layak ditiru dari keberhasilan seseorang, itu bukan hasil akhirnya, melainkan keberanian mereka untuk tetap melangkah meski mungkin harus menghadapi orang-orang yang berusaha menariknya kembali ke bawah. (rastri rafiarum/fer)

Editor : Ferry Ardi Susanto
crab mentality iri kesuksesan teman mental