Sebelum Merah Putih One for All, Indonesia Sudah Punya Si Huma Sejak 1983

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 13:03 WIB
Tayang di TVRI pada 1983, Si Huma buatan PPFN dan UNICEF menjadi tonggak sejarah animasi Indonesia sebelum Merah Putih One For All.
Tayang di TVRI pada 1983, Si Huma buatan PPFN dan UNICEF menjadi tonggak sejarah animasi Indonesia sebelum Merah Putih One For All.

SOLOBALAPAN.COM – Sebelum anak-anak Indonesia mengenal animasi 3D dengan gambar serba digital, layar TVRI ternyata sudah pernah menghadirkan serial animasi buatan dalam negeri. Namanya Si Huma.

Serial yang tayang pertama kali pada 30 Maret 1983 ini mungkin terdengar asing bagi generasi sekarang. Padahal, Si Huma tercatat sebagai salah satu tonggak awal animasi Indonesia dan sudah membawa cerita tentang kehidupan anak, lingkungan, hingga persoalan sosial lebih dari 40 tahun lalu.

Menariknya, nama Si Huma kembali diperbincangkan ketika publik pada 2025 ramai membahas film animasi Merah Putih One for All. Film tersebut diketahui mengangkat cerita delapan anak dari berbagai suku yang berusaha menemukan bendera Merah Putih yang hilang.

Baca Juga: 5 Superfood Indonesia yang Diakui Dunia, Sering Dikonsumsi tapi Jarang Disadari

Di tengah perdebatan mengenai film animasi tersebut, Si Huma justru mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki pengalaman membuat animasi untuk anak sejak era 1980-an.

Si Huma Bukan Sekadar Kartun Anak

Si Huma diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN) dengan dukungan UNICEF dan ditayangkan melalui TVRI pada 1983 hingga 1984. Tokoh utamanya adalah Huma, seorang anak yang memiliki teman imajinatif bernama Windi.

Keduanya menjelajahi dunia fantasi dan bertemu dengan berbagai karakter. Namun, petualangan tersebut tidak hanya dibuat untuk menghibur.

Salah satu episode yang tercatat dalam arsip ANRI berjudul “Tamak”. Dalam episode itu, Huma dan Windi bertemu dengan tokoh Si Hidung Panjang yang terlalu rakus ketika menemukan makanan. Ceritanya kemudian berujung pada konsekuensi dari sifat tamak tersebut.

Baca Juga: Jelang Festival Kue Bulan 2026, Kenali Makna Mooncake hingga Legenda Dewi Bulan

Ada pula episode “Embun” yang mengangkat persoalan kebersihan lingkungan dan pencemaran air. Pesan mengenai kesehatan, kebersihan, serta kepedulian terhadap lingkungan disampaikan melalui petualangan Huma dan Windi.

Jadi, kalau sekarang kita mengenal animasi anak yang menyelipkan pelajaran dari cerita sehari-hari, konsep seperti itu sebenarnya bukan hal baru di Indonesia.

Dibuat Manual, Satu Episode Bisa Berhari-hari

Yang membuat produksi Si Huma semakin menarik adalah teknologi yang tersedia pada masa itu.

Pembuatan animasi masih dilakukan secara manual. Karakter digambar, diwarnai, kemudian diproses di Studio PPFN. Sumber Merdeka mencatat pembuatan animasi tersebut melibatkan lima animator, dengan peralatan seperti kertas gambar, kuas, dan cat air. Dua animator yang dilibatkan bahkan merupakan lulusan sekolah animasi di Jepang selama enam bulan.

Setiap episode dirancang berdurasi sekitar 10 menit dan semula ditargetkan mencapai 26 cerita dalam satu tahun.

Arsip APBN 1984/1985 juga mencatat bahwa sepanjang 1983/1984 PPFN memproduksi 12 film animasi Si Huma.

Angka tersebut menunjukkan satu hal: membuat animasi secara manual pada masa itu jelas bukan pekerjaan sederhana.

Ceritanya Dekat dengan Kehidupan Anak

Di sinilah Si Huma terasa menarik untuk dilihat kembali.

Cerita yang dibawa tidak selalu membutuhkan misi besar. Huma dan Windi bisa membicarakan lingkungan, kesehatan, persahabatan, pembangunan, hingga persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Penelitian mengenai Si Huma bahkan mencatat bahwa tema serial ini berkaitan dengan kemajuan bangsa, pembangunan, lingkungan hidup, dan masalah sosial.

Konsep tersebut membuat Si Huma terasa seperti tontonan anak yang mengajak penonton mengenal dunia di sekitarnya melalui cerita.

Bukan berarti Si Huma harus dibandingkan secara langsung dengan animasi masa kini. Teknologi, tujuan produksi, durasi, dan kondisi industri sudah sangat berbeda.

Namun, keberadaannya menunjukkan bahwa jauh sebelum animasi Indonesia memiliki teknologi digital yang semakin maju, pembuat film dalam negeri sudah berusaha mencari cara untuk membuat cerita anak yang menghibur sekaligus membawa pesan.

Lebih dari 40 tahun kemudian, Si Huma mungkin memang sudah menjadi bagian dari arsip. Tetapi ketika animasi Indonesia kembali ramai diperbincangkan, rasanya menarik untuk menengok sebentar ke belakang.

Sebab, sebelum ada animasi modern yang tampil di layar lebar, Indonesia sudah lebih dulu punya Huma dan Windi yang mengajak anak-anak menjelajahi dunia mereka sendiri.

Editor : Inayah Choirunisa
Huma animasi indonesia anak