SOLOBALAPAN.COM – Jauh sebelum animator Indonesia terbiasa bekerja dengan komputer, software animasi, dan teknologi digital, ada Si Huma yang sudah hadir di layar TVRI pada 1983. Serial animasi produksi Pusat Produksi Film Negara (PPFN) tersebut dibuat ketika proses pengerjaan animasi masih mengandalkan keterampilan tangan dan peralatan sederhana.
Si Huma pertama kali tayang di TVRI pada 30 Maret 1983. Serial ini direncanakan memiliki 26 cerita dalam satu tahun, dengan durasi setiap episode sekitar 10 menit. Namun, di balik durasi yang singkat tersebut, proses membuat satu episode ternyata membutuhkan pekerjaan yang tidak sederhana.
Baca Juga: Doraemon dan Kawan-Kawan Kalau Jadi Anak Zaman Sekarang: Siapa Green Flag, Siapa Red Flag?
Tidak Ada Komputer, Gambar Dibuat Manual
Pada masa itu, produksi Si Huma masih dilakukan secara manual di Studio PPFN. Pembuatan karakter, pewarnaan, dan berbagai kebutuhan gambar dikerjakan menggunakan peralatan seperti kertas gambar, kuas, dan cat air.
Artinya, bagian visual yang kini dapat dibuat dengan bantuan perangkat lunak harus dikerjakan langsung oleh para pekerja animasi. Setiap gambar menjadi bagian penting untuk menghasilkan gerakan ketika animasi diputar.
Sumber yang membahas proses produksi Si Huma menyebutkan bahwa timnya melibatkan animator dan tenaga lain yang mengerjakan berbagai tahapan secara manual. Dua animator yang dikontrak PPFN bahkan merupakan lulusan sekolah animasi di Jepang setelah menjalani pendidikan selama enam bulan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan teknologi bukan berarti Indonesia tidak memiliki upaya untuk mempelajari teknik animasi. Justru, PPFN mendatangkan tenaga yang memiliki pengalaman pendidikan animasi untuk mendukung pengerjaan serial tersebut.
Baca Juga: Chibi Maruko-chan Ternyata Terinspirasi dari Kisah Masa Kecil Sang Penulis, Lho
Ceritanya Dibuat Dulu, Baru Diterjemahkan ke Gambar
Proses pembuatan Si Huma juga tidak langsung dimulai dari menggambar karakter. Cerita anak-anak terlebih dahulu dituangkan ke dalam skenario.
Namun, sistem penyusunan skenario untuk film kartun pada masa itu memiliki perbedaan dengan film biasa. Gambar atau sketsa yang dibuat oleh seniman menjadi bagian penting dalam proses sebelum dialog disusun.
Dalam proses animasi manual, pekerjaan menggambar menjadi sangat menentukan karena rangkaian gambar tersebut nantinya digunakan untuk menciptakan ilusi gerak.
Karena itu, membuat animasi bukan sekadar menggambar satu karakter lalu membuatnya bergerak. Ada rangkaian pekerjaan visual yang harus disiapkan sebelum hasil akhirnya dapat ditampilkan di layar.
Satu Episode Bisa Memakan Waktu Lama
Meski setiap episode Si Huma hanya berdurasi sekitar 10 menit, pengerjaannya membutuhkan waktu jauh lebih panjang.
Salah satu kajian mengenai sejarah Si Huma menyebutkan bahwa satu episode dapat menghabiskan sekitar 40 hari produksi. Proses tersebut mencakup berbagai pekerjaan mulai dari penulisan cerita, penggambaran, hingga penyelesaian audio dan visual.
Jika dibandingkan dengan target awal sebanyak 26 cerita dalam setahun, proses tersebut menunjukkan besarnya pekerjaan yang harus dilakukan oleh tim produksi.
Tidak mengherankan jika produksi animasi pada masa itu membutuhkan tenaga dan biaya yang besar. Pemerintah bahkan mencatat bahwa pada 1983/1984 PPFN memproduksi 12 film animasi Si Huma, selain berbagai produksi lainnya seperti Boneka Si Unyil dan film dokumenter.
Baca Juga: Ini 5 Bahasa dengan Sistem Tulisan Paling Unik di Dunia
Bukan Cuma Soal Menggambar
Hal menarik dari Si Huma adalah proses produksinya menunjukkan bahwa animasi sejak dulu membutuhkan kerja banyak orang dengan keahlian berbeda.
Ada yang menangani cerita dan skenario, ada animator yang mengerjakan gambar, ada tenaga pewarnaan, kamera, pengisi suara, hingga bagian produksi lainnya. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), misalnya, mencatat sejumlah nama dan posisi dalam produksi episode Tamak, termasuk sutradara, penulis skenario, animator, juru kamera, pemeran, dan pengisi suara.
Jadi, ketika Si Huma muncul di layar televisi selama sekitar 10 menit, proses di belakangnya sebenarnya melibatkan pekerjaan yang jauh lebih panjang.
Kenapa Si Huma Akhirnya Berhenti?
Keterbatasan tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan produksi. Si Huma hanya bertahan hingga 1984, sekitar satu tahun setelah pertama kali tayang. Salah satu sumber menyebut produksi serial tersebut terkendala biaya.
Hal ini memperlihatkan salah satu tantangan besar produksi animasi pada masa itu. Membuat animasi membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit, sementara teknologi yang tersedia belum mampu mempercepat proses seperti sekarang.
Meski demikian, Si Huma tetap menjadi bagian penting dalam sejarah animasi televisi Indonesia. Serial tersebut memperlihatkan bahwa lebih dari empat dekade lalu, animator Indonesia sudah mengerjakan produksi animasi untuk televisi dengan kemampuan dan teknologi yang tersedia pada zamannya.
Kini, ketika animasi dapat dibuat menggunakan komputer dan berbagai perangkat digital, prosesnya mungkin terlihat jauh lebih praktis. Namun, Si Huma menjadi pengingat bahwa sebelum teknologi tersebut tersedia, setiap gerakan karakter di layar harus melewati proses manual yang panjang dan dikerjakan oleh tangan manusia.
Editor : Inayah Choirunisa