SOLOBALAPAN.COM - Di balik gemerlap lampu panggung, tak semua senyum lahir dari hati yang sedang baik-baik saja.
Ada kalanya seorang seniman harus berdiri di hadapan ribuan penonton, sementara di dalam dirinya masih menyimpan duka yang belum sempat reda.
Momen itulah yang baru-baru ini diperlihatkan Denny Caknan saat manggung di Hari Jadi Ke-668 Kabupaten Ngawi, 11 Juli 2026.
Saat membawakan lagu Cundamani, beberapa kali Denny Caknan menyeka air mata.
Bahkan sempat berjalan ke bagian belakang panggung untuk mengambil tisu, sebelum kembali melanjutkan penampilannya hingga lagu usai.
Usai manggung, Denny mengunggah potongan video penampilannya melalui akun Instagram pribadi. Dalam unggahan itu, dia menyisipkan kalimat sederhana yang menyiratkan rasa kehilangan mendalam.
"Seng sabar pak. Swargi langgeng Opa Cunda, kenangan jenengan teng lagu niki abadi," tulis Denny.
Postingan tersebut tak lain ditujukan kepada mendiang ayah mertuanya, Agus Hutomo, yang tak lain ayahanda Bella Bonita.
Agus Hutomo meninggal dunia sehari sebelum Denny Caknan manggung, tepatnya pada 10 Juli 2026.
Nah, postingan di Instagram tersebut seolah menegaskan bahwa lagu Cundamani bukan sekadar bercerita soal kisah cinta Denny dan Bella.
Lebih dari itu, Cundamani menjadi ruang yang selalu menyimpan kenangan mendalam tentang sosok Agus Hutomo di keluarga besar mereka.
Praktis unggahan itu dibanjiri komentar warganet yang mengapresiasi sikap profesional Denny. Banyak yang ikut terharu melihatnya tetap memenuhi tanggung jawab manggung di tengah suasana duka.
"Padahal lagi berduka, tapi profesional banget, keren banget," tulis salah satu warganet di kolom komentar.
Sikap dan gestur Denny Caknan menunjukkan bahwa profesionalisme bukan berarti menyingkirkan kesedihan atau berpura-pura tegar.
Justru ia tetap memperlihatkan sisi manusiwi lewat tetesan air mata yang tak terbendung di atas panggung. Bukti hormat seorang anak menantu kepada mertuanya yang sudah tiada.
Pada akhirnya, air mata di atas panggung itu menjadi pengingat bahwa di balik sosok publik yang menghibur banyak orang, ada manusia biasa yang sedang kehilangan dan berduka.
Dan mungkin, di situlah makna profesionalisme yang sesungguhnya. Tetap menjalankan tanggung jawab tanpa harus mengingkari perasaan yang dimiliki. (ras/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto